Jumat, 27 Mei 2011

LATIHAN MEMBUAT CERPEN


CATATAN KEGILAAN MASA REMAJA
( Pantsu Sebuah Rahasia Umum)
    Setelah bercumbu dengan ilmu – ilmu pengetahuan. Akhirnya, tepat puncak kegerahan suhu tubuhku meningkat dan butir – butir keringat mulai terbakar. Aku dan dua temanku bias pulang juga ke gubuk yang kami sewa. Setengah hari di sekolah belum menghentikan penderitaanku. Jadwal sekolah yang padat sserta kepenatan yang menghantui, membuatku terhipnotis dalam kelembutan malam. Meski harus tidur di pulau kapuk yang keras. Namun kunikmati disetiap sekaratku di ranjang. Ini bukan lagi sebuah imajinasi melainkan sebuah fantasi tingkat tinggi.
          Inilah penyiksaan sesungguhnya, saat bangun pagi badan ini seperti mumi yang hanya tersisa tulang dengan balutan tisu WC yang tipis disekujur tubuh. Lebih tepatnya penyakit osteoporosis stadium empat yang hanya disenggol sedikit langsung menggelepar di lantai. Bagaimana tidak ? ranjang kayu yang seharusnya unutk berdua, digunakkan oleh tiga orang. Kapuk – kapuk yang menyumpal kasur buluk ini sudah mengempes dalam lumatan akhir zaman. Sehingga bayanganku saat melihatnya hanya sekumpulan batu baja yang disusun rapi.
          Tak barbeda jauh dengan kedua teman satu kosku, Indra dan Bang Gibran. Subuh – subuh mereka mengeluh pegal – pagal diseluruh badan dan sulit untuk bangun. Bagiku ini menjadi sebuah pertunjukkan pantomim yang tidak boleh dilewatkan, karena cuma – cuma. Dan menjadi desert ku setiap subuh. Padahal Bang Gibran mempunyai orang tua yang kaya, rumahnya besar dan mewah, mobil pribadi dua, motornya ada empat dan yang paling hebat ayahnya seoarang pengusaha kain sutera. Sedangkan Indra mempunyai orang tua seorang guru besar sekaligus mempunyai persawahan yang luas. Kalau aku lebih dari mereka, bisa ditafsirkan dalam bentuk yang tak akan habis dihitung. Membuatku heran mengapa kita bisa kos di tempat ini. Tempatnya kumuh dan kamarnya kecil untuk bertiga tetapi keakraban antarpenghuni kos kuberi jempol empat. Karena belum tentu kudapat di Apartemen.
          Bang Gibran aku panggil abang, karena umurnya terpaut tiga tahun lebih tua dariku. Sebenarnya Indra juga lebih tua dariku, tetapi dia tidak mau dipanggil abang, takut terlihat tua. Kami bertiga satu sekolahan di SMA N 1 BROTOJOYO, sekolah favorit di kota ini. Bang Gibran kelas dua, aku dan Indra kelas satu bahkan satu kelas. Memang yang merekomondasikan aku di sini adalah Bang Gibran. Kalau Indra kukenal saat pertama kali masuk sekolah setelah masa MOS. Kami akrab, kemudian ia menceritakan sedang mencari kos, lalu kuajak ia di tempat kosku.sejak itu, aku, Indra dan Bang Gibran menjadi sudara bukan lagi sahabat.
          Inilah hari – hari yang kami tunggu. Pasalnya hari ini dan tiga hari selanjutnya kelas satu dan dua libur. Karena kelas tiga akan mengikuti Ujian Nasional 2008.
          
          ” Libur...! ,” teriakku
          ” Sekali lagi bersama – sama !,” suruh Bang Gibran
          ” Satu...dua...tiga...libur !,” teriak kami bertiga dengan menggebu – gebu
          
          Kami putuskan pagi ini akan jalan – jalan ke Mall alias ngeceng atau nongkrong sambil mengamati gadis – gadis dengan rok mini mereka. Sebelum berangkat kami selalu melakukan ritual aneh setiap pagi. Selesai mandi kami mengadakan sandiwara singkat kira – kira 10 – 15 menit. Ini sebuah sandiwara action, kami berperan sebagai super hero. Bang Gibran sebagai Batman, Indra sebagai superman dan aku sebagi spiderman. Kami bergulat satu sama lain hanya menggunakan celana dalam segitiga untuk mengilhami karakter itu. Tepatnya bukan super hero tetapi seperti pasukan Sparta di film 300, yang dibintangi oleh actor Skotlandia Gerard Butler yang berperan sebagai King Leonidas. 
            Entah kenapa kami sering membeli celana dalam atau boxer atau underwear atau pantsu.  Ya…Pantsu kami lebih senang menyebutnya dengan kata pantsu, karena semua celana dalam yang kami pakai mayoritas buatan Jepang. Sangking seringnya membeli, sampai – sampai tak terdeteksi jumlahnya. Itu membuat kebiasaan pada kami untuk mengganti pantsu setiap selesai mandi. Bukan berarti boros, ini sebuah rasa kepercayaan diri dari pantsu yang bersih dan mahal. Meskipun orang tidak tahu atau memang sebenarnya sudah tahu bahwa dibalik celana atau rok ada pantsu yang bersembunyi, itu jelas dipahami semua orang.
             “ Ayo berangkat !,” suruh Indra padaku dan Bang Gibran.

             Kami langsung menaiki motor. Kami mengendarai motor masing – masing kecuali aku. Tapi aku nebeng Bang Gibran dengan naik motor ninja-nya. Karena kali ini pacar Bang Gibran tidak ikut sedangkan Indra naik motor mio–nya sendiri. Sampailah kami di Mall yangn terkenal di kota ini. Saat masuk pintu Mall. Kami berlaga seperti tiga Pandhawa yang berdiri di singgahsana Ngastina yang megah. Sosok gagah, tampan, kekar dengan kulit agak – agak hitam atau kecoklatan dan suara lantang serta emosi yang mendadak meledak – ledak seperti Bima, tampak pada Bang Gibran. Kemudian wajah alim, tampan, tenang dan penuh perhitungan atau cerdas serta kedewasaan seperti Yudhisthira mampir pada diri Indra. Sedangkan sosok arjuna yang tampan, pintar, gagah dan lembut sehingga digandrungi gadis –gadis dapat dilihat pada diriku.
              Baru beberapa langkah kami langsung dikejutkan dengan segerombolan wanita yang merebutkan pantsu yang di obral dengan harga murah tetapi bermerk semua termasuk buatan dari Jepang. Di situ tidak hanya ibu – ibu saja, banyak juga gadis remaja yang berebut.

              ” Wow...ini hebat !,” kataku dengan pikiran picikku
              ” Apa ?,” tanya Indra
              ” Wa, wa, wah !,” seru Bang Gibran dengan mulut terbuka lebar dan mata melotot sambil menggelengkan kepalanya.
              “ Kenapa kalian ini ?,” Tanya Indra lagi dengan raut muka curiga pada kami.
       
              Sepertinya perekam video dalam syaraf otak kananku sudah di– on –kan. Bagaimana kalau aku berada di tengah – tengah mereka yang sedang bergelut di party pantsu itu. Pastinya aku akan mandi di kolam bola. Dengan ukuran yang berbeda – beda dan jenisnya ada bola pingpong, kasti, billiard, bola sepak serta bola basket dan bola – bola lainnya. Sungguh tak bisa dinyatakan lagi. Mungkin ini sama apa yang melintasi syahwat Bang Gibran. Secara tidak sadar, ternyata aku sudah berada di depan gerombolan itu. Aku berjalan sambil memutar perekam video itu sehingga tidak tahu kalau sudah di hadapan gerombolan itu. Aku langsung membalik badan…..

              “ Aww…sakit !,” teriakan di depan mukaku.
              Aku menabrak seorang gadis.
              ” Maaf !,” kataku
              ” Kau tidak apa – apa ?,” kata sekaligus tanyaku

              Dia hanya meringkih kesakitan. Tanpa berpikir panjang dan rasa bersalah yang ada. Aku nekad bertanya padanya di tempat itu juga.
    
               ” Apa kamu mau membeli itu ?,” tanyaku
              
               Dia hanya mengangguk, Indra dan Bang Gibran menahan – nahan tertawanya. Aku langsung berlari menerjang bola – bola yang menghantam muka dan badanku larut dalam party pantsu itu. Padahal aku tidak tahu ukurannya. Kudapat tiga pantsu dan kuberikan padanya. Di sinilah terjadi proses drama yang romantis antara aku dan gadis ini. Sambil kuangkat tanganku untuk memberikan pantsu ini, kuamati dia. Dan baru kusadari betapa cantiknya gadis ini. Perawakannya, kostumnya maupun cashingnya lekat sekali dengan remaja – remaja Jepang. Rambutnya hitam panjang sebahu, kulitnya putih susu yang baru diperas, matanya hitam kopi, hidungnya biasa tetapi menarik, bibirnya tipis dengan lipstik merah muda yang sensual dan lehernya yang jenjang serta tubuhnya itu akan membuat laki – laki terperangah. Dia memakai baju setengah jadinya dan rok mini yang hanya sebatas paha sehingga pantsu-nya tampak oleh mata, apalagi saat dia melangkahkan kaki dengan sepatu high heels –nya itu.
               Dia menghampiriku, mendekat sekali sampai bibirnya berada di ujung lubang telingaku dan dia mengucapkan...
               ” Terima kasih !,” dengan nadanya yang menggoda
               Kurasakan desahannya di telingaku, tercium wangi parfum sakura dari tubuhnya. Tubuhku langsung menggigil, merinding dan greges menimpaku. Dia meninggalkanku yang berdiri dan ku jawab perkataannya tadi...

               ” Sama – sama !,” kataku dengan nada pelan seperti orang yang bodoh, idiot atau mungkin gila.

              Semakin dia menjauh semakin merontokan keimananku. Kucuri pandang saat dia berjalan. Begitu tampak pantsu di balik rok mini yang terlihat di setiap langkahnya. Menyembul – nyembul menarik semua pria termasuk aku. Baru kali ini aku ingin memiliki seseorang, sebelumnya gadis – gadislah yang ingin memilikiku.

               ” Aku akan mendapatkannya .” kataku dengan wajah yang ambisius.
               ” Kalau suka, kejar dia !,” suruh Bang Gibran
               ” ya, cepat...!,” sahut Indra.

               Kukejar dia dengan memutuskan semua urat maluku.
               ” Hai, tunggu !,” teriakku padanya

              Kami saling mengenalkan diri masing – masing. Telah kutahu namanya, Ran. Nama yang indah, dari bahasa jepang yang artinya bunga anggrek. Setahuku jenis bunga anggrek sangat bermacam dalam berbagai warna dan ada yang langka, yang ada satu di dunia. Bagiku Ran inilah anggrek langka yang berwarna hitam itu, yang telah menghitamkan seluruh organ tubuhku dan tercangkok di jantungku.
              Bang Gibran dan Indra bergabung dengan kami yang saat itu sudah berbincang – bincang hangat. Obrolan kami ini lebih sering menceritakan tentang kebiasaan yang sama yaitu mengoleksi pantsu, tentunya berbeda karena ia perempuan. Aku heran kenapa gadis ini tidak canggung saat membicarakan hal pribadinya pada kami dan begitu mudah munculnya jalinan ini. Tetapi itu tidak apa – apa. Aku suka dengan gadis yang simple, terus terang dan penuh tantangan ini. Karena masih penasaran kuajak dia bertemu lagi di Mall ini. Aku begitu tergoda olehnya atau mungkin dia memakai pantsu buatan dari jepang yang sama denganku. Karena ketertarikanku pada gadis – gadis yang memakai pantsu yang berkualitas dan memperdulikannya, membuat suatu nilai plus bagiku.
               Keesokan harinya, kutemui dia seorang diri. Tetapi, Bang Gibran dan Indra berada tidak jauh dari tempatku dan Ran bertemu. Rencananya aku akan langsung mendekatinya dang mengenalnya lebih dari ini. Beberapa menit kemuadian, dia datang bersama dua temannya. Aku langsuna menyambutnya dengan wajah yang berseri – seri, tapi teman – temannya itu sangat aneh make up – nya telalu menor dan dandannya tekesan tidak karuan.

              ” Aduh...ternyata kamu bertemu brondong ya... Ran.” kata temannya dengan suara bindeng dan gerak tubuhnya yang tak bisa diam.
              ” Ha...”kagetku
              ” Kalian ini apa sebenarnya ? ” tanyaku dengan konyolnya.
              ” Ah...kmyu tu masa kagak ngerti sih !” jawab temannya lagi dengan nada bindeng yang semakin jelas.

              Aku sungguh terkejut dengan kejadian ini, sebelumnya bicara dan tingkah laku Ran sangat wanita dan begitu menggoda, manis dan kalem sehingga tidak tampak seperti teman – temannya ini. Ran mengakui bahwa ia seorang waria yang berhasil dalam operasinya sedangkan teman – temanya masih seperti bentuk asalnya. Bagiku itu suatu pilihan mereka hanya mereka dan Tuhan yang berhak menadili. Aku langsung minta maaf pada Ran. Aku hanya meringis – ringis dan tidak tahu harus bersikap.
               Bang Gibran dan Indra hanya menertawakanku dari tempat duduk mereka. Mungkin ini karma bagiku, karena hanya melihat gadis dari sebuah kebiasaanya memakai pantsu  dan selalu menolak gadis yang mencintaiku. Aku langsung saja mengucapakan selamat tinggal padanya. Aku berbalik berjalan meninggalkan mereka dengan kepala menunduk. Ini perasaan malu, kesal atau apalah entah...tidak bisa dimengerti.
                Kuajak Indra dan Bang Gibran pulang. Mereka terus menertawakanku.
                “ Sudah, sabar !” kata Indra sambil tersenyum
                “ Hua…!” teriakku untuk mengagetkan mereka.
                Tidak ada rasa murung dalam diriku. Siapa yang belakangan tiba dirumah, dia harus mentrktirku mie ayam, makanan kesukaanku. ” teriakku sambil mendahului mereka. Kebersamaanlah ang penting bagiku....perkoncoan.

***

Rabu, 18 Mei 2011

CERPEN MINI

latihan membuat cerpen, maaf jika ada yang tersinggung......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!



Aku Bukan Nabi Muhammad
Ataupun
Tokoh Karna dalam Mahabharata

          Sore menjelang petang, kulukis kaki langit di padang sabana. Dengan cat yang kuperoleh dari air yang mengalir melalui celah – celah kelopak mata. Kugoreskan pada kanvas yang terletak di dalam tubuh, disebelah kiri dadaku. Dan berbunyi duk...duk...duk.

          Entah jasad siapa yang kupakai ini ?

          Namun kuhidupkan jasad ini dalam sebuah reinkarnasi dengan cahaya-Mu. Aku tak berharap dari kehidupan siapa, karena aku sudah menjalaninya. Aku harus kembali kebelakang, menceritakan dua puluh tahun yang lewat itu, saat badai menerjang kebodohanku. Dia memaksaku untuk selalu dan harus mengingat hal yang tidak akan bisa kuingat. Aku hidup di masa itu, tetapi aku tidak merasakannya. Dia menarik sepotong jiwaku untuk pergi bersama-Nya. Meskipun aku dalam keadaan tidak sadar dan masih berlari – lari, berkejaran dan tertawa – tawa dengan teman – teman sebayaku. Sedikitpun tak ada tetes hujan mengguyur bola mataku. Engkau menjemputnya dari sisi tubuhku yang lain.
          
          Pengecut.....! marahku


          Sejak itu, aku marah tetapi takut, menyesal tetapi mengikhlaskan. Yang ingin kupertanyakan pada – Mu.   
         Kenapa seperti ini ?
         Mengapa harus pada saa itu ?
             
         Menunggu dan menunggu jawaban yang tidak bisa dijawab oleh siapapun. Setiap kali kemarahan itu hadir dan mendoktrinku. Aku merasa hina dihadapan-Mu, raga ini, roh ini adalah milik – Mu. Karna kusadari kebaikan dalam diriku masih bertarung dengan kehilafan yang fana ini. Semut – semut yang menyerang makananku, langsung kulempar, ku injak kutiup makhluk kecil itu. Dan tidak mau tahu dia hidup atau mati. Tidak seperti Nabi Muhammad yang menerima hidupnya dengan senyum dan sabar. Selalu berbuat baik terhadap semua jenis makhluk – Mu. Beliau mengikhlaskan ibunya yang telah pergi...
          Tidak juga  seperti tokoh Karna yang harus membenci ibunya karena merasa dirinya tidak diinginkan. Tidak bisa menahan lautan emosi yang meluap – luap. Sehingga harus bertempur badan dengan darah dagingnya sendiri, saudara – saudara tirinya, untuk menguatkan jati diri. Aku tidak sanggup. Di sini, di alam semesta ini. Berdiri di puncak gunung yang harus melewati batu terjal yang keras sendirian. Meski didampingi beratus – ratus maupun beribu – ribu prajurit, tidak akan memahami hasrat itu. Kau selalu ada di hati ini. Aku tidak akan bisa membenci – Mu. Namun, gonjang – ganjing yang kuhadapi dalam pertikaian batinku, membuat sungsang keyakinan itu pada – Mu. Membuatku tidak peduli dengan dunia ini dan tidak menghiraukan siapapun.
          Alur ini tetaplah harus sampai  klimaksnya dan mencapai kata The End. Sebagai tokoh utama aku tidak heran lagi tentang ini semua. Layaknya dalam teater, tokoh utama selalu mendapat kebahagiaan yang jauh lebih sebentar daripada pemain lainnya. Itupun didapat diujung cerita itu berakhir dan tidak tampak oleh penonton secara keseluruhan. Peran ini sebuah kebanggaan bagiku. Setidaknya aku mendapat sorotan, tepuk tangan dan perhatian yang lebih dibandingkan dengan pemain – pemain pendukungku itu. Aku akan selau bersujud, berdoa dan beribadah kepada – Mu. Karena dengan nama – Mu lah sepotong jiwaku bergabung kembali. Sepotong yang Engkau bawa.....

Kamis, 12 Mei 2011

CERPEN

Danang Mahmudi ( belajar membuat cerpen )    

R. DANDI JOYODININGRAT
( HE IS LUCKY BOY)
          Dhuha tertidur berselimut siang. Kini teriknya dilucuti oleh malam. Aku masih duduk di terminal bus seperti pasien DBD yang membutuhkan lebih dari infuse. Seringkali puluhan, ratusan bahkan ribuan petugas Lab. Bergantian menyuntikan jarumnya untuk menghisap darah segar dalam tubuhku. Kedatangannya membawa isyarat perang telah dimulai, perannya sebagai pesawat tempur inginku ledakan dengan rudal mata dua. Tak bisa kuhitung bom atom yang kudaratkan pada tangan dan pipiku. Malam ini aku menjadi pembunuh berdarah dingin.
           Malam semakin merajam. Angin menggasak dada. Dinginnya menghajar kulit. Kunaikkan retsliting jaket tipisku, sedikit tersendat – sendat. Kutarik sekuat – kuatnya, seketika itu gigi retsliting dapat meluncur di relnya sampai atas. Aku tidak tahu apa sebabnya, tetapi ini lumayan untuk menahan gemburan angin yang menabrak dada. Di tangan kiriku memegang kantong berisi uang yang dititipkan padaku. Uang ini milik lelaki tua yang pernah kutemui di terminal bus ini dan harus kukembalikan. Inilah kenapa kuhabiskan waktuku di terminal.
          Ketika itu aku menunggu bus malam jurusan kota Bukit, di terminal kotaku Singaraja untuk mengikuti tes masuk salah satu universitas di kota Bukit. Saat udaranya dingin sekali dan kantuk mulai mendera mataku, tiba – tiba indera penciumanku mendapat sogokan harum kopi yang dilarutkan dalam air panas. Entah sejak kapan ada penjual wedang kopi disamping tempat duduku. Mungkin aku terlalu sibuk menghangatkan tubuh dengan segala atributku. Aku melihat orang – orang yang duduk di sampingku, mereka meminum wedang kopi dengan gaya yang hamper sama. Secara tidak sadar tenggorokanku menegun menelan ludahku sendiri. Lidahku menari dengan lincahnya di dalam kuluman mulutku.
          Aku mulai tergoda oleh wedang kopi itu. Asap yang keluar mengebul – ngebul melambai ke arah hidungku. Fatamorgana ini membuatku ingin berenang – renang di kawah hitam dalam suhu yang membekukan alis mataku ini.
         Kutengok penjual wedang kopi itu. Terdapat beberapa pembeli yang mengantre di depan ia berjualan. Sehingga aku tidak bisa mendekat, lalu aku tetap ngotot masuk dicelah – celah orang berdiri itu.

          Aku berteriak ,” Pak, satu kopinya ! belum melihat penjualnya.

         Tak ada jawaban dari penjual wedang kopi itu. Akupun tidak tahu ia laki – laki atau perempuan. Kepalaku clingak –clinguk ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan, sekadar mencari celah untuk lewat.       
          Detik – detik telah berganti menit, akhirnya orang – orang yang membeli sudah mendapatkan wedang kopi yang berwadah gelas plastik yang ukuranya berbeda – beda. Aku terperanga sekaligus tertegun kembali melihat penjual wedang kopi ini. Ternyata ia seorang lelaki tua.
          Lelaki tua yang bertubuh pendek, gempal dengan banyak bercak di wajahnya. Ia memakai sweater dekil yang benang – benangnya sudah banyak terlepas. Dengan rasa tidak sabar, aku langsung memesan satu gelas wedang kopi.

         “ Maaf  Pak, Saya minta satu kopinya ! ” pintaku sambil mengamati betapa cepatnya ia meracik kopi.

            Setelah wedang itu siap, aku menyeruputnya dengan tergesa – gesa. Rasanya maknyos, tubuhku seakan – akan di timbun oleh mantel bulu buatan luar negeri yang halus dan hangat. Tanpa kusadari tempat ini sudah sepi, tinggalah aku dengan lelaki tua ini. Ia tampak murung, mukanya ditekuk – tekuk dengan lipatan segi yang tak beratur. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya, untuk menjalin keakraban sebgai sesama penghuni terminal malam ini.
          ” Sudah berapa lama Bapak berjualan ? ” tanyaku, sedikit rasa sungkan dan takut.
          ” Tuju tahun. ” jawabnya singkat tanpa melihatku.
            Saat ia meracikan kopi pesananku yang kedua, ketiga, keempat atau..........aku sudah tak ingat lagi berapa yang sudah kuminum. Aku nyerocos mirip gagak yang minta setiap hari di ganti malam. Aku selalu bertanya dan membuat lelaki tua itu tertawa. Ia pun hanya bertanya satu kali ” Siapa namamu ?”

           ” Dandi , jawabku dengan singkat.

            Prasangkaku yang semula tidak baik tentang lelaki tua itu, berangsur mulai berubah. Pertama, aku menganggapnya sebagai orang yang galak dan pemarah. Lama kelamaan keakraban itu mulai tampak. Ia orang yang ramah dan sabar
            Ia mulai menceritakan kehidupannya dalam berjualan padaku. setiap malam ia berkeliling kota untuk menjajakan dagangannya, sambil menenteng dua tremos besar dan tas besar yang berisi kopi, gula ditaruh dalam toples besar serta plastik sisa jajanan jeli yang dibeli anak – anak. Tas itu digendong dipundaknya.

           ” Wah ! jorok sekali”......pikirku.

            Tapi apaboleh buat, memang keadaanya seperti itu. Ia menggelar kain kusut di pinggir jalan untuk menjual wedang kopi hangatnya. Tanpa harus berteriak – teriak, saat malam tiba para pelanggan sudah menunggunya di tempat ia menggelar dagangannya. Kopi racikannya memang sangat lezat, aku jadi teringat iklan kopi yang ada di televisi. Di iklan itu mengatakan kalau kopinya kualitas satu, artinya ada kualitas dua, kualitas tiga dan kualitas..........., lalu kopi yang kuminum ini kualitas berapa atau mungkin tidak berkualitas ?
             Kadang – kadang ia juga harus main kucing – kucingan dengan polisi yang merazia tempatnya berjualan. Sungguh teriris – iris melihat perjuangan lelaki tua ini.  Kabut malam mulai menampakkan wujudnya. Hal yang disinggung datang juga, ketika lampu – lampu toko di sepanjang jalan belum dipadamkan. Tiba – tiba serombongan polisi menyisir trotoar dari ujung terminal. Segerombolan pengemis, pemulung atau orang yang berpura – pura mengemis dan memulung langssung bubar dengan menggerutu.
             Rupanya para polisi tidak hanya menangkapi pengemis atau pemulung yang menjajah terminal bus dengan merdeka. Mereka juga mengobrak – abrik pedagang kaki lima, sudah tentu termasuk lelaki tua itu. Aku bingung sendiri, berdiri duduk tak tahu apa yang harus dilakukkan.

             Pada saat itu ada sesuatu menimpa kepalaku. ”Aduh !” keluhku.
             ” Kau bawa dulu ! ” Aku melihat lelaki tua itu sudah mulai lari jauh di belakangku.
              ” Ingat, besok kembalikan padaku ! ” perintahnya sambil terus berlari.
             
              Karena takut aku juga dicurigai. Aku pun menyelinap mirip pasukan perang grelilya, menuju toko yang masih buka untuk berpura – pura membeli sesuatu. Detik – detik kepergian polisi – polisi itu masih terasa, Lalu aku mengambil benda yang menimpukku tadi. Ternyata itu sebuah kantong kecil yang kusut, buluk dan baunya apek. Didalamnya terdapat dua puluh uang logam lima ratus-an, sepuluh lembar uang seribu-an dan tiga lembar uang lima ribu-an.

            “ Pasti uang ini milik lelaki tua itu.” pikirku.

            Hasil penjualan wedang kopinya malam ini, dipercayakan kepadaku. Orang yang baru dikenalnya malam ini. Aku duduk kembali di kursi terminal bus itu. Sejenak aku menenangkan diri dan memikirkan bagaimana mengembalikan uang ini pada lelaki tua itu, bagaimana juga dengan keadaannya.
            Padahal aku di terminal bus ini harus segera berangkat ke kota Bukit untuk mempersiapkan tesku nanti. Kantong berisi uang ini membuat tanggung jawab yang besar. Setelah kuperiksa kembali, terdapat kertas dengan lipatan yang kecil dalam kantong. Kubuka lipatan kertas yang kusut dan mulai pudar warna putihnya. Sederet tulisan melekat pada kertas itu.

            Dan kubaca.
            ” Bismillahhirromannirrokhim, buat cucuku Liu .”
            Pundakku semakin berat, tulisan ini seperti batu gunung merapi yang menindihku dalam waktu sekejap. Ini sama saja kepala ditaruh di kompor dan kaki dibekukan di freezer. Aku membayangkan apa ini…..bagaimana ini….?. Lemas mental telah menghampiriku, kuhela nafas. Kuambil sisa kopi yang tinggal setengah gelas dan mulai dingin, kuminum kopi itu, terasa panas di tengah – tengah kerongkongan. Kukorek – korek sisa kopi yang melekat pada gelas plastik, terasa pahit meski masih ada sisa gula yang tercampur.
             Malam itu, kuputuskan untuk untuk menunggu lelaki tua itu datang. Bukan lelaki tua itu yang menghampiriku, tetapi bus ku yang sudah tiba. Kebulatanku sudah kuat, aku akan membatalkan keberangkatanku, demi amanahnya. Aku terdiam duduk sendiri di terminal ini dengan ketakutan yang menggila, sampai datangnya king of night tiba.
              Tes ujian itu memang masih dua minggu. Karena aku ingat perkataannya sebelum ia benar – benar hilang pandangan dariku. Aku akan menjalankan perintahnya terlebih dahulu, sebelum waktu keberangkatanku selanjutnya.
              Tetapi besok, lusa dan lima hari selanjutnya kami tidak pernah bertemu lagi. Sebab di sepanjang terminal ini polisi rajin mondar – mandir seperti seterika merapikan terminal dari pengemis, pemulung dan pedagang kaki lima. Sejak itu maka uang dalam kantong itu kusimpan terus di dalam saku tasku kadang – kadang kutaruh juga di jaketku. Kemanapun aku pergi, kubawa.
              Itulah hari terakhir aku menunggu lelaki tua itu. Ku anggap pertemuannya yang tidak sengaja, sebagai petuah untuk menjalani hidup. Sabar, berusaha dan lakukan untuk orang yang dicintai. Sekarang dimana dan bagaimana keadaannya, aku akan selalu berdoa di setiap aku bersujud pada sang Illahi. Kusimpan kantong uang dengan isinya baik- baik di lemari pribadiku, akan ku kembalikan jika nanti suatu saat takdir membawaku padanya.
            Hari keberangkatanku telah tiba, tiket jurusan kota Bukit sudah kubeli dengan antrean yang pangjang membentuk ekor seribu. Kumasih menunggu bus.....aku naik bus dan duduk paling belakang pojok kanan. Setiap bus berhenti di terminal kota yang kita lewati, aku selalu menyempatkan diri untuk meminum secangkir kopi.
               Jarum detik mengganti menit mengganti jam, akhirnya sampai juga aku di kota Bukit.   ” Disinilah nasibku akan dipertaruhkan ,” kataku dalam hati dengan rasa yakin.
              Tibalah waktunya aku mengikuti tes untuk masuk sebagai mahasiswa jurusan kedokteran di Universitas ini, lembar soal di bagikan. Tes berlangsung, salah satu pengawas  wanita berkata padaku,

             ” Be yourself ! ” katanya padaku dengan mengangkat kacamata minesnya  kemudian menaruh tangannya di belakang tampak garang.
             ” Yes Mom. ” jawabku singkat.   

             Waktu 120 menit telah kuselesaikan soal itu. Aku masih penasaran dengan pengawas tadi. Mengapa ia begitu memperhatikanku.....?
             Aku berlari di lorong – lorong kampus, kutemui dia berdiri di depan pintu sambil menelpon seseorang. Tubuh pengawas wanita itu pendek, gemuk, rambut digulung. Ia sudah terlihat tua, tampak uban sehelai, dua helai atau lebih di rambutnya, tetapi kulitnya putih dengan sedikit kerutan di samping matanya. Ia memakai baju dinasnya berwarna coklat dengan sederet atribut.
             Ia berhenti menelpon, lalu ia berjalan kearahku. Takutku semakin...dek...dek..., yang kutahu orang seperti ia sangat tidak memperdulikan orang macam aku ini. Ia bersimpangan denganku, kami bertemu pandang, ia mencuri lirikan padaku belum sempat kusapa. Ia segera melengos seakan – akan aku kuman menular yang menjijikan.
             Lain kesempatan di pagi yang cerah, kusapa ia,
  
             ” selamat pagi bu ? ” tanyaku dengan senyum termanis yang pernah kubuat.
             “ Morning, meet me ! “ jawab sekaligus perintahnya dengan nada tegas.

             Aku hanya menganggukan kepala saja. Ku ikuti ia dari belakang. Langkahnya yang pendek terus ku ikuti dengan langkahku yang sedikit – sediki kesrimpet.
             Sampai di kantornya, aku disuruh duduk. Ia mengatakan kalau tidak mengenalku, tetapi ia melihat aku menggunakkan seragam SMA dari kota Singaraja yang membuat ia merasa dekat denganku. Hal itu membuatnya kangen dengan anaknya yang ada di kota Singaraja ditinggalkanya dalam waktu sangat lama dan tidak mungkin ditemuinya.
               Pengawas wanita itu berasal dari Singaraja, ia bercerai dengan suaminya, lalu tidak menikah lagi. Ia mempunyai anak yang seumuran denganku dan tidak pernah bertemu lagi sampai saat ini. Ia seorang dosen besar di sini. Pengumuman hsasil tes belum keluar, tetapi ia bilang padaku.

                ” Kau akan aku bimbing di sini, sampai gelarmu tiba ! ” katanya padaku dengan sikapnya yang tegas dan mengamatiku tak habis – habisnya.
               ” Terima kasih, bu ! ” jawabkusambil menundukan kepala.

              Aku berjabat tangan dan kucium tangan kanannya. Setelah keluar dari kantornya, aku menghela nafas, ” Huh...!
              Kukatakan dalam hati dan kuresapkan dalam pikiranku,

             ” Inilah hidup, itulah hidup......Its me. Semua adalah pertemuan tetap diakhiri perpisahan. ” I am is Lucky boy ”. Aku mendapat pelajaran setelah orangnya menghilang, sekarang aku mendapat gandengan saat kujalani karierku...! ”

            Hari penentuanku tiba juga, ku urutkan  setiap nama yang terpampang di kertas pengumuman tes itu. R. DANDI JOYODININGRAT asal Singaraja, tampak jelas namaku di urutan ke-158 dengan nilai seribu dibagi sepuluh dikurangi lima. Yes....... yes!
            Besok...lusa...dan seterusnya hubungan ku dengan pengawas itu lebih dari yang kuduga....tetapi inilah jalanku...tak harus orang mengetahuinya...
 
         
***