Infus Kehidupan
Aku orang yang
tak pernah merasakan keindahan saat menjalani hidup. Beribu-ribu kegiatan yang
kulakukkan hanya mendapat kejutan yang tak terduga, yaitu sebuah pennyesalan
dan perasaan ketidakadilan. Begitu banyak orang, kenapa harus aku yang
mengalami kejadian-kejadian yang menguras pikiran ini? Padahal masih banyak
jiwa manusia yang lebih buruk dari pada aku. Sudahlah, tolong!!! Jangan aku
lagi!!! ku sudah merasa jenuh. Dari masalah yang ringan sampai yang berat
membuatku tertekan oleh keadaan tersebut.
Berulang kali aku
mencoba melepaskan diri, membiarkan semua, dan mencoba memahami semua ini
sampai kubawa dengan senang hati dan senyuman. Namun, cara-cara itu hanya
sebuah angin lalu. Sepertinya, hal tersebut sudah melekat dengan kehidupanku.
Akankah ini menjadi suatu ketakutan yang luar biasa, pertanyaan itu menjadi
anak panah yang siap meluncur mengejar masa depanku. Menghunus di jatung,
meredupkan doa-doaku.
Kejadian itu membuat
aku sadar dengan doa-doa yang kupanjatkan, doa yang terasa belum ada
jawabannya. Berfikir dengan logika atau berfikir dengan hati, buatku sama saja.
Karena jawaban itu tak akan datang. Kesalahan apa yang kuperbuat, sehingga aku
harus menerima ini. Perbuatan apa yang membuatku terhambat pada keadaan ini.
Disetiap pikiranku hanya ada pertanyaan-pertanyaan bodoh itu.
Sadar atau tidak sadar
aku telah berdusta dengan doa-doa yang kupanjatkan. Aku meminta tetapi aku juga
menodai permintaanku. Seharusnya kulepaskan semua atribut tercelaku, dan
menanggapi serius permintaanku dengan hati dan usaha yang sungguh-sungguh. Yang
menjadi pengobat atas rasa sakit ini adalah sebuah kata yang umum namun mampu
menyembunyikan kesedihan orang,” nasib orang sudah diatur Tuhan.”
Kalimat itu memang
benar, tetapi dari itu kadang aku berpikir sangat tak berdaya. Aku tak perlu
berbuat apa-apa, karena aku sudah berdoa. Doa kepada Tuhan yang mengatur
manusia, dari yang kecil sampai yang besar, serta semua yang ada di dunia ini.
Tolonglah Tuhan, berikan aku keberanian yang mampu membuat diriku ini berharga
dan mampu serta pantas untuk hidup di dunia ini, di alam semesta ini, dan di
akhiratmu kelak.
Tak banyak dan tak
muluk-muluk apa yang kuinginkan dan sebenarnya kubutuhkan. Aku hanya meminta
tolonglah Tuhan berikan aku kekuatan untuk membantu keluarga, oarang lain dan
siapapun apapun itu agar mereka bahagia saat disampingku, saat bersamaku.***
