Kamis, 02 Juli 2015

Selaraskan Hidup Dalam Muhasabah Cakrawala

          Edisi Candi Ceto dan Watu Jonggol

         Kabut pagi mulai meleleh dari pucuk daun teh, berkelok-kelok menutupi setiap tikungan dan tanjakan di jalan yang menantang. Harum kesejukkan mengembun dalam kaca spion memburamkan retina mata yang berbinar. Cahaya langit telah menyibakan pandangan untuk menikmati keagungan Sang Kuasa yang telah menciptakan keindahan yang tak mungkin dibayangkan oleh setiap manusia.

         Itulah ungkapan yang bisa dikatakan mengenai perjalanan  bertafakur alam kali ini. Berawal dari seorang teman yang datang ke rumah dan mengajak untuk refreshing ke suatu tempat wisata alam daerah pegunungan di Karanganyar, perbatasan antara Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Tempat itu memang sudah lama ingin dikunjungi, tetapi  medan jalan yang tak memungkinkan jadi selalu gagal. Jalan untuk menuju tempat wisata tersebut memang sangat menantang.                                  Bayangkan saja, jalan yang menanjak dan penuh tikungan dengan jarak yang sangat jauh,  justru membuat tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi nanti. Tempat itu adalah Candi Ceto.
         Beruntung sekali, saat liburan puasa Ramadhan 1436 H dan puasa yang ke-12, tidak disangka-sangka seorang teman mengajak ke sana, keinginan untuk melihat peninggalan agama Hindhu yang perlu untuk dijaga sebagai warisan Negara dengan segala sejarahnya akan terpenuhi. Berangkat dari Ngawi langsung  melewati Jogorogo kemudian Ngrambe dan berlanjut ke Sine terus jalan di daerah Karanganyar. Selama perjalanan dan tiba di daerah Sine, pemandangan alam sudah mampu membelalakan mata untuk tidak memejamkan walaupun sebentar. Deretan bukit-bukit hijau, perkebunan teh dan kondisi serta aktivitas penduduk di daerah itu sungguh menakjubkan.

        Sampai di tempat  wisata Candi Ceto, kekaguman pandangan pertama telah terjadi saat melihat gerbang utama. Tiket masuk cukup Rp. 3000, per orang dan kita juga harus memakai kain kotak hitak dan putih seperti di Bali. Meski tidak tahu maksud menggunakkan kain itu, tapi itu pasti dimaksudkan untuk menghargai tempat dan agama masyarakat yang berada di sekitar Candi. Di dalam area candi banyak bangunan candi yang tersusun rapi dan menarik, terdapat relief manusia, patung dewa, serta candi tersebut juga merupakan tempat suci karena masih digunakan oleh masyarakat agama Hindhu untuk bersembahyang. Dari Candi Ceto bisa melihat desa-desa yang ada di bawahnya dan pemandangan alam  yang menyegarkan mata.
         Di Candi Ceto juga terdapat patung Dewi Saraswati, untuk masuk area ini perlu memabar tiket masuk RP. 1. 500 per orang. Jika ingin masuk di arena patung harus melepas alas kaki, Itu dimaksudkan untuk mengormati dan agar tempat tidak kotor. Tepat di bawah patung ada kolam kecil yang di dalamnya banyak koin. Koin itu mungkin dari pengunjung atau masyarakat setempat yag melemparkannya ke dalam kolam. Karena tidak tahu maksudnya jadi tidak melakukannya.
         Di samping area patung terdapat tempat suci yang berbentuk rumah dan dibalut dengan kain putih dan kuning,mungkin itu untuk pemujaan. Kemudian di sampinngnya terdapat juga sendang. Yaitu tempat mandi yang airnya atau sumber mata airnya tidak akan kering. Tempat itu juga dianggap suci oleh masyarakat sekitar. Setelah selesai di tempat itu, selanjutnya menuju Candi Kethek  yang letaknya sekitar dari 300 meter dari patung Dewi Saraswati, saat tiba di candi sayang tak bisa naik ke atas karena ada pagar pengahalang yang dipasang penjaga. Candinya memang tinggi dan masih kokoh dengan batu tersusun sangat rapi, serta di atasnya  terdapat rumah kecil sebagai tempat ibadah.
          Selesai di Candi Ceto, langsung berkunjung tempat wisata alam Watu Jonggol, di Sine, karena tempat itu dilewati saat pulang. Dipostingan sebelumya pernah ada cerita saat ke Jonggol, tetapi gagal dan justru pergi ke air terjun pengantin, heheeee….. kali ini beda, karena di bonceng jadi bisa melewati jalan yang menantang itu,,, hehehhehe
          Untuk masuk ke wisata Watu Jonggol, cukup dengan membayar tiket Rp. 4000 per orang. Saat tiba di tempat itu, termasuk dalam kondisi sepi. Mungkin saat puasa dan sudah sore. Watu Jonggol sangat menarik ada banyak tumpukan batu besar yang menjulang ke atas dan dialiri air menyerupai air terjun.  Kali ini airnya tidak terlalu deras karena musim kemarau. Di wisata ini juga ada kolam renang dewasa dan anak-anak, airnya sangat dingin dan sejuk, membuat badan segar kembali. Watu Jonggol juga punya mata air yang tak pernah kering, air tersebut menurut orang sekitar punya khasiat untuk membuat kemuliaanatau awet muda, namanya Tirta Kamuliyan dan yang lain ……… apa gitu, wahhhhh….. lupa.  Karena hanya melihat dan tak mencoba… sebenarnya masih banyak mata air lainnya, menurut penjaga di situ ada 7 titik mata air yang masing-masing punya khasiatnya sendiri.
           Wisata ini dibangun dengan apik dan menarik, ada beberapa patung hewan yang di buat di masing-masing tempat berbentuk taman bunga. Ada patung yang membuat menarik yaitu patung Naga yang ada di atas batu yang menjonggol. Untuk ke patung itu harus berjalan melewati tangga menanjak ke atas. Setelah sampai di atas ada pondok , dari pondok itu bisa foto-foto dengan patung naga yang menghadap ke langit, dari pondok itu juga dapat melihat pemandangan alam yang menakjubkan serta desa-desa yang ada di bawahnya.

Itulah perjalanan kali ini, selesai dari itu pulang dan persiapan untuk buka puasa…….


Maaf bila ada yang salah dan kurang, penulis hanya mengetahui apa yang dilihat dan pengetahuan yang standar….hehehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar