Danang Mahmudi ( belajar membuat cerpen )
R. DANDI JOYODININGRAT
( HE IS LUCKY BOY)
Dhuha tertidur berselimut siang. Kini teriknya dilucuti oleh malam. Aku masih duduk di terminal bus seperti pasien DBD yang membutuhkan lebih dari infuse. Seringkali puluhan, ratusan bahkan ribuan petugas Lab. Bergantian menyuntikan jarumnya untuk menghisap darah segar dalam tubuhku. Kedatangannya membawa isyarat perang telah dimulai, perannya sebagai pesawat tempur inginku ledakan dengan rudal mata dua. Tak bisa kuhitung bom atom yang kudaratkan pada tangan dan pipiku. Malam ini aku menjadi pembunuh berdarah dingin.
Malam semakin merajam. Angin menggasak dada. Dinginnya menghajar kulit. Kunaikkan retsliting jaket tipisku, sedikit tersendat – sendat. Kutarik sekuat – kuatnya, seketika itu gigi retsliting dapat meluncur di relnya sampai atas. Aku tidak tahu apa sebabnya, tetapi ini lumayan untuk menahan gemburan angin yang menabrak dada. Di tangan kiriku memegang kantong berisi uang yang dititipkan padaku. Uang ini milik lelaki tua yang pernah kutemui di terminal bus ini dan harus kukembalikan. Inilah kenapa kuhabiskan waktuku di terminal.
Ketika itu aku menunggu bus malam jurusan kota Bukit, di terminal kotaku Singaraja untuk mengikuti tes masuk salah satu universitas di kota Bukit. Saat udaranya dingin sekali dan kantuk mulai mendera mataku, tiba – tiba indera penciumanku mendapat sogokan harum kopi yang dilarutkan dalam air panas. Entah sejak kapan ada penjual wedang kopi disamping tempat duduku. Mungkin aku terlalu sibuk menghangatkan tubuh dengan segala atributku. Aku melihat orang – orang yang duduk di sampingku, mereka meminum wedang kopi dengan gaya yang hamper sama. Secara tidak sadar tenggorokanku menegun menelan ludahku sendiri. Lidahku menari dengan lincahnya di dalam kuluman mulutku.
Aku mulai tergoda oleh wedang kopi itu. Asap yang keluar mengebul – ngebul melambai ke arah hidungku. Fatamorgana ini membuatku ingin berenang – renang di kawah hitam dalam suhu yang membekukan alis mataku ini.
Kutengok penjual wedang kopi itu. Terdapat beberapa pembeli yang mengantre di depan ia berjualan. Sehingga aku tidak bisa mendekat, lalu aku tetap ngotot masuk dicelah – celah orang berdiri itu.
Aku berteriak ,” Pak, satu kopinya ! belum melihat penjualnya.
Tak ada jawaban dari penjual wedang kopi itu. Akupun tidak tahu ia laki – laki atau perempuan. Kepalaku clingak –clinguk ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan, sekadar mencari celah untuk lewat.
Detik – detik telah berganti menit, akhirnya orang – orang yang membeli sudah mendapatkan wedang kopi yang berwadah gelas plastik yang ukuranya berbeda – beda. Aku terperanga sekaligus tertegun kembali melihat penjual wedang kopi ini. Ternyata ia seorang lelaki tua.
Lelaki tua yang bertubuh pendek, gempal dengan banyak bercak di wajahnya. Ia memakai sweater dekil yang benang – benangnya sudah banyak terlepas. Dengan rasa tidak sabar, aku langsung memesan satu gelas wedang kopi.
“ Maaf Pak, Saya minta satu kopinya ! ” pintaku sambil mengamati betapa cepatnya ia meracik kopi.
Setelah wedang itu siap, aku menyeruputnya dengan tergesa – gesa. Rasanya maknyos, tubuhku seakan – akan di timbun oleh mantel bulu buatan luar negeri yang halus dan hangat. Tanpa kusadari tempat ini sudah sepi, tinggalah aku dengan lelaki tua ini. Ia tampak murung, mukanya ditekuk – tekuk dengan lipatan segi yang tak beratur. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya, untuk menjalin keakraban sebgai sesama penghuni terminal malam ini.
” Sudah berapa lama Bapak berjualan ? ” tanyaku, sedikit rasa sungkan dan takut.
” Tuju tahun. ” jawabnya singkat tanpa melihatku.
Saat ia meracikan kopi pesananku yang kedua, ketiga, keempat atau..........aku sudah tak ingat lagi berapa yang sudah kuminum. Aku nyerocos mirip gagak yang minta setiap hari di ganti malam. Aku selalu bertanya dan membuat lelaki tua itu tertawa. Ia pun hanya bertanya satu kali ” Siapa namamu ?”
” Dandi , jawabku dengan singkat.
Prasangkaku yang semula tidak baik tentang lelaki tua itu, berangsur mulai berubah. Pertama, aku menganggapnya sebagai orang yang galak dan pemarah. Lama kelamaan keakraban itu mulai tampak. Ia orang yang ramah dan sabar
Ia mulai menceritakan kehidupannya dalam berjualan padaku. setiap malam ia berkeliling kota untuk menjajakan dagangannya, sambil menenteng dua tremos besar dan tas besar yang berisi kopi, gula ditaruh dalam toples besar serta plastik sisa jajanan jeli yang dibeli anak – anak. Tas itu digendong dipundaknya.
” Wah ! jorok sekali”......pikirku.
Tapi apaboleh buat, memang keadaanya seperti itu. Ia menggelar kain kusut di pinggir jalan untuk menjual wedang kopi hangatnya. Tanpa harus berteriak – teriak, saat malam tiba para pelanggan sudah menunggunya di tempat ia menggelar dagangannya. Kopi racikannya memang sangat lezat, aku jadi teringat iklan kopi yang ada di televisi. Di iklan itu mengatakan kalau kopinya kualitas satu, artinya ada kualitas dua, kualitas tiga dan kualitas..........., lalu kopi yang kuminum ini kualitas berapa atau mungkin tidak berkualitas ?
Kadang – kadang ia juga harus main kucing – kucingan dengan polisi yang merazia tempatnya berjualan. Sungguh teriris – iris melihat perjuangan lelaki tua ini. Kabut malam mulai menampakkan wujudnya. Hal yang disinggung datang juga, ketika lampu – lampu toko di sepanjang jalan belum dipadamkan. Tiba – tiba serombongan polisi menyisir trotoar dari ujung terminal. Segerombolan pengemis, pemulung atau orang yang berpura – pura mengemis dan memulung langssung bubar dengan menggerutu.
Rupanya para polisi tidak hanya menangkapi pengemis atau pemulung yang menjajah terminal bus dengan merdeka. Mereka juga mengobrak – abrik pedagang kaki lima, sudah tentu termasuk lelaki tua itu. Aku bingung sendiri, berdiri duduk tak tahu apa yang harus dilakukkan.
Pada saat itu ada sesuatu menimpa kepalaku. ”Aduh !” keluhku.
” Kau bawa dulu ! ” Aku melihat lelaki tua itu sudah mulai lari jauh di belakangku.
” Ingat, besok kembalikan padaku ! ” perintahnya sambil terus berlari.
Karena takut aku juga dicurigai. Aku pun menyelinap mirip pasukan perang grelilya, menuju toko yang masih buka untuk berpura – pura membeli sesuatu. Detik – detik kepergian polisi – polisi itu masih terasa, Lalu aku mengambil benda yang menimpukku tadi. Ternyata itu sebuah kantong kecil yang kusut, buluk dan baunya apek. Didalamnya terdapat dua puluh uang logam lima ratus-an, sepuluh lembar uang seribu-an dan tiga lembar uang lima ribu-an.
“ Pasti uang ini milik lelaki tua itu.” pikirku.
Hasil penjualan wedang kopinya malam ini, dipercayakan kepadaku. Orang yang baru dikenalnya malam ini. Aku duduk kembali di kursi terminal bus itu. Sejenak aku menenangkan diri dan memikirkan bagaimana mengembalikan uang ini pada lelaki tua itu, bagaimana juga dengan keadaannya.
Padahal aku di terminal bus ini harus segera berangkat ke kota Bukit untuk mempersiapkan tesku nanti. Kantong berisi uang ini membuat tanggung jawab yang besar. Setelah kuperiksa kembali, terdapat kertas dengan lipatan yang kecil dalam kantong. Kubuka lipatan kertas yang kusut dan mulai pudar warna putihnya. Sederet tulisan melekat pada kertas itu.
Dan kubaca.
” Bismillahhirromannirrokhim, buat cucuku Liu .”
Pundakku semakin berat, tulisan ini seperti batu gunung merapi yang menindihku dalam waktu sekejap. Ini sama saja kepala ditaruh di kompor dan kaki dibekukan di freezer. Aku membayangkan apa ini…..bagaimana ini….?. Lemas mental telah menghampiriku, kuhela nafas. Kuambil sisa kopi yang tinggal setengah gelas dan mulai dingin, kuminum kopi itu, terasa panas di tengah – tengah kerongkongan. Kukorek – korek sisa kopi yang melekat pada gelas plastik, terasa pahit meski masih ada sisa gula yang tercampur.
Malam itu, kuputuskan untuk untuk menunggu lelaki tua itu datang. Bukan lelaki tua itu yang menghampiriku, tetapi bus ku yang sudah tiba. Kebulatanku sudah kuat, aku akan membatalkan keberangkatanku, demi amanahnya. Aku terdiam duduk sendiri di terminal ini dengan ketakutan yang menggila, sampai datangnya king of night tiba.
Tes ujian itu memang masih dua minggu. Karena aku ingat perkataannya sebelum ia benar – benar hilang pandangan dariku. Aku akan menjalankan perintahnya terlebih dahulu, sebelum waktu keberangkatanku selanjutnya.
Tetapi besok, lusa dan lima hari selanjutnya kami tidak pernah bertemu lagi. Sebab di sepanjang terminal ini polisi rajin mondar – mandir seperti seterika merapikan terminal dari pengemis, pemulung dan pedagang kaki lima. Sejak itu maka uang dalam kantong itu kusimpan terus di dalam saku tasku kadang – kadang kutaruh juga di jaketku. Kemanapun aku pergi, kubawa.
Itulah hari terakhir aku menunggu lelaki tua itu. Ku anggap pertemuannya yang tidak sengaja, sebagai petuah untuk menjalani hidup. Sabar, berusaha dan lakukan untuk orang yang dicintai. Sekarang dimana dan bagaimana keadaannya, aku akan selalu berdoa di setiap aku bersujud pada sang Illahi. Kusimpan kantong uang dengan isinya baik- baik di lemari pribadiku, akan ku kembalikan jika nanti suatu saat takdir membawaku padanya.
Hari keberangkatanku telah tiba, tiket jurusan kota Bukit sudah kubeli dengan antrean yang pangjang membentuk ekor seribu. Kumasih menunggu bus.....aku naik bus dan duduk paling belakang pojok kanan. Setiap bus berhenti di terminal kota yang kita lewati, aku selalu menyempatkan diri untuk meminum secangkir kopi.
Jarum detik mengganti menit mengganti jam, akhirnya sampai juga aku di kota Bukit. ” Disinilah nasibku akan dipertaruhkan ,” kataku dalam hati dengan rasa yakin.
Tibalah waktunya aku mengikuti tes untuk masuk sebagai mahasiswa jurusan kedokteran di Universitas ini, lembar soal di bagikan. Tes berlangsung, salah satu pengawas wanita berkata padaku,
” Be yourself ! ” katanya padaku dengan mengangkat kacamata minesnya kemudian menaruh tangannya di belakang tampak garang.
” Yes Mom. ” jawabku singkat.
Waktu 120 menit telah kuselesaikan soal itu. Aku masih penasaran dengan pengawas tadi. Mengapa ia begitu memperhatikanku.....?
Aku berlari di lorong – lorong kampus, kutemui dia berdiri di depan pintu sambil menelpon seseorang. Tubuh pengawas wanita itu pendek, gemuk, rambut digulung. Ia sudah terlihat tua, tampak uban sehelai, dua helai atau lebih di rambutnya, tetapi kulitnya putih dengan sedikit kerutan di samping matanya. Ia memakai baju dinasnya berwarna coklat dengan sederet atribut.
Ia berhenti menelpon, lalu ia berjalan kearahku. Takutku semakin...dek...dek..., yang kutahu orang seperti ia sangat tidak memperdulikan orang macam aku ini. Ia bersimpangan denganku, kami bertemu pandang, ia mencuri lirikan padaku belum sempat kusapa. Ia segera melengos seakan – akan aku kuman menular yang menjijikan.
Lain kesempatan di pagi yang cerah, kusapa ia,
” selamat pagi bu ? ” tanyaku dengan senyum termanis yang pernah kubuat.
“ Morning, meet me ! “ jawab sekaligus perintahnya dengan nada tegas.
Aku hanya menganggukan kepala saja. Ku ikuti ia dari belakang. Langkahnya yang pendek terus ku ikuti dengan langkahku yang sedikit – sediki kesrimpet.
Sampai di kantornya, aku disuruh duduk. Ia mengatakan kalau tidak mengenalku, tetapi ia melihat aku menggunakkan seragam SMA dari kota Singaraja yang membuat ia merasa dekat denganku. Hal itu membuatnya kangen dengan anaknya yang ada di kota Singaraja ditinggalkanya dalam waktu sangat lama dan tidak mungkin ditemuinya.
Pengawas wanita itu berasal dari Singaraja, ia bercerai dengan suaminya, lalu tidak menikah lagi. Ia mempunyai anak yang seumuran denganku dan tidak pernah bertemu lagi sampai saat ini. Ia seorang dosen besar di sini. Pengumuman hsasil tes belum keluar, tetapi ia bilang padaku.
” Kau akan aku bimbing di sini, sampai gelarmu tiba ! ” katanya padaku dengan sikapnya yang tegas dan mengamatiku tak habis – habisnya.
” Terima kasih, bu ! ” jawabkusambil menundukan kepala.
Aku berjabat tangan dan kucium tangan kanannya. Setelah keluar dari kantornya, aku menghela nafas, ” Huh...!
Kukatakan dalam hati dan kuresapkan dalam pikiranku,
” Inilah hidup, itulah hidup......Its me. Semua adalah pertemuan tetap diakhiri perpisahan. ” I am is Lucky boy ”. Aku mendapat pelajaran setelah orangnya menghilang, sekarang aku mendapat gandengan saat kujalani karierku...! ”
Hari penentuanku tiba juga, ku urutkan setiap nama yang terpampang di kertas pengumuman tes itu. R. DANDI JOYODININGRAT asal Singaraja, tampak jelas namaku di urutan ke-158 dengan nilai seribu dibagi sepuluh dikurangi lima. Yes....... yes!
Besok...lusa...dan seterusnya hubungan ku dengan pengawas itu lebih dari yang kuduga....tetapi inilah jalanku...tak harus orang mengetahuinya...
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar