Rabu, 14 September 2022

Artikel Budaya Positif Menumbuhkan Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pembelajaran yang Bermakna

Pembelajaran yang berlangsung di kelas maupun di sekolah tidak hanya dilihat dari kesuksesan murid dalam nilai akademik yang memuaskan atau tinggi. Perubahan sikap murid yang lebih baik juga mempengaruhi kesuksesan pembelajaran tersebut. Oleh karena itu, perlulah penanaman nilai-nilai kebajikan di setiap proses pembelajaran. Nilai-nilai kebajikan yang dimaksud berupa toleransi, rasa hormat, integritas, mandiri, menghargai, antusias, empati, keingintahuan, kreativitas, kerja sama, percaya diri, dan komitmen dan sebagainya.

Terjalinnya interaksi antara pendidik dengan murid atau dengan warga sekolah lainnya menciptakan prilaku-prilaku yang perlu diperhatikan. Pendidik maupun murid harus memiliki sikap yang patut untuk diteladani sehingga tercipta lingkungan yang positif. Hal yang bisa diterapkan oleh pendidik adalah dengan menanamkan nilai kebajikan tersebut dalam pembelajaran bermakna.

Pembelajaran bermakna dimaksudkan berupa kegiatan belajar yang langsung bisa dirasakan oleh murid saat belajar. Pembelajaran yang membuat aktif lebih banyak panca indera murid dalam bentuk tindakan yang positif. Pengaruh dari pembelajaran yang bermakna akan menghasilkan informasi yang lebih lama diingat oleh peserta didik, informasi yang baru dibangun akan memudahkan proses belajar selanjutnya dan terbentuknya struktur pengetahuan yang baru.

Berdasarkan hal di atas, nilai-nilai kebajikan yang terimplementasikan dalam pembelajaran bermakna dapat ditumbuhkan atau didukung dengan budaya positif. Hal itu merupakan strategi yang tepat untuk menumbuhkan lingkungan positif untuk murid agar terasa nyaman dan aman dalam belajar. Pendidik dapat pula melakukan berbagai upaya dan refleksi serta menerapkan praktik disiplin dengan konsep budaya positif dalam rangka mewujudkan merdeka belajar.

Budaya positif meliputi 6 hal yaitu perubahan paradigma stimulus respon, konsep disiplin positif, keyakinan kelas, pemenuhan lima kebutuhan dasar manusia, lima posisi kontrol, dan segitiga restitusi. Dalam Aksi nyata modul 1.4 yaitu penerapan budaya positif  di kelas dan implementasi pemahaman konsep kepada rekan sejawat terangkum dalam link video berikut https://youtu.be/8bYdigf40NM.

Perubahan paradigma stimulus respon, membangun budaya positif di sekolah agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab.

                                           

Gambar 1 Perubahan paradigma stimulus respon

Konsep disiplin positif, mendasarkan tindakan murid-murid pada nilai-nilai kebajikan universal. Tiga Motivasi Perilaku Manusia yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.

                                     

Gambar 2 Konsep disiplin positif

Keyakinan kelas, dibentuk berisi peraturan-peraturan yang bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan pada umumnya, yang lebih rinci dan konkrit. Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas dengan berpendapat dan bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.

                                        

Gambar 3 Keyakinan Kelas

Pemenuhan lima kebutuhan dasar manusia, kebutuhan dasar yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Gambar 4 Lima kebutuhan dasar manusia

Lima posisi kontrol, melalui serangkaian riset dan bersandar pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Orang Merasa Bersalah, Teman, Monitor (Pemantau) dan Manajer.

                                           

Gambar 5 Lima posisi kontrol

Segitiga restitusi, tahapan segitiga restitusi yaitu menstabilkan identitas (kita akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan),  validasi tindakan yang salah (semua perilaku memiliki alasan),dan menanyakan keyakinan (kita semua memiliki motivasi internal).

https://youtu.be/-8m0AwC4o8o

Link video penerapan segitiga restitusi

       Implementasi konsep-konsep inti budaya positif ini disampaikan kepada rekan sejawat dalam bentuk desiminasi. Hal- hal positif saat budaya positif ini diterapkan antara lain bagaimana mencipatakan displin positif dengan membedakan hukuman, penghargaan, dan konskuensi. Selain itu juga bagaimana membuat keyakinan kelas bersama murid. Pendidik memposisikan diri sebagai apa dalam menghadapi permasalahan murid melalui posisi kontrol dan segitiga restitusi dengan memenuhi kebutuhan dasar murid. Peserta desiminasi dapat memberi tanggapan dan berkolaborasi jika akan menerapkan budaya positif dalam kelas mereka.

                                           

     Gambar 6 Desiminasi Budaya Positif Moda Daring Gmeet

      Dengan menerapkan konsep budaya positif akan ada proses perubahan perilaku berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang menjadi hasil latihan dan pengalaman murid. Budaya positif akan menghasilkan pembelajaran yang bermakna apabila setiap komponen konsep dilaksanakan dan disesuaikan dengan kondisi, maka tumbuhlah nilai-nilai kebajikan dalam diri murid yang akan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Selasa, 03 Mei 2016

Naskah Teater




MARTINAH

Oleh Danang Sutowijoyo


SIPNOSIS:
Cerita ini berlatar belakang seoarang wanita tua yang dulunya hanya seorang gadis desa miskin. Namanya, Martinah. Martinah putus sekolah dan harus bekerja menjadi seorang babu. Namun itu, menjadi masa lalu Martinah. Dalam teater ini Martinah menjadi sosok yang membela kaumnya, terutama anak-anak perempuan di desanya yang berada di kawasan sekitar pasar. Martinah berpikir dan bertindak agar gadis-gadis pasar itu bisa meraih masa depan yang cemerlang bukan hanya bekerja di pasar. Martinah menyerukan kelak mereka tidak hanya di dapur saja. Martinah yang dulu kalah dengan ekonomi dan terbungkam oleh uang, kini dia akan berganti menyekap uang agar tidak membatasi pendidikan mereka. Martinah akan menjadikan mereka orang yang berguna dan sejajar dengan orang-orang lainnya. …………….



PEMAIN:
1.    Martinah                    (50 tahun, Wanita tua penyayang, tegardan peduli)
2.    Ranti                          (14 tahun, gadis pintar dan bersemangat belajar)
3.    Yono                          (32 tahun, laki-laki yang sinis dan pesimis)
4.    Doni                           (25 tahun, laki-laki pengangguran yang kejam)
5.    Susi                            (13 tahun, gadis polos lemah dan penurut)
6.    Pak Cahyo               (30 tahun, pria Cina pedagang di pasar)
7.    Rani                           (14 tahun, gadis peduli dengan sesama)
8.    Pak Darmo               (40 tahun, laki-laki berwibawa)
9.    NARATOR


SETTING
(SUASANA MENCEKAM (backsound hujan disertai petir) DI TENGAH PANGGUNG DENGAN LAMPU SOROT TERFOKUS PADA NARATOR)

Hidup hal terindah di dunia ini. Hidup tak berarti, tanpa ilmu kehidupan. Cadasnya siang, lembutnya malam, terangnya fajar, saksi kerinduan kehidupan, di alam fana ini. Itulah siklus yang harus kujalani, untuk menantang kehidupanku.

(SUASANA SAKRAL DENGAN DISERTAI LAGU JAWA MACAPAT DAN LAMPU SOROT TERANG REDUP TERFOKUS PADA MARTINAH DI TENGAH PANGGUNG.)

Monolog Martinah:
“Aku Martinah, hanya gadis polos, yang hanya tau soal babu. Cuci, masak, bersih-bersih. Apalagi ! Entahlah! Gadis remaja bekerja untuk seteguk air. Aku berheti menulis, aku berhenti membaca, aku berhenti bicara, aku telah terlucuti dari cita-cita.”

“Aku tersiksa. Aku menderita. Aku tak berdaya. “
Hanya karena satu benda yang dinamakan uang. Benda yang hanya diam, tetapi membugkam langkahku. Itu semua telah berakhir. Kini takdirku tak akan terulang pada anak cucuku di negara ini.”

(MARTINAH DAN RANTI DUDUK DI KURSI DINGKLIK DENGAN KONDISI MALAM YANG HUJAN. LAMPU SOROT DENGAN CAHAYA REDUP MENYINARI RUANG )

Adegan I
Malam yang tenang di rumah tua ujung jalan pertokoan kota Ngawi dekat pasar. Dua orang duduk di sebuah “dingklik” saling berbincang di depan rumah yang hanya berdindingkan “gedek”.

Ranti              : Mbah Mar, aku harus apa? Jalan apa yang harus aku ambil? Setiap hari aku
  harus pergi ke pasar. Memanggul karung untuk recehan. (bingung)
Martinah        :Tak kesal lah Ranti, kau harus memanggul, mengangkat, menyeret. Kau  
 tetaplah cucuku. Kau tak boleh berpikir macam itu. (menegarkan)
 Kau lihat bangunan-bangunan besar di tengah kota itu? (telunjuknya menunjuk 
 ke bangunan)
Ranti               : Iya Mbah, aku lihat setiap hari!
Martinah        : Bukankah disitu ada orang yang sama denganmu? (bertanya tegas)
Ranti               : Tapi, ku hanya anak rendahan! (merendah)
Martinah        : Aku akan berdirikan kau sejajar dengan mereka. (mengangkat telunjuk ke atas)

Adegan II
Disela-sela pembicaraan seorang lelaki paruh baya datang sambil membawa secangkir kopi keluar dari kamar. Dia lah Yono pria paruh baya yang tinggal bersama Martinah. Menghampiri Martinah dan Ranti.

Yono               : Halah, buat apa semangat macam itu? (mengejek, pelan-pelan berjalan
  mengitari Martinah dan Ranti sambil meniup kopinya)
Martinah        : Engkau tak paham dengan ini, Yono. Gadis seperti Ranti punya hak untuk
           meraih masa depan. (penuh keyakinan)
 Yono             : Entar akhirnya hanya di dapur. (sinis dengan duduk santai sambil menyruput
 Kopinya)
Martinah       : Masih banyak juga Ranti-ranti yang lain. Itu yang akan ku perjuangkan. (penuh
 keyakinan)

(SUASANA SEMANGAT DENGAN LAMPU SOROT TERFOKUS PADA MARTINAH DI TENGAH PANGGUNG DENGAN BACKGROUND RUMAH MARITNAH)

Monolog Martinah:
Aku, Martinah. Kehidupanku telah berubah. Bukan soal materi, bukan soal pakaian, bukansoal makanan. Aku menjadi revolusi bagi kaumku. Wanita tak hanya bersolek, tak hanya menunggu tungku tetap mengebul. Kami punya hak, kami punya kewajiban, kami punya rasa. Rasa merubah kehidupan. Dengan meniupkan roh pada anak cucuku.

(SUASANA PAGI DI RUMAH MARTINAH DISERTAI BACKSOUND PAGI)

Adegan III
Tetesan terakhir terjatuh di genting rumah tua itu. Pancaran pelangi tampak bercahaya di gelembung embun tersapu oleh terangnya fajar. Itulah kediaman Martinah. Dia bersiap melangkahkan kaki menuju tenda biru di belakang pasar.
Martinah menuju lokasi dan anak cucunya telah menanti. Di tengah perjalanan dekat pasar, dekat barang kardus-kardus bekas.  Dia bertemu teman Ranti/ Doni dan Susi. Doni laki-laki berjambang sedang memarahi adiknya Susi, Gadis kecil yang dipaksa untuk mengkais botol sampah sambil menangis.


Martinah        : Apa yang kamu lakukan pada adikmu itu? (berkata keras dan membentak)
Doni                : Diam, jangan ikut campur, dasar orang tua !! (kembali membentak martinah)
Martinah        : Jangan kurang ajar. Dia tak pantas mengerjakan hal seperti itu. (keras)
Susi                : Mbah, aku ingi belajar, aku tak mau............... (Menangis)
Martinah        : (mengangkat tubuh gadis itu) ayo aku antar kesekolah. Kau harus belajar!!!
  (tegas pelan)
Doni                : (menghempaskan badan martinah) arhgg!!!
Martinah        : (terlempar) aduhhh....!!!! ahhhh……….
Susi                : Mbah!!! (Menangis)
Doni                : (menangkap tangan dan menyeret susi) ayo!!!
Martinah        : Hentikan!!! Sudah cukup. Dia harus belajar. Akan aku perjuangkan. (tegas)

Adegan IV
Keramaian itu membuat warga pasar terhentak dan berlari ke tempat itu dan mendatangi tempat itu dan cucu mbah Martinah pun datang juga.

Pak Cahyo    : Ada apa ini??? (kaget dan bertanya-tanya)
Rani                : Enek opo to iki??? Kok yo tangis-tangisan. (Bingung)
Doni                : Pergi semua tidak ada urusan dengan kalian. (berkata kasar)
Rani                : Mbah Mar!! (berteriak sambil terperangah melihat Mbah Martinah jatuh di
                          belakang Doni)
Martinah        : Sudah cukup!!! Aku hanya ingin melihat anak cucuku ini jadi orang bukan
  hanya kuli, pemulung di pasar! (menangis tersedu-sedu)
Rani                : (membantu Martinah bangun) tenang dulu Mbah!!!

Adegan V
Suasana berubah tenang. Ditengah teriknya matahari Rani membawa martinah pulang dalam keadaan luka di bahunya. Keesokannya harinya saat matahari mulai menunjukkan muka, rumah tua ujung jalan pasar Ngawi itu dikerumuni orang. Dari kejauhan Ranti berjalan menuju rumah itu....lalu bertemu dengan seorang warga di jalan.

Ranti               :  Bendera kuning (bingung)
Pak Darmo    :  Itu.... itu.... ramai sekali, ada apa ya Nak?? (bertanya-tanya)
Ranti               : Entahlah aku tidak tahu, aku baru datang, tapi.... (bingung)
Pak Darmo    : Sepertinya ada yang meninggal (jelas)
Ranti               :Tidak mungkin, disitukan yang tinggal hanya....(berpikir Martinah
  meninggal, terasa sedih)

(SUASANA DUKA MENGHARUKAN DI RUANG TENGAH RUMAH MARTINAH DENGAN LAMPU SOROT FOKUS PADA RANTI DAN MARTINAH DISERTAI INSTRUMENTAL BIOLA GUGUR BUNGA)

Adegan VI
Ranti berjalan masuk ke rumah berdesakan dengan warga (Susi, Doni, Rani, Pak Cahyo dan Yono) dan melihat Martinah terbaring di atas tikar dan tertutup “jarik” di ruang tamunya.

Ranti               : (terhentak dan air matanya menetes) ...................tidak mungkin
Yono               : Aku memang tak sepaham, tapi aku percaya denganmu mbah...(matanya
  memerah)
Pak Darmo    : Sudah takdir wanita tua ini...
Ranti               : tapi... tapi....(air matanya menetes) ini aku berikan untuk mbah!!!! (terbata-bata
 sambil membawa surat)
Yono               : Apa itu…??? (mengambil surat itu dan membacanya lalu mengumumkannya
  Keras-keras isi surat itu)

Inti isi surat:
           Ranti dari ngawi akan mewakili Indonesia
     dalam rangka Olimpiade Internasional di Beijing.

(SUASANA HARU DENGAN LAMPU SOROT FOKUS PADA RANTI DISERTAI BACKSOUND BIOLA LAGU SEDIH)

Ranti               : Inilah mbahku (berkata pelan sambil tersedu-sedu)
Lihatlah.....lihatlah....inilah….. Mbahku… (tegas sambil menunjukkan sosok Martinah ke semua orang)
Mbah Martinah, Mbah yang memperjuangkan masa depan kami para gadis lingkungan kumuh. Beliau telah membuatku punya hak, punya kesempatan. (dengan kata yang keras dan marah)
Lihatlah inilah ……….. Mbah Martinah ku....(pelan dan penuh kepastian dan meneteskan air mata)

(DI TUTUP DENGAN INSTRUMENTAL GUGUR BUNGA)


-SELESAI-





BURAM “BUNGA RAMPAI”

PUTRA SURYA MENYINGSING KALA
MENAPAK TANGGA KESADARAN INSAN
API BERKOBAR MENUSUK RAGA
MELEBUR JIWA DALAM BUNGA RAMPAI