Jumat, 03 Juli 2015

Istana Di Atas Air Dan Cahaya Grojokan Langit

Edisi Telaga Sarangan dan Grojokan Tirtosari

         Minggu, 14 Juni 2015, Perjalanan kali ni menyiratkan arti, tak banyak kesempatan untuk bisa menikmati pengalaman ini. Meski hanya berdua saja perjalanan cukup menyenangkan, dikarenakan dari ketidaksengajaan menjadi peristiwa yang tidak akan terlupakan. Dengan rencana memperbaiki HP di sebuah Galeri HP di daerah Demangan kota Madiun.
 
  Berangkat dari Ngawi pukul 10. 00 WIB, langsung menuju tempat tujuan. Tak disangka sampai di sana hanya berlangsung selama 15 menit servicenya selesai. Kondisi masih siang sekitar pukul 11. 30 WIB, tentu saja bingung. Perjalanan jauh-jauh dan mumpung libur masak langsung pulang. Sambil dalam perjalanan, memikirkan suatu tempat untuk berwisata. Setelah beberapa refrensi tempat yang saling terlontar, diputuskan untuk pergi ke Telaga Sarangan kota Magetan.
      Perjalanan yang cukup jauh dari Madiun ke Magetan, tapi dengan tekad berdua hal itu semakin yakin dan semangat. Tak perlu susah untuk menemukan tempat wisata ini, hanya perlu mengikuti plang jalan disetiap perempatan jalan raya. Memasuki jalan raya di daerah sekitar Sarangan membuat minder. Seperti biasa, memang untuk medan jalanan yang menanjak dan tikungan apalagi daerah pegunungan membuat pesimis karena belum ahli…. Hehehhee
     Dengan sabar dan tertatih-tatih melawan medan jalan itu, akhirnya sampai juga di temapat tujuan. Sebelum masuk area Wisata harus membayar tiket Rp. 10. 000 per orang. Di sana sepeda motor di parkir dengan aman. Dengan berjalan kaki sambil menikmati keindahan telaga itu keputusan yang benar, meski sangat jauh dan melelahkan.
      ke Telaga Sarangan, rugi kalau tidak menuju air terjun Tirtosari. Letaknya di dekat Telaga Sarangan, untuk masuk ke kawasan itu harus membayar tiket Rp. 4000 per orang. Meski terlalu jauh untuk ke air terjun tetap saja pergi ke sana dengan jalan kaki. Sebenarnya sebelum naik ketanjakan tangga menuju air terjun bisa naik ojek, tapi jalan kaki jadi pilihan karena bisa melihat pemandangan pegunungan dan merasakan kesejukannya.
Ada cerita lucu saat berjalan, tiba-tiba ada seorang kakek yang berbicara tiba-tiba dan menuntun perjalanan sambil bicara soal keadaan jalan dan air terjun. Padahal tidak ada yang minta tapi terus saja mengikuti sambil terus bicara, saat berhenti beliau ikut berhenti…….ooooo ternyata tour guide…. hahahha ….yaudah saat diperjalanan ada mushola, diputuskan untuk sholat dhuhur dan ashar dijamak saja. Ternyata kakek itu masih ada, dengan bereyel-eyelan… hehehehe bahasa nyleneh.yah…dikasih aja uang Rp. 10. 000 dan dicukupkan sampai di situ saja karena nanti kalau sampai di tempat tujuan tambah mahal…hehehehe
      Sampai di tangga tanjakan nafas sudah mulai terengah-engah dan kembang kempis…. Maklum tak terbiasa.  Di sepanjang jalan ada penjual tongkat untuk membantu berjalan. Masih muda jadi tidak perlu, langsung saja jalan. Di tengah perjalanan berhenti sebentar untuk membeli minuman ringan dan berfoto-foto dengan background pegunungan yang menawan, seperti di luar negeri. Hehehehhe……. Minuman ringan dan pemandangan itu membuat tenaga kembali terisi karena gelak tawa yang menyegarkan. Wahhhh….. itulah ungkapan pertama saat tiba di air terjun.
   Air terjun sangat tinggi dan airnya sangat dingin. Tentu saja, selain menikmati keindahan dan pesonanya. Tidak lupa…et….tidak akan terlewatkan momen-momen itu untuk berfoto. Hehehehe… dengan kamera HP seadanya, berfoto-foto ria dengan berbagai pose. Sebenarnya ingin mandi, tapi tak bawa baju ganti jadi tak usahlaah. Di lokasi juga ada juru foto yang siap membantu pengunjung untuk mengabadikan momen di air terjun hanya dengan membayar Rp. 10. 000 per foto langsung cetak dan jadi, siap dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
     Hari semakin sore, turun dari air terjun dengan kaki agak pegal-pegal. Tiba di Telaga, makan dulu sate kelinci dengan Rp. 10.000 untuk 10 tusuk dan Rp. 2000 satu porsi lontong, sambil menikmati pemandangan telaga dan orang-orang yang berteriak-teriak saat naik boat berkeliling telaga. Selesai makan dilanjut beli souvenir baju bertuliskan Telaga Sarangan, kemudian oleh-oleh sayuran segar dan buah yang menarik, yaitu buah kesemek, ternyata buah itu enak seperti buah sawo. Kata pedagangnya, buah itu hanya panen di bualan Juni dan khasiatnya untuk menguatkan jantung.
     Sebelum pulang, masing foto-foto di gedung yang di bawahnya pemandangan alam sore hari yang menyejukan badan. Ternyata di parkiran hanya tinggal motor satu, tentu saja motor itu…. Hehehhehe tukang parkir bergurau akan meninggalkan tapi mereka setia dan menunggui. Karena parkir tutup jam 5 sore.
      Pulanglah ……… dan suasana sore membuat keinginan untuk berhenti sejenak di alun-alun Magetan. Lumayan segar saat di alun-alun. Berfoto-foto sampai magrhib, suasana semakin petang diputuskan untuk pulang. Ealah………saat pulang salah jalan, terus berputar-putar di magetan, dan justru salah jalan lagi. Kebingungan disertai rasa sedikit takut juga, soalnya nyasar dari Magetan kemudian ke Paneakan terus Traken  atau Tarakan jalan yang sangat jauh ternyata sampai ke tempat semula yaitu Demangan Madiun, tempat di mana galeri service HP….hah… berdua bergumam slah ambil perempatan saat di Magetan.
   Ya sudahlah… memang terjadi. Sampai jam 7 malam lebih sedikit diputuskan untuk makan malam di warung ayam goreng di pinggir jalan Madiun. Selesai makan pulanglah….. diperjalanan pulang masing saja ceroboh, bensin habis tapi masih beruntung karena bertepatan dan pas di dekat POM, meski harus dorong motor sebentar… hehehhehehe……. Akhirnya, sampai juga di Ngawi dan rumah masing-masing. Sampai rumah jam 9 malam lebilah…….

Benar-benar pengalaman yang menyenangkan, menakjubkan dan ceroboh tapi penuh gelak tawa …..hehehehhe


Kamis, 02 Juli 2015

Selaraskan Hidup Dalam Muhasabah Cakrawala

          Edisi Candi Ceto dan Watu Jonggol

         Kabut pagi mulai meleleh dari pucuk daun teh, berkelok-kelok menutupi setiap tikungan dan tanjakan di jalan yang menantang. Harum kesejukkan mengembun dalam kaca spion memburamkan retina mata yang berbinar. Cahaya langit telah menyibakan pandangan untuk menikmati keagungan Sang Kuasa yang telah menciptakan keindahan yang tak mungkin dibayangkan oleh setiap manusia.

         Itulah ungkapan yang bisa dikatakan mengenai perjalanan  bertafakur alam kali ini. Berawal dari seorang teman yang datang ke rumah dan mengajak untuk refreshing ke suatu tempat wisata alam daerah pegunungan di Karanganyar, perbatasan antara Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Tempat itu memang sudah lama ingin dikunjungi, tetapi  medan jalan yang tak memungkinkan jadi selalu gagal. Jalan untuk menuju tempat wisata tersebut memang sangat menantang.                                  Bayangkan saja, jalan yang menanjak dan penuh tikungan dengan jarak yang sangat jauh,  justru membuat tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi nanti. Tempat itu adalah Candi Ceto.
         Beruntung sekali, saat liburan puasa Ramadhan 1436 H dan puasa yang ke-12, tidak disangka-sangka seorang teman mengajak ke sana, keinginan untuk melihat peninggalan agama Hindhu yang perlu untuk dijaga sebagai warisan Negara dengan segala sejarahnya akan terpenuhi. Berangkat dari Ngawi langsung  melewati Jogorogo kemudian Ngrambe dan berlanjut ke Sine terus jalan di daerah Karanganyar. Selama perjalanan dan tiba di daerah Sine, pemandangan alam sudah mampu membelalakan mata untuk tidak memejamkan walaupun sebentar. Deretan bukit-bukit hijau, perkebunan teh dan kondisi serta aktivitas penduduk di daerah itu sungguh menakjubkan.

        Sampai di tempat  wisata Candi Ceto, kekaguman pandangan pertama telah terjadi saat melihat gerbang utama. Tiket masuk cukup Rp. 3000, per orang dan kita juga harus memakai kain kotak hitak dan putih seperti di Bali. Meski tidak tahu maksud menggunakkan kain itu, tapi itu pasti dimaksudkan untuk menghargai tempat dan agama masyarakat yang berada di sekitar Candi. Di dalam area candi banyak bangunan candi yang tersusun rapi dan menarik, terdapat relief manusia, patung dewa, serta candi tersebut juga merupakan tempat suci karena masih digunakan oleh masyarakat agama Hindhu untuk bersembahyang. Dari Candi Ceto bisa melihat desa-desa yang ada di bawahnya dan pemandangan alam  yang menyegarkan mata.
         Di Candi Ceto juga terdapat patung Dewi Saraswati, untuk masuk area ini perlu memabar tiket masuk RP. 1. 500 per orang. Jika ingin masuk di arena patung harus melepas alas kaki, Itu dimaksudkan untuk mengormati dan agar tempat tidak kotor. Tepat di bawah patung ada kolam kecil yang di dalamnya banyak koin. Koin itu mungkin dari pengunjung atau masyarakat setempat yag melemparkannya ke dalam kolam. Karena tidak tahu maksudnya jadi tidak melakukannya.
         Di samping area patung terdapat tempat suci yang berbentuk rumah dan dibalut dengan kain putih dan kuning,mungkin itu untuk pemujaan. Kemudian di sampinngnya terdapat juga sendang. Yaitu tempat mandi yang airnya atau sumber mata airnya tidak akan kering. Tempat itu juga dianggap suci oleh masyarakat sekitar. Setelah selesai di tempat itu, selanjutnya menuju Candi Kethek  yang letaknya sekitar dari 300 meter dari patung Dewi Saraswati, saat tiba di candi sayang tak bisa naik ke atas karena ada pagar pengahalang yang dipasang penjaga. Candinya memang tinggi dan masih kokoh dengan batu tersusun sangat rapi, serta di atasnya  terdapat rumah kecil sebagai tempat ibadah.
          Selesai di Candi Ceto, langsung berkunjung tempat wisata alam Watu Jonggol, di Sine, karena tempat itu dilewati saat pulang. Dipostingan sebelumya pernah ada cerita saat ke Jonggol, tetapi gagal dan justru pergi ke air terjun pengantin, heheeee….. kali ini beda, karena di bonceng jadi bisa melewati jalan yang menantang itu,,, hehehhehe
          Untuk masuk ke wisata Watu Jonggol, cukup dengan membayar tiket Rp. 4000 per orang. Saat tiba di tempat itu, termasuk dalam kondisi sepi. Mungkin saat puasa dan sudah sore. Watu Jonggol sangat menarik ada banyak tumpukan batu besar yang menjulang ke atas dan dialiri air menyerupai air terjun.  Kali ini airnya tidak terlalu deras karena musim kemarau. Di wisata ini juga ada kolam renang dewasa dan anak-anak, airnya sangat dingin dan sejuk, membuat badan segar kembali. Watu Jonggol juga punya mata air yang tak pernah kering, air tersebut menurut orang sekitar punya khasiat untuk membuat kemuliaanatau awet muda, namanya Tirta Kamuliyan dan yang lain ……… apa gitu, wahhhhh….. lupa.  Karena hanya melihat dan tak mencoba… sebenarnya masih banyak mata air lainnya, menurut penjaga di situ ada 7 titik mata air yang masing-masing punya khasiatnya sendiri.
           Wisata ini dibangun dengan apik dan menarik, ada beberapa patung hewan yang di buat di masing-masing tempat berbentuk taman bunga. Ada patung yang membuat menarik yaitu patung Naga yang ada di atas batu yang menjonggol. Untuk ke patung itu harus berjalan melewati tangga menanjak ke atas. Setelah sampai di atas ada pondok , dari pondok itu bisa foto-foto dengan patung naga yang menghadap ke langit, dari pondok itu juga dapat melihat pemandangan alam yang menakjubkan serta desa-desa yang ada di bawahnya.

Itulah perjalanan kali ini, selesai dari itu pulang dan persiapan untuk buka puasa…….


Maaf bila ada yang salah dan kurang, penulis hanya mengetahui apa yang dilihat dan pengetahuan yang standar….hehehehe

Rabu, 24 Juni 2015

JONGGOL MENGELUS PENGANTIN

     Liburan semester ini bertepatan dengan puasa ramadhan 1436 H, Wah....pasti tidak sempat liburan bersama keluarga atau teman atau dengan teman dekat....hehehe ....... ternyata pikiran itu salah. Sehari sebelum puasa salah satu teman mengusulkan ide untuk pergi refreshing. Yaaa..........itu ide yang bagus, setuju saja dengan ide itu. 
Sekitar pukul 10.00 WIB berangkat menuju tempat yang akan dijadikan tujuan refershing, meskipun hanya berdua. Tujuan pertama adalah ke Watu Jonggol, Kec. Sine, Kab. Ngawi, karena tempat wisata alam itu tergolong baru dan memiliki pesona alam yang berbeda dengan wisata alam yang ada di Kab. Ngawi. Sudah sampai di Sine malah kebablasan ke jalan Wisata Jamus. Saat sudah sampai di daerah Sine tepatnya di kotanya, akan ada petunjuk jalan untuk menuju ke wisata Watu Jonggol. 
      Ahhhhhhh ...........sudah mengikuti petunjuk ehhhhh....tersesat juga. Sudah naik motor sangat jauh ternyata tersesat sampai jalan buntu. Akhirnya memutuskan untuk bertanya pada penduduk setempat, padahal sudah tanya tetap saja kebingungan dan masih tersesat.....hehehhehe ...maklum memang baru pertama ke Sine. Pribahasa "Malu bertanya tersesat di jalan" itu memang benar...Hehehehe... dengan keputusasaan yang melanda karena kondisi sudah siang dan belum ketemu lokasinya, hampir mau pulang saja.
     Untuk mensiasati rasa malu bertanya, diputuskan untuk mencari minum dulu di warung dengan tujuan sebenarnya adalah bertanya ......hahhahaha. Saat menjumpai warung es buah yang kelihatannya segar, langsung saja belok dan minum es buah di warung itu. Di warung saling ketawa dan terheran-heran sampai tersesat dua kali meski bertanya. Selesai beristirahat, langsung saja bertanya dengan pemilik warung tentang rute Watu Jonggol...Ealah...ternyata pemilik warung juga bingung dengan rutenya, katanya rutenya susahlah, dipanggil anaknya, yang katanya sudah ke sana. Anaknya juga ribet banget jelasin dengan bahasa anak SMA lah....menurut si anak itu jalanya super susah, banyak tanjakan dan tikungan yang curam. Katanya minggu yang lalu ada yang jatuh karena remnya motornya blong .....
      Cerita itu tidak membuat gentar, terus maju dan akhirnya menemukan juga rute untuk ke Watu Jonggol. Huuhh.......ternyata benar jalannya luar biasa susah. Apalagi kondisi yang tak bisa dan tak mampu untuk mengatasi jalan tersebut. Karena setiap tanjakan tidak kuat dan yang dibonceng selalu turun, ketakutan yang berlebih membuat putus asa dan memutuskan untuk tidak jadi dan tak mungkin dilanjutkan, memutuskan untuk pulang saja. Impian untuk melihat keindahan dan Pesona Watu Jonggol telah hilang. Menyesal pasti .............hikhikhihkkkk....
Di perjalanan pulang terbesit pikiran, "Wahh...sudah jauh-jauh masak nggak jadi liburan". Ada dua pilihan ke Jamus atau ke Air Terjun Pengantin, karena dua wisata itu rutenya akan terlewati. Dengan Menimbang keindahan dan kemiripannya dengan Watu jonggol, kami putuskan untuk ke Air terjun pengantin saja. Sipppp deal ....!!!!
     Dengan cepat kilat, langsung Go ........ke Air Terjun Pengantin, Desa Hargomulyo, Kec. Ngrambe, Kab. Ngawi. Meski jalan menuju ke air terjun juga menanjak dan berkelok tapi masih sanggup deh .....hehehehe karena ini bukan untuk pertama kalinya, jadi sudah paham rutenya. kwkwkwkwkwk... sampai di tempat hanya membayar Rp. 10.000 untuk berdua beserta parkir motor sudah bisa memasuki area wisata.
     Saat berada di tempat wisata kondisinya sudah berbeda dari yang dulu, jalannya sudah tertata dan di cor. Untuk keasriannya masih seperti dulu...sungguh luar biasa. Sekarang tempatnya sudah teduh, suara kicau burung yang saling bersaut-sautan, suara air terjun, dan air terjun yang jatuh terkena sinar metari akan membentuk pelangi. Tempat yang cocok untuk berfoto-foto.... 
      Beruntung sekali pada saat itu orang-orang yang berkunjung sudah pulang sehingga sepi, wajar saja sudah jam 15.00 WIB... jadi bisa foto sepuas-puasnya tanpa ada yang mengganggu...hehhehe... kira-ira setagah jam kemudian para pengunjung lain berdatangan, kebanyakan sih pasangan anak muda ...yahhh....tak usah dipedulikan lah ... Happy aja sendiri ... pukul 16.30 WIB pulang. Di tengah perjalanan terasa lapar dan memutuskan mencari makan, pilihannya jatuh ke mie ayam bakso ceker di daerah Paron, Kec, Paron, Kab. Ngawi. Selesai makan, dilanjut pulang dan sampai rumah pukul 17.30 WIB .......Happy Ending...meski ada  Disspointed Ending nya juga... hehehhehe

Senin, 22 Juni 2015

AKU LELAKI BUKAN JIWA PENGEMIS RASA

         Kerasnya hati seseorang akan luluh dengan kerasnya kehidupan. Aku lelaki .................tak perlu dipertanyakan. Ah.....sikap angkuhku, egoisku dan rasa derajatku telah mengalahkan simpatiku pada dunia.

Ilhamilah lirik ini, tercermin diriku.....

Aku takkan pernah kau kalahkan
Walau kau coba hancurkan aku
Aku kan slalu tetap berdiri
Merasa hebat merasa kuat
Aku lelaki tak terkalahkan
meski hati ini kau patahkan
Tetap tegar untuk diriku
Melupakanmu dari hidupku

Aku memang tak sebodoh
Yang kau pikirkan
Karna ku punya semua
mimpi dan tak semudah
itu kau lenyapkan
Dan aku terlalu kuat
Untuk kau taklukkan
Trimalah ini sayang

       Tegakkan kepala, angkat dagu, tatap ke depan, jalan tegak, busungkan dada...... begitulah lelaki, haram meneteskan air mata. Siapkan diri menghunus dunia untuk membelah angkasa..........
ITULAH LELAKI !!!!!!!!!

Minggu, 21 Juni 2015

LESUNG KRISTAL KEHIDUPAN

     
     Ketika matahari mengubah julukanya menjadi mentari, tak ada yang mengusiknya. Luapan api membara berganti saja dengan kehangatan cahaya yang mengembun begitu asri, tak ada yang mencelanya. Amarah dan Emosi yang tersimpan dalam jiwa hanya mampu dipadamkan dengan rasa sabar dan ketabahan, begitulah matahari menjadi mentari.
     Layaknya manusia, bukankah mereka ingin dipuji tentang kebaikan-kebaikannya daripada kejelekanya? Sayang sekali, mereka cenderung mengucap kata pada orang hanya dengan fakta bahkan hanya dengan ujaran yang belum didengarkan langsung oleh telinganya. Perlu dipahami fakta belum tentu mampu membawa kebenaran yang sejati. Dengan kata lain, mereka selalu mencari jalan untuk kebaikannya sendiri dan mencari celah untuk kejelekan orang lain.
     Mereka hanya memproses dirinya hanya untuk mencari keuntungan sendiri, tak jarang memafatkan orang lain demi misi pribadinya. Mudahnya mereka mengombang-ngambingkan hati orang lain tanpa menimbang rasa apa yang dialami oleh orang lain. Sebenarnya orang-orang itulah yang mencabuk raga dan jiwanya dalam kemiskinan hati. 
     Hehhhh...heh...bincang-bincang hal di atas tentu tak lepas dari kata kebahagiaan. Yah....tentu saja, coba kita pikirkan manusia di dunia pasti ingin bahagia. Entah kaya, miskin maupun yang bagiamanapun kondisi mereka, tetap saja menginginkan kebahagiaan. Inilah yang menjadikan hati manusia menjadi beku, panas bahkan buta akan hadirnya hati yang lain. Padahal kebahagiaan bukanlah sesuatu yang didapat melainkan sesuatu yang dijalani. 
    Ehhhh.......jangan salah presepsi. saat kita menjalankan sesuatu dan kita bahagia tapi membuat orang tersakiti berarti itu bukan kebahagiaan. Kebahagiaan yang hakiki sebenarnya saat kita menjalankan sesuatu dan kita bahagia, lalu orang lain bahagia dengan apa yang kita perbuat itulah kebahagiaan. 
    Begitu cara kita membahagiakan diri sendiri, bahkan mampu membahagiakan orang lain. Hemmm....leganya, damainya, suksesnya hidup ini. Dengan begitu kita tidak perlu payah menceritakan apa yang kita punya dan didapat pada orang lain, itu namanya sombong dan riya'. Perbuatan itu hanya akan membelenggu kebahagiaan orang lain dan membuat orang lain malah dapat dosa, karena akan timbul rasa iri dan benci.
Marilah kita sebagai manusia menyebarkan, membagi dan menyelimuti kepada semua orang dengan kebahagiaan. OK.....
Sampai Jumpa ....................!!!!!!!!!!!!!!



Rabu, 13 Mei 2015

JUARA DARI BARANG TERLUPAKAN
(MULIA BERKARYA)

            THE MASTER, itulah sebutan anak-anak mading SMP muhammadiyah 5 Ngawi. Kreator-kreator muda berbakat yang telah membuat gagasan tentang polusi yang terbentuk dari limbah yang sudah dilupakan. Limbah yang menggunung, jika tidak diolah kembali akan berdampak buruk bagi kesehatan diri sendiri maupun lingkungan yang kita tinggali. Oleh karena itu, The Master berpikir bagaimana cara mengurangi limbah di lingkungannya tanpa harus melakukan pemusnahan seperti pembakaran sampah.
            Berawal dari sebuah keprihatinan terhadap lingkungan dan rasa cinta tanah air, tim mading SMP Muhammadiyah 5 ngawi menemukan cara alternatif, ramah lingkungan serta mudah dalam pengolahan sampah tersebut yaitu dengan majalah dinding. Akan tetapi, tidak seperti mading di sekolah-sekolah lainnya. Misalnya, tim mading the master tidak hanya menempelkan koran baru yang dijual di pasar-pasar. Tim mading SMP Muhammadiah 5 ngawi ini sangat kreatif, mereka mengumpulkan berita dari Koran bekas lalu merubah latar belakang yang tadinya membosankan untuk dibaca menjadi sekutip cerita yang menarik pembaca di semua kalangan.
Pengolahan bahan bekas tidak hanya dari Koran. Benda-benda bekas yang lainnya pun diubah menjadi sebuah karya seni dengan tampilan yang menarik dan memukau banyak orang. Seperti halnya kardus-kardus bekas dan botol bekas yang diolah menjadi karya miniature kota Ngawi yang indah.
            Merekapun telah mengikuti berbagai lomba, seperti  Lomba Mading 3D Badan Narkotika Kabupaten (BNK) dan mendapat penghargaan juara 1, hal seperti itu tentu bukan sesuatu yang diraih secara mudah, mereka rela mengorbankan tenaga serta waktu bermain mereka untuk berkarya demi mengharumkan nama sekolah dan membanggakan orang tua. Tak hanya itu mereka baru saja memenangkan sebuah lomba mading yaitu Lomba Mading 3 dasawarsa yang diadakan oleh SMK Panter, tentu saja mereka sangat berbahagia dan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.
            Hal-hal seperti itu tidak akan terjadi tanpa niat usaha dan doa, pembina mereka pun pernah berkata,” Jika ada kemauan tak ada yang mustahil”. Mereka pun dapat menyelesaikan masalah yang tak diharapkan seperti karya yang dirusak oleh murid yang jahil, karya yang rusak dan jatuh terkena angin dan sebagainya.
            Semoga anak-anak yang berbakat seperti mereka dapat membagikan ide-ide dan kekreatifan mereka kepada orang-orang lain agar sampah di Indonesia berkurang serta polusi semakin kecil sehingga tercipta Indonesia yang bersih dan sejuk.
BY: Fajar Annas Abdillah/ VIII


Kamis, 02 April 2015

Is True Life Imajination


PENGKHIANATAN TERHORMAT
 (Season One)
Awan bersahabat pagi ini. Kelembutannya terbawa bersama hembusan angin hingga terasa  di kulit. Cahaya kuning menghiasi angkasa yang kebiruan. Tatapan langit melukiskan putri yang menyibakkan rambut panjang berderetan sebagai salam sapanya. Suasana begitu menyegarkan jiwa yang baru terbangun dari kematian sesaat.
Hidup mewah yang menorehkan kemegahan,  tak semudah menjalaninya. Bagaimana akan memulai kehidupan yang baik jika pilihan kita mengharuskan orang akan menganggap kita sebagai penghianat dan penjahat kelas kakap? Tidak ada satu pun orang yang akan mampu menghadapinya selain diriku.
Aku terlahir dari golongan keluarga yang terhormat dan terhebat yang pernah ada di desaku. Banyak golongan keluarga lain yang merasa iri terhadap keluargaku. Golongan keluargaku mendapat posisi penting dalam desa sebagai kepala keamanan yang memiliki peran melindungi desa dari mara bahaya desa lain. Aku mempunyai seorang adik yang sangat ku sayangi. Apapun akan aku perjuangkan demi kehidupannya, bahkan ku korbankan nyawaku.
Kedekatan kami lebih sekadar kakak dan adik, tetapi sudah luar biasa dekat sehigga hati ini sudah menyatu. Adikku ini sangat manja terhadapku. Dia selalu meminta bantuan untuk berlatih. Ketika tak bisa membantunya, aku selalu memanggil dan menyentil dahinya sebelum sampai di depanku. Kebiasaan itu selalu berkelanjutan.
Sejak kecil aku mempunyai kecerdasan dan kemampuan yang di luar batas, saat umur 7 tahun aku sudah lulus dari akademi. Kehebatan dan kejeniusan yang kumiliki membuat pemimpin desa kagum dan memasukan ke dalam pasukan khusus untuk menjaga desa dari dalam. Pasukan khusus ini mengahruskan aku untuk bekerja sangat terampil, tersembunyi, tercepat dan tanpa meninggalkan jejak.
Inilah awal dari dilema hidup yang kualami. Aku akan menjadi sebuah mesin pembunuh yang akan menghilangkan hatiku sebagai manusia demi sebuah misi terhormat. Kehidupanku kini bagai buah simalakama “ di mana jika tidak aku lakukan maka akan terjadi kehancuran, jika ku lakukan maka akan menghilangkan keluargaku.” Aku berada di dua sisi koin yang saling melengkapi namun salah satunya harus tertutup saat tergeletak.
Masuknya aku dalam pasukan khusus desa telah disetujui oleh ayahku. Di balik persetujuannya aku telah diberikan misi khusus oleh golongan keluargaku untuk memata-matai dan mengorek informasi desa. Ternyata golongan keluargaku yang di pimpin oleh ayahku akan melakukan pemberontakan terhadap desa yang notabene adalah desa mereka juga.
Pemberontakan itu di mulai saat para anggota berpikir negatif terhadap peraturan desa. Pemikiran tersebut timbul karena kondisi pemukiman  golongan keluarga yang diletakan di pinggir desa. Namun tujuan sebenarnya yaitu untuk menguasai desa.
Aku adalah manusia yang suka damai. Aku tidak suka membunuh kecuali dengan terpaksa. Aku tidak suka juga dengan peperangan.
………………………………...........................................Bersambung!!!

Sabtu, 31 Januari 2015

MULIA NEWS (SMP MUHAMMADIYAH 5 NGAWI)



TAUSIAH

Mutiara Istighfar
Oleh : Risqi Yuwanawati, S.Pd

Setiap manusia tidak akan pernah lepas dari "dosa", baik kepada sesama maupun Khaliqnya. Menyadari akan sisi kemanusiaan itu, Islam menegaskan dalam ajarannya, "Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa", dengan menawarkan ’Istighfar" sebagai alatnya.
Manusia adalah makhluk lemah, dia adalah tempatnya salah dan lupa. Dia memiliki nafsu dan ada juga setan yang selalu menggodanya. Nafsu dilukiskan oleh Nabi Yusuf As, sambil mengakui kelemahannya sendiri, dengan pernyataannya : “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali dirahmati oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Begitulah ucapan Nabi mulia Yusuf As, sebagaimana diabadikan dalam QS. Yusuf [12]: 53.
Di sisi lain, setan pun telah siap menjerumuskan manusia. Dia pernah bersumpah di hadapan Allah, “Saya benar-benar akan duduk (menghadapi) mereka di jalan Engkau yang lebar lagi lurus, kemudian saya pasti akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan, Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.
Tidak banyak yang dapat selamat dari godaan setan atau rayuan nafsu. Banyak yang terjerumus secara sadar atau tidak. Karena itu, kita harus beristighfar. Nabi Muhammad Saw. pun diperintahkan untuk beristighfar (QS. Muhammad [47] : 19), kendati beliau adalah manusia teragung dan dosanya yang telah dan akan dilakukan telah diampuni oleh Allah Swt. (QS. Al-Fath [48]: 2). Tidak kurang dari seratus kali sehari beliau bertaubat dan beristighfar. Jika manusia agung saja begitu halnya, maka bagaimana dengan kita? Kesalahan yang disengaja terhadap Allah dan sesama makhluk tidak sedikit yang kita lakukan, aib dan kekurangan kita pun sungguh banyak, yang terlihat atau tidak terlihat. Dari sini, memohon ampunan (istighfar) harusnya menjadi kebutuhan yang tidak boleh kita tinggalkan. Wallahualam bissawab.



Salam Redaksi

Alhamdullillah SMP Mulia (Muhammadiyah 5 Ngawi) pada kesempatan ini telah menerbitkan buletin edisi pertama setelah beberapa waktu sebelumnya vakum.  Misi berdakwah di jalan Allah dengan pedoman Al Quran dan hadist serta sunah Rosulullah telah menjadi semangat kader-kader SMP Mulia dalam memahami islam yang sebenar-benarnya. Keterbukaan terhadap kemajuan disiplin ilmu digunakan juga sebagai ladang berkarya bagi siswa.
Terbitnya buletin ini semata-mata ingin berbagi dan bertukar  wawasan ilmu agama maupun ilmu umum. Karena “Besi kalau diasah terus-menerus akan menjadi jarum”, yaitu kesungguhan, kerja keras, dan ketekunan menuntut ilmu adalah kunci sukses. Kesuksesan dan pencapaian tidak akan terlaksana kecuali kita memfokuskan usaha dan berani mengambil risiko serta memiliki komitmen untuk menjalankannya.
Usaha yang gigih dari kader-kader SMP Mulia telah ditunjukkan dengan hadirnya buletin yang kemudian diberi nama “ Mulia News” ini. Buletin ini dapat meningkatkan minat dan bakat siswa untuk menuangkan kemampuannya melalui karya dan naskah, serta dapat memotivasi siswa agar minat baca selalu menjadi kebiasaan yang positif.
Kemampuan menulis dan berkarya sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan, kemampuan berkarya tidak akan tercapai tanpa adanya media yang tepat untuk menyampaikannya. Buletin ini sebagai salah satu sarana atau media untuk dapat mengekspresikan karya, sehingga orang lain dapat menikmatinya. Buletin ini masih sangat sederhana dan banyak kekurangan sehingga perlu penanganan yang intensif, untuk itu kami tim redaksi mohon saran dan kritik yang bersifat membangun.
“Ingatlah bahwa penundaan adalah Silent Killer. Tidak perlu menunggu segala sesuatunya sempurna untuk memulai sesuatu. Yang diperlukan hanyalah sebuah tindakan……… Tindakan Untuk Memulai”.


                                                                                                                       Redaksi



Pelindung
Drs. Hadi Mustofa, M. Pd. I
(Kepala SMP Muhammadiyah 5 Ngawi)
Penasehat
Wakhid, S. H. I
(Wakasek Kesiswaan)
Pemimpin Redaksi
Ruruh Satri Pangestuti, S. Pd
Dewan Redaksi:
Layout:
Erphan Prasetyo
M. Naufal
Editor:
Danang mahmudi
Handika kalanover
Reporter:
Risqi Yuniawati
Warda Fajria Faradisa
M. zaky
Publikasi :
Feri
Nia Sonia
M. Naufal
Kontibutor:
Semua Anggota Ekskul Buletin

Alamat Redaksi:
SMP Muhammadiyah 5 Ngawi
Alamat Jl. KH. Ahmad Dahlan 26 Ngawi
Telp. 0351- 743511, Email: smppadmanaba@yahoo.co.id, website: smpmuh5ngawi.sch.id

Redaksi menerima kiriman naskah berupa artikel maupun berita dari pembaca, redaksi berhak mengedit naskah yang akan dimuat.





KARYA SISWA DAN GURU

Bermain Imajinasi dengan Puisi


Tanah Raja

Sekelibatan sampur merah
Suara merdu alunan srambang
Menyiratkan semburat kedamaian
Di tengah jajaran kayu bambu

Manusia purba yang meninggalkan tapak
Dalam ketenangan dan sejarah
Tembok besar dari para kompeni
Saksi bisu hidupnya kota Ngawi

Di ufuk timur matahari menerpa sang Lawu
Kepulan asap sesembahan Srigati
Menudingku untuk kembali
Pada kota kenangan yang penuh arti

Dalam ingat masih terngiang
Lekuk si orek dengan sejuta makna
Tanah Raja milik sang dewa
Ngawi ramah yang berbudaya

Oleh: Warda Fajria Faradisa, IX A
(juara I class meeting 2014/2015 dengan tema Budaya Ngawi)



Lorong-lorong Cahaya

Relung kaki bergemih perih
Mengeja tapak yang tak mau menanti
Helaian pasir mengusik janji
Membinasakan goresan yang pecah
Mencabik-cabik malam sunyi

Saat ku tersendat di jalan dakwah
Meghunuskan amanah di gusaran hati
Serasa pulang dari medan Mu’tah
Yang berjuang sampai tanpa kaki

Ku meratapi kaki langit
Menyangga padang sabana berwarna biru merona
Mencoba menggoreskan cahaya di lahan yang sempit
Di atas dunia yang fana

Meninggalkan tiruan langkah yang harus ku tempuh
Menyusuri lorong metafora jalan dakwah
Tak lagi mewariskan keluh kesah
Sampai ku berpijak di pelataran jannah

Danang Mahmudi