Edisi Candi Ceto dan Watu Jonggol
Kabut pagi mulai meleleh dari pucuk daun teh, berkelok-kelok
menutupi setiap tikungan dan tanjakan di jalan yang menantang. Harum kesejukkan
mengembun dalam kaca spion memburamkan retina mata yang berbinar. Cahaya langit
telah menyibakan pandangan untuk menikmati keagungan Sang Kuasa yang telah
menciptakan keindahan yang tak mungkin dibayangkan oleh setiap manusia.

Itulah ungkapan yang bisa dikatakan mengenai perjalanan bertafakur alam kali ini. Berawal dari
seorang teman yang datang ke rumah dan mengajak untuk refreshing ke suatu tempat wisata alam daerah pegunungan di
Karanganyar, perbatasan antara Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Tempat itu memang
sudah lama ingin dikunjungi, tetapi medan jalan yang tak memungkinkan jadi selalu
gagal. Jalan untuk menuju tempat wisata tersebut memang sangat menantang. Bayangkan saja, jalan yang menanjak dan penuh tikungan dengan jarak yang sangat
jauh, justru membuat tidak bisa dibayangkan
apa yang akan terjadi nanti. Tempat itu adalah Candi Ceto.
Beruntung sekali, saat liburan puasa Ramadhan 1436 H dan
puasa yang ke-12, tidak disangka-sangka seorang teman mengajak ke sana,
keinginan untuk melihat peninggalan agama Hindhu yang perlu untuk dijaga
sebagai warisan Negara dengan segala sejarahnya akan terpenuhi. Berangkat dari
Ngawi langsung melewati Jogorogo
kemudian Ngrambe dan berlanjut ke Sine terus jalan di daerah Karanganyar.
Selama perjalanan dan tiba di daerah Sine, pemandangan alam sudah mampu
membelalakan mata untuk tidak memejamkan walaupun sebentar. Deretan bukit-bukit
hijau, perkebunan teh dan kondisi serta aktivitas penduduk di daerah itu
sungguh menakjubkan.

Sampai di tempat
wisata Candi Ceto, kekaguman pandangan pertama telah terjadi saat
melihat gerbang utama. Tiket masuk cukup Rp. 3000, per orang dan kita juga
harus memakai kain kotak hitak dan putih seperti di Bali. Meski tidak tahu
maksud menggunakkan kain itu, tapi itu pasti dimaksudkan untuk menghargai
tempat dan agama masyarakat yang berada di sekitar Candi. Di dalam area candi
banyak bangunan candi yang tersusun rapi dan menarik, terdapat relief manusia,
patung dewa, serta candi tersebut juga merupakan tempat suci karena masih
digunakan oleh masyarakat agama Hindhu untuk bersembahyang. Dari Candi Ceto
bisa melihat desa-desa yang ada di bawahnya dan pemandangan alam yang menyegarkan mata.
Di Candi Ceto juga terdapat patung Dewi Saraswati, untuk
masuk area ini perlu memabar tiket masuk RP. 1. 500 per orang. Jika ingin masuk
di arena patung harus melepas alas kaki, Itu dimaksudkan untuk mengormati dan
agar tempat tidak kotor. Tepat di bawah patung ada kolam kecil yang di dalamnya
banyak koin. Koin itu mungkin dari pengunjung atau masyarakat setempat yag
melemparkannya ke dalam kolam. Karena tidak tahu maksudnya jadi tidak
melakukannya.
Di samping area patung terdapat tempat suci yang berbentuk
rumah dan dibalut dengan kain putih dan kuning,mungkin itu untuk pemujaan.
Kemudian di sampinngnya terdapat juga sendang.
Yaitu tempat mandi yang airnya atau sumber mata airnya tidak akan kering.
Tempat itu juga dianggap suci oleh masyarakat sekitar. Setelah selesai di
tempat itu, selanjutnya menuju Candi Kethek
yang letaknya sekitar dari 300 meter dari patung Dewi Saraswati, saat tiba
di candi sayang tak bisa naik ke atas karena ada pagar pengahalang yang
dipasang penjaga. Candinya memang tinggi dan masih kokoh dengan batu tersusun
sangat rapi, serta di atasnya terdapat
rumah kecil sebagai tempat ibadah.
Selesai di Candi Ceto, langsung berkunjung tempat wisata
alam Watu Jonggol, di Sine, karena tempat itu dilewati saat pulang. Dipostingan
sebelumya pernah ada cerita saat ke Jonggol, tetapi gagal dan justru pergi ke
air terjun pengantin, heheeee….. kali ini beda, karena di bonceng jadi bisa
melewati jalan yang menantang itu,,, hehehhehe
Untuk masuk ke wisata Watu Jonggol, cukup dengan membayar
tiket Rp. 4000 per orang. Saat tiba di tempat itu, termasuk dalam kondisi sepi.
Mungkin saat puasa dan sudah sore. Watu Jonggol sangat menarik ada banyak
tumpukan batu besar yang menjulang ke atas dan dialiri air menyerupai air
terjun. Kali ini airnya tidak terlalu
deras karena musim kemarau. Di wisata ini juga ada kolam renang dewasa dan
anak-anak, airnya sangat dingin dan sejuk, membuat badan segar kembali. Watu
Jonggol juga punya mata air yang tak pernah kering, air tersebut menurut orang
sekitar punya khasiat untuk membuat kemuliaanatau awet muda, namanya Tirta Kamuliyan dan yang lain ……… apa
gitu, wahhhhh….. lupa. Karena hanya
melihat dan tak mencoba… sebenarnya masih banyak mata air lainnya, menurut
penjaga di situ ada 7 titik mata air yang masing-masing punya khasiatnya
sendiri.
Wisata ini dibangun dengan apik dan menarik, ada beberapa patung hewan yang di buat di
masing-masing tempat berbentuk taman bunga. Ada patung yang membuat menarik
yaitu patung Naga yang ada di atas batu yang menjonggol. Untuk ke patung itu
harus berjalan melewati tangga menanjak ke atas. Setelah sampai di atas ada
pondok , dari pondok itu bisa foto-foto dengan patung naga yang menghadap ke
langit, dari pondok itu juga dapat melihat pemandangan alam yang menakjubkan
serta desa-desa yang ada di bawahnya.
Itulah perjalanan kali ini, selesai dari itu pulang dan
persiapan untuk buka puasa…….
Maaf bila ada yang salah dan kurang, penulis hanya
mengetahui apa yang dilihat dan pengetahuan yang standar….hehehehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar