CATATAN KEGILAAN MASA REMAJA
( Pantsu Sebuah Rahasia Umum)
Setelah bercumbu dengan ilmu – ilmu pengetahuan. Akhirnya, tepat puncak kegerahan suhu tubuhku meningkat dan butir – butir keringat mulai terbakar. Aku dan dua temanku bias pulang juga ke gubuk yang kami sewa. Setengah hari di sekolah belum menghentikan penderitaanku. Jadwal sekolah yang padat sserta kepenatan yang menghantui, membuatku terhipnotis dalam kelembutan malam. Meski harus tidur di pulau kapuk yang keras. Namun kunikmati disetiap sekaratku di ranjang. Ini bukan lagi sebuah imajinasi melainkan sebuah fantasi tingkat tinggi.
Inilah penyiksaan sesungguhnya, saat bangun pagi badan ini seperti mumi yang hanya tersisa tulang dengan balutan tisu WC yang tipis disekujur tubuh. Lebih tepatnya penyakit osteoporosis stadium empat yang hanya disenggol sedikit langsung menggelepar di lantai. Bagaimana tidak ? ranjang kayu yang seharusnya unutk berdua, digunakkan oleh tiga orang. Kapuk – kapuk yang menyumpal kasur buluk ini sudah mengempes dalam lumatan akhir zaman. Sehingga bayanganku saat melihatnya hanya sekumpulan batu baja yang disusun rapi.
Tak barbeda jauh dengan kedua teman satu kosku, Indra dan Bang Gibran. Subuh – subuh mereka mengeluh pegal – pagal diseluruh badan dan sulit untuk bangun. Bagiku ini menjadi sebuah pertunjukkan pantomim yang tidak boleh dilewatkan, karena cuma – cuma. Dan menjadi desert ku setiap subuh. Padahal Bang Gibran mempunyai orang tua yang kaya, rumahnya besar dan mewah, mobil pribadi dua, motornya ada empat dan yang paling hebat ayahnya seoarang pengusaha kain sutera. Sedangkan Indra mempunyai orang tua seorang guru besar sekaligus mempunyai persawahan yang luas. Kalau aku lebih dari mereka, bisa ditafsirkan dalam bentuk yang tak akan habis dihitung. Membuatku heran mengapa kita bisa kos di tempat ini. Tempatnya kumuh dan kamarnya kecil untuk bertiga tetapi keakraban antarpenghuni kos kuberi jempol empat. Karena belum tentu kudapat di Apartemen.
Bang Gibran aku panggil abang, karena umurnya terpaut tiga tahun lebih tua dariku. Sebenarnya Indra juga lebih tua dariku, tetapi dia tidak mau dipanggil abang, takut terlihat tua. Kami bertiga satu sekolahan di SMA N 1 BROTOJOYO, sekolah favorit di kota ini. Bang Gibran kelas dua, aku dan Indra kelas satu bahkan satu kelas. Memang yang merekomondasikan aku di sini adalah Bang Gibran. Kalau Indra kukenal saat pertama kali masuk sekolah setelah masa MOS. Kami akrab, kemudian ia menceritakan sedang mencari kos, lalu kuajak ia di tempat kosku.sejak itu, aku, Indra dan Bang Gibran menjadi sudara bukan lagi sahabat.
Inilah hari – hari yang kami tunggu. Pasalnya hari ini dan tiga hari selanjutnya kelas satu dan dua libur. Karena kelas tiga akan mengikuti Ujian Nasional 2008.
” Libur...! ,” teriakku
” Sekali lagi bersama – sama !,” suruh Bang Gibran
” Satu...dua...tiga...libur !,” teriak kami bertiga dengan menggebu – gebu
Kami putuskan pagi ini akan jalan – jalan ke Mall alias ngeceng atau nongkrong sambil mengamati gadis – gadis dengan rok mini mereka. Sebelum berangkat kami selalu melakukan ritual aneh setiap pagi. Selesai mandi kami mengadakan sandiwara singkat kira – kira 10 – 15 menit. Ini sebuah sandiwara action, kami berperan sebagai super hero. Bang Gibran sebagai Batman, Indra sebagai superman dan aku sebagi spiderman. Kami bergulat satu sama lain hanya menggunakan celana dalam segitiga untuk mengilhami karakter itu. Tepatnya bukan super hero tetapi seperti pasukan Sparta di film 300, yang dibintangi oleh actor Skotlandia Gerard Butler yang berperan sebagai King Leonidas.
Entah kenapa kami sering membeli celana dalam atau boxer atau underwear atau pantsu. Ya…Pantsu kami lebih senang menyebutnya dengan kata pantsu, karena semua celana dalam yang kami pakai mayoritas buatan Jepang. Sangking seringnya membeli, sampai – sampai tak terdeteksi jumlahnya. Itu membuat kebiasaan pada kami untuk mengganti pantsu setiap selesai mandi. Bukan berarti boros, ini sebuah rasa kepercayaan diri dari pantsu yang bersih dan mahal. Meskipun orang tidak tahu atau memang sebenarnya sudah tahu bahwa dibalik celana atau rok ada pantsu yang bersembunyi, itu jelas dipahami semua orang.
“ Ayo berangkat !,” suruh Indra padaku dan Bang Gibran.
Kami langsung menaiki motor. Kami mengendarai motor masing – masing kecuali aku. Tapi aku nebeng Bang Gibran dengan naik motor ninja-nya. Karena kali ini pacar Bang Gibran tidak ikut sedangkan Indra naik motor mio–nya sendiri. Sampailah kami di Mall yangn terkenal di kota ini. Saat masuk pintu Mall. Kami berlaga seperti tiga Pandhawa yang berdiri di singgahsana Ngastina yang megah. Sosok gagah, tampan, kekar dengan kulit agak – agak hitam atau kecoklatan dan suara lantang serta emosi yang mendadak meledak – ledak seperti Bima, tampak pada Bang Gibran. Kemudian wajah alim, tampan, tenang dan penuh perhitungan atau cerdas serta kedewasaan seperti Yudhisthira mampir pada diri Indra. Sedangkan sosok arjuna yang tampan, pintar, gagah dan lembut sehingga digandrungi gadis –gadis dapat dilihat pada diriku.
Baru beberapa langkah kami langsung dikejutkan dengan segerombolan wanita yang merebutkan pantsu yang di obral dengan harga murah tetapi bermerk semua termasuk buatan dari Jepang. Di situ tidak hanya ibu – ibu saja, banyak juga gadis remaja yang berebut.
” Wow...ini hebat !,” kataku dengan pikiran picikku
” Apa ?,” tanya Indra
” Wa, wa, wah !,” seru Bang Gibran dengan mulut terbuka lebar dan mata melotot sambil menggelengkan kepalanya.
“ Kenapa kalian ini ?,” Tanya Indra lagi dengan raut muka curiga pada kami.
Sepertinya perekam video dalam syaraf otak kananku sudah di– on –kan. Bagaimana kalau aku berada di tengah – tengah mereka yang sedang bergelut di party pantsu itu. Pastinya aku akan mandi di kolam bola. Dengan ukuran yang berbeda – beda dan jenisnya ada bola pingpong, kasti, billiard, bola sepak serta bola basket dan bola – bola lainnya. Sungguh tak bisa dinyatakan lagi. Mungkin ini sama apa yang melintasi syahwat Bang Gibran. Secara tidak sadar, ternyata aku sudah berada di depan gerombolan itu. Aku berjalan sambil memutar perekam video itu sehingga tidak tahu kalau sudah di hadapan gerombolan itu. Aku langsung membalik badan…..
“ Aww…sakit !,” teriakan di depan mukaku.
Aku menabrak seorang gadis.
” Maaf !,” kataku
” Kau tidak apa – apa ?,” kata sekaligus tanyaku
Dia hanya meringkih kesakitan. Tanpa berpikir panjang dan rasa bersalah yang ada. Aku nekad bertanya padanya di tempat itu juga.
” Apa kamu mau membeli itu ?,” tanyaku
Dia hanya mengangguk, Indra dan Bang Gibran menahan – nahan tertawanya. Aku langsung berlari menerjang bola – bola yang menghantam muka dan badanku larut dalam party pantsu itu. Padahal aku tidak tahu ukurannya. Kudapat tiga pantsu dan kuberikan padanya. Di sinilah terjadi proses drama yang romantis antara aku dan gadis ini. Sambil kuangkat tanganku untuk memberikan pantsu ini, kuamati dia. Dan baru kusadari betapa cantiknya gadis ini. Perawakannya, kostumnya maupun cashingnya lekat sekali dengan remaja – remaja Jepang. Rambutnya hitam panjang sebahu, kulitnya putih susu yang baru diperas, matanya hitam kopi, hidungnya biasa tetapi menarik, bibirnya tipis dengan lipstik merah muda yang sensual dan lehernya yang jenjang serta tubuhnya itu akan membuat laki – laki terperangah. Dia memakai baju setengah jadinya dan rok mini yang hanya sebatas paha sehingga pantsu-nya tampak oleh mata, apalagi saat dia melangkahkan kaki dengan sepatu high heels –nya itu.
Dia menghampiriku, mendekat sekali sampai bibirnya berada di ujung lubang telingaku dan dia mengucapkan...
” Terima kasih !,” dengan nadanya yang menggoda
Kurasakan desahannya di telingaku, tercium wangi parfum sakura dari tubuhnya. Tubuhku langsung menggigil, merinding dan greges menimpaku. Dia meninggalkanku yang berdiri dan ku jawab perkataannya tadi...
” Sama – sama !,” kataku dengan nada pelan seperti orang yang bodoh, idiot atau mungkin gila.
Semakin dia menjauh semakin merontokan keimananku. Kucuri pandang saat dia berjalan. Begitu tampak pantsu di balik rok mini yang terlihat di setiap langkahnya. Menyembul – nyembul menarik semua pria termasuk aku. Baru kali ini aku ingin memiliki seseorang, sebelumnya gadis – gadislah yang ingin memilikiku.
” Aku akan mendapatkannya .” kataku dengan wajah yang ambisius.
” Kalau suka, kejar dia !,” suruh Bang Gibran
” ya, cepat...!,” sahut Indra.
Kukejar dia dengan memutuskan semua urat maluku.
” Hai, tunggu !,” teriakku padanya
Kami saling mengenalkan diri masing – masing. Telah kutahu namanya, Ran. Nama yang indah, dari bahasa jepang yang artinya bunga anggrek. Setahuku jenis bunga anggrek sangat bermacam dalam berbagai warna dan ada yang langka, yang ada satu di dunia. Bagiku Ran inilah anggrek langka yang berwarna hitam itu, yang telah menghitamkan seluruh organ tubuhku dan tercangkok di jantungku.
Bang Gibran dan Indra bergabung dengan kami yang saat itu sudah berbincang – bincang hangat. Obrolan kami ini lebih sering menceritakan tentang kebiasaan yang sama yaitu mengoleksi pantsu, tentunya berbeda karena ia perempuan. Aku heran kenapa gadis ini tidak canggung saat membicarakan hal pribadinya pada kami dan begitu mudah munculnya jalinan ini. Tetapi itu tidak apa – apa. Aku suka dengan gadis yang simple, terus terang dan penuh tantangan ini. Karena masih penasaran kuajak dia bertemu lagi di Mall ini. Aku begitu tergoda olehnya atau mungkin dia memakai pantsu buatan dari jepang yang sama denganku. Karena ketertarikanku pada gadis – gadis yang memakai pantsu yang berkualitas dan memperdulikannya, membuat suatu nilai plus bagiku.
Keesokan harinya, kutemui dia seorang diri. Tetapi, Bang Gibran dan Indra berada tidak jauh dari tempatku dan Ran bertemu. Rencananya aku akan langsung mendekatinya dang mengenalnya lebih dari ini. Beberapa menit kemuadian, dia datang bersama dua temannya. Aku langsuna menyambutnya dengan wajah yang berseri – seri, tapi teman – temannya itu sangat aneh make up – nya telalu menor dan dandannya tekesan tidak karuan.
” Aduh...ternyata kamu bertemu brondong ya... Ran.” kata temannya dengan suara bindeng dan gerak tubuhnya yang tak bisa diam.
” Ha...”kagetku
” Kalian ini apa sebenarnya ? ” tanyaku dengan konyolnya.
” Ah...kmyu tu masa kagak ngerti sih !” jawab temannya lagi dengan nada bindeng yang semakin jelas.
Aku sungguh terkejut dengan kejadian ini, sebelumnya bicara dan tingkah laku Ran sangat wanita dan begitu menggoda, manis dan kalem sehingga tidak tampak seperti teman – temannya ini. Ran mengakui bahwa ia seorang waria yang berhasil dalam operasinya sedangkan teman – temanya masih seperti bentuk asalnya. Bagiku itu suatu pilihan mereka hanya mereka dan Tuhan yang berhak menadili. Aku langsung minta maaf pada Ran. Aku hanya meringis – ringis dan tidak tahu harus bersikap.
Bang Gibran dan Indra hanya menertawakanku dari tempat duduk mereka. Mungkin ini karma bagiku, karena hanya melihat gadis dari sebuah kebiasaanya memakai pantsu dan selalu menolak gadis yang mencintaiku. Aku langsung saja mengucapakan selamat tinggal padanya. Aku berbalik berjalan meninggalkan mereka dengan kepala menunduk. Ini perasaan malu, kesal atau apalah entah...tidak bisa dimengerti.
Kuajak Indra dan Bang Gibran pulang. Mereka terus menertawakanku.
“ Sudah, sabar !” kata Indra sambil tersenyum
“ Hua…!” teriakku untuk mengagetkan mereka.
Tidak ada rasa murung dalam diriku. Siapa yang belakangan tiba dirumah, dia harus mentrktirku mie ayam, makanan kesukaanku. ” teriakku sambil mendahului mereka. Kebersamaanlah ang penting bagiku....perkoncoan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar