Jumat, 03 Juli 2015

Istana Di Atas Air Dan Cahaya Grojokan Langit

Edisi Telaga Sarangan dan Grojokan Tirtosari

         Minggu, 14 Juni 2015, Perjalanan kali ni menyiratkan arti, tak banyak kesempatan untuk bisa menikmati pengalaman ini. Meski hanya berdua saja perjalanan cukup menyenangkan, dikarenakan dari ketidaksengajaan menjadi peristiwa yang tidak akan terlupakan. Dengan rencana memperbaiki HP di sebuah Galeri HP di daerah Demangan kota Madiun.
 
  Berangkat dari Ngawi pukul 10. 00 WIB, langsung menuju tempat tujuan. Tak disangka sampai di sana hanya berlangsung selama 15 menit servicenya selesai. Kondisi masih siang sekitar pukul 11. 30 WIB, tentu saja bingung. Perjalanan jauh-jauh dan mumpung libur masak langsung pulang. Sambil dalam perjalanan, memikirkan suatu tempat untuk berwisata. Setelah beberapa refrensi tempat yang saling terlontar, diputuskan untuk pergi ke Telaga Sarangan kota Magetan.
      Perjalanan yang cukup jauh dari Madiun ke Magetan, tapi dengan tekad berdua hal itu semakin yakin dan semangat. Tak perlu susah untuk menemukan tempat wisata ini, hanya perlu mengikuti plang jalan disetiap perempatan jalan raya. Memasuki jalan raya di daerah sekitar Sarangan membuat minder. Seperti biasa, memang untuk medan jalanan yang menanjak dan tikungan apalagi daerah pegunungan membuat pesimis karena belum ahli…. Hehehhee
     Dengan sabar dan tertatih-tatih melawan medan jalan itu, akhirnya sampai juga di temapat tujuan. Sebelum masuk area Wisata harus membayar tiket Rp. 10. 000 per orang. Di sana sepeda motor di parkir dengan aman. Dengan berjalan kaki sambil menikmati keindahan telaga itu keputusan yang benar, meski sangat jauh dan melelahkan.
      ke Telaga Sarangan, rugi kalau tidak menuju air terjun Tirtosari. Letaknya di dekat Telaga Sarangan, untuk masuk ke kawasan itu harus membayar tiket Rp. 4000 per orang. Meski terlalu jauh untuk ke air terjun tetap saja pergi ke sana dengan jalan kaki. Sebenarnya sebelum naik ketanjakan tangga menuju air terjun bisa naik ojek, tapi jalan kaki jadi pilihan karena bisa melihat pemandangan pegunungan dan merasakan kesejukannya.
Ada cerita lucu saat berjalan, tiba-tiba ada seorang kakek yang berbicara tiba-tiba dan menuntun perjalanan sambil bicara soal keadaan jalan dan air terjun. Padahal tidak ada yang minta tapi terus saja mengikuti sambil terus bicara, saat berhenti beliau ikut berhenti…….ooooo ternyata tour guide…. hahahha ….yaudah saat diperjalanan ada mushola, diputuskan untuk sholat dhuhur dan ashar dijamak saja. Ternyata kakek itu masih ada, dengan bereyel-eyelan… hehehehe bahasa nyleneh.yah…dikasih aja uang Rp. 10. 000 dan dicukupkan sampai di situ saja karena nanti kalau sampai di tempat tujuan tambah mahal…hehehehe
      Sampai di tangga tanjakan nafas sudah mulai terengah-engah dan kembang kempis…. Maklum tak terbiasa.  Di sepanjang jalan ada penjual tongkat untuk membantu berjalan. Masih muda jadi tidak perlu, langsung saja jalan. Di tengah perjalanan berhenti sebentar untuk membeli minuman ringan dan berfoto-foto dengan background pegunungan yang menawan, seperti di luar negeri. Hehehehhe……. Minuman ringan dan pemandangan itu membuat tenaga kembali terisi karena gelak tawa yang menyegarkan. Wahhhh….. itulah ungkapan pertama saat tiba di air terjun.
   Air terjun sangat tinggi dan airnya sangat dingin. Tentu saja, selain menikmati keindahan dan pesonanya. Tidak lupa…et….tidak akan terlewatkan momen-momen itu untuk berfoto. Hehehehe… dengan kamera HP seadanya, berfoto-foto ria dengan berbagai pose. Sebenarnya ingin mandi, tapi tak bawa baju ganti jadi tak usahlaah. Di lokasi juga ada juru foto yang siap membantu pengunjung untuk mengabadikan momen di air terjun hanya dengan membayar Rp. 10. 000 per foto langsung cetak dan jadi, siap dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
     Hari semakin sore, turun dari air terjun dengan kaki agak pegal-pegal. Tiba di Telaga, makan dulu sate kelinci dengan Rp. 10.000 untuk 10 tusuk dan Rp. 2000 satu porsi lontong, sambil menikmati pemandangan telaga dan orang-orang yang berteriak-teriak saat naik boat berkeliling telaga. Selesai makan dilanjut beli souvenir baju bertuliskan Telaga Sarangan, kemudian oleh-oleh sayuran segar dan buah yang menarik, yaitu buah kesemek, ternyata buah itu enak seperti buah sawo. Kata pedagangnya, buah itu hanya panen di bualan Juni dan khasiatnya untuk menguatkan jantung.
     Sebelum pulang, masing foto-foto di gedung yang di bawahnya pemandangan alam sore hari yang menyejukan badan. Ternyata di parkiran hanya tinggal motor satu, tentu saja motor itu…. Hehehhehe tukang parkir bergurau akan meninggalkan tapi mereka setia dan menunggui. Karena parkir tutup jam 5 sore.
      Pulanglah ……… dan suasana sore membuat keinginan untuk berhenti sejenak di alun-alun Magetan. Lumayan segar saat di alun-alun. Berfoto-foto sampai magrhib, suasana semakin petang diputuskan untuk pulang. Ealah………saat pulang salah jalan, terus berputar-putar di magetan, dan justru salah jalan lagi. Kebingungan disertai rasa sedikit takut juga, soalnya nyasar dari Magetan kemudian ke Paneakan terus Traken  atau Tarakan jalan yang sangat jauh ternyata sampai ke tempat semula yaitu Demangan Madiun, tempat di mana galeri service HP….hah… berdua bergumam slah ambil perempatan saat di Magetan.
   Ya sudahlah… memang terjadi. Sampai jam 7 malam lebih sedikit diputuskan untuk makan malam di warung ayam goreng di pinggir jalan Madiun. Selesai makan pulanglah….. diperjalanan pulang masing saja ceroboh, bensin habis tapi masih beruntung karena bertepatan dan pas di dekat POM, meski harus dorong motor sebentar… hehehhehehe……. Akhirnya, sampai juga di Ngawi dan rumah masing-masing. Sampai rumah jam 9 malam lebilah…….

Benar-benar pengalaman yang menyenangkan, menakjubkan dan ceroboh tapi penuh gelak tawa …..hehehehhe


Kamis, 02 Juli 2015

Selaraskan Hidup Dalam Muhasabah Cakrawala

          Edisi Candi Ceto dan Watu Jonggol

         Kabut pagi mulai meleleh dari pucuk daun teh, berkelok-kelok menutupi setiap tikungan dan tanjakan di jalan yang menantang. Harum kesejukkan mengembun dalam kaca spion memburamkan retina mata yang berbinar. Cahaya langit telah menyibakan pandangan untuk menikmati keagungan Sang Kuasa yang telah menciptakan keindahan yang tak mungkin dibayangkan oleh setiap manusia.

         Itulah ungkapan yang bisa dikatakan mengenai perjalanan  bertafakur alam kali ini. Berawal dari seorang teman yang datang ke rumah dan mengajak untuk refreshing ke suatu tempat wisata alam daerah pegunungan di Karanganyar, perbatasan antara Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Tempat itu memang sudah lama ingin dikunjungi, tetapi  medan jalan yang tak memungkinkan jadi selalu gagal. Jalan untuk menuju tempat wisata tersebut memang sangat menantang.                                  Bayangkan saja, jalan yang menanjak dan penuh tikungan dengan jarak yang sangat jauh,  justru membuat tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi nanti. Tempat itu adalah Candi Ceto.
         Beruntung sekali, saat liburan puasa Ramadhan 1436 H dan puasa yang ke-12, tidak disangka-sangka seorang teman mengajak ke sana, keinginan untuk melihat peninggalan agama Hindhu yang perlu untuk dijaga sebagai warisan Negara dengan segala sejarahnya akan terpenuhi. Berangkat dari Ngawi langsung  melewati Jogorogo kemudian Ngrambe dan berlanjut ke Sine terus jalan di daerah Karanganyar. Selama perjalanan dan tiba di daerah Sine, pemandangan alam sudah mampu membelalakan mata untuk tidak memejamkan walaupun sebentar. Deretan bukit-bukit hijau, perkebunan teh dan kondisi serta aktivitas penduduk di daerah itu sungguh menakjubkan.

        Sampai di tempat  wisata Candi Ceto, kekaguman pandangan pertama telah terjadi saat melihat gerbang utama. Tiket masuk cukup Rp. 3000, per orang dan kita juga harus memakai kain kotak hitak dan putih seperti di Bali. Meski tidak tahu maksud menggunakkan kain itu, tapi itu pasti dimaksudkan untuk menghargai tempat dan agama masyarakat yang berada di sekitar Candi. Di dalam area candi banyak bangunan candi yang tersusun rapi dan menarik, terdapat relief manusia, patung dewa, serta candi tersebut juga merupakan tempat suci karena masih digunakan oleh masyarakat agama Hindhu untuk bersembahyang. Dari Candi Ceto bisa melihat desa-desa yang ada di bawahnya dan pemandangan alam  yang menyegarkan mata.
         Di Candi Ceto juga terdapat patung Dewi Saraswati, untuk masuk area ini perlu memabar tiket masuk RP. 1. 500 per orang. Jika ingin masuk di arena patung harus melepas alas kaki, Itu dimaksudkan untuk mengormati dan agar tempat tidak kotor. Tepat di bawah patung ada kolam kecil yang di dalamnya banyak koin. Koin itu mungkin dari pengunjung atau masyarakat setempat yag melemparkannya ke dalam kolam. Karena tidak tahu maksudnya jadi tidak melakukannya.
         Di samping area patung terdapat tempat suci yang berbentuk rumah dan dibalut dengan kain putih dan kuning,mungkin itu untuk pemujaan. Kemudian di sampinngnya terdapat juga sendang. Yaitu tempat mandi yang airnya atau sumber mata airnya tidak akan kering. Tempat itu juga dianggap suci oleh masyarakat sekitar. Setelah selesai di tempat itu, selanjutnya menuju Candi Kethek  yang letaknya sekitar dari 300 meter dari patung Dewi Saraswati, saat tiba di candi sayang tak bisa naik ke atas karena ada pagar pengahalang yang dipasang penjaga. Candinya memang tinggi dan masih kokoh dengan batu tersusun sangat rapi, serta di atasnya  terdapat rumah kecil sebagai tempat ibadah.
          Selesai di Candi Ceto, langsung berkunjung tempat wisata alam Watu Jonggol, di Sine, karena tempat itu dilewati saat pulang. Dipostingan sebelumya pernah ada cerita saat ke Jonggol, tetapi gagal dan justru pergi ke air terjun pengantin, heheeee….. kali ini beda, karena di bonceng jadi bisa melewati jalan yang menantang itu,,, hehehhehe
          Untuk masuk ke wisata Watu Jonggol, cukup dengan membayar tiket Rp. 4000 per orang. Saat tiba di tempat itu, termasuk dalam kondisi sepi. Mungkin saat puasa dan sudah sore. Watu Jonggol sangat menarik ada banyak tumpukan batu besar yang menjulang ke atas dan dialiri air menyerupai air terjun.  Kali ini airnya tidak terlalu deras karena musim kemarau. Di wisata ini juga ada kolam renang dewasa dan anak-anak, airnya sangat dingin dan sejuk, membuat badan segar kembali. Watu Jonggol juga punya mata air yang tak pernah kering, air tersebut menurut orang sekitar punya khasiat untuk membuat kemuliaanatau awet muda, namanya Tirta Kamuliyan dan yang lain ……… apa gitu, wahhhhh….. lupa.  Karena hanya melihat dan tak mencoba… sebenarnya masih banyak mata air lainnya, menurut penjaga di situ ada 7 titik mata air yang masing-masing punya khasiatnya sendiri.
           Wisata ini dibangun dengan apik dan menarik, ada beberapa patung hewan yang di buat di masing-masing tempat berbentuk taman bunga. Ada patung yang membuat menarik yaitu patung Naga yang ada di atas batu yang menjonggol. Untuk ke patung itu harus berjalan melewati tangga menanjak ke atas. Setelah sampai di atas ada pondok , dari pondok itu bisa foto-foto dengan patung naga yang menghadap ke langit, dari pondok itu juga dapat melihat pemandangan alam yang menakjubkan serta desa-desa yang ada di bawahnya.

Itulah perjalanan kali ini, selesai dari itu pulang dan persiapan untuk buka puasa…….


Maaf bila ada yang salah dan kurang, penulis hanya mengetahui apa yang dilihat dan pengetahuan yang standar….hehehehe