Pembelajaran yang berlangsung di kelas maupun di sekolah tidak hanya dilihat dari kesuksesan murid dalam nilai akademik yang memuaskan atau tinggi. Perubahan sikap murid yang lebih baik juga mempengaruhi kesuksesan pembelajaran tersebut. Oleh karena itu, perlulah penanaman nilai-nilai kebajikan di setiap proses pembelajaran. Nilai-nilai kebajikan yang dimaksud berupa toleransi, rasa hormat, integritas, mandiri, menghargai, antusias, empati, keingintahuan, kreativitas, kerja sama, percaya diri, dan komitmen dan sebagainya.
Terjalinnya
interaksi antara pendidik dengan murid atau dengan warga sekolah lainnya
menciptakan prilaku-prilaku yang perlu diperhatikan. Pendidik maupun murid
harus memiliki sikap yang patut untuk diteladani sehingga tercipta lingkungan
yang positif. Hal yang bisa diterapkan oleh pendidik adalah dengan menanamkan
nilai kebajikan tersebut dalam pembelajaran bermakna.
Pembelajaran
bermakna dimaksudkan berupa kegiatan belajar yang langsung bisa dirasakan oleh murid
saat belajar. Pembelajaran yang membuat aktif lebih banyak panca indera murid
dalam bentuk tindakan yang positif. Pengaruh dari pembelajaran yang bermakna
akan menghasilkan informasi yang lebih lama diingat oleh peserta didik,
informasi yang baru dibangun akan memudahkan proses belajar selanjutnya dan
terbentuknya struktur pengetahuan yang baru.
Berdasarkan
hal di atas, nilai-nilai kebajikan yang terimplementasikan dalam pembelajaran bermakna
dapat ditumbuhkan atau didukung dengan budaya positif. Hal itu merupakan strategi
yang tepat untuk menumbuhkan lingkungan positif untuk murid agar terasa nyaman
dan aman dalam belajar. Pendidik dapat pula melakukan berbagai upaya dan refleksi
serta menerapkan praktik disiplin dengan konsep budaya positif dalam rangka
mewujudkan merdeka belajar.
Budaya
positif meliputi 6 hal yaitu perubahan paradigma stimulus respon, konsep
disiplin positif, keyakinan kelas, pemenuhan lima kebutuhan dasar manusia, lima
posisi kontrol, dan segitiga restitusi. Dalam Aksi nyata modul 1.4 yaitu
penerapan budaya positif di kelas dan
implementasi pemahaman konsep kepada rekan sejawat terangkum dalam link video berikut
https://youtu.be/8bYdigf40NM.
Perubahan paradigma stimulus respon, membangun budaya positif di sekolah agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab.
Gambar 1 Perubahan paradigma stimulus respon
Konsep disiplin positif, mendasarkan tindakan murid-murid pada nilai-nilai kebajikan universal. Tiga Motivasi Perilaku Manusia yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.
Gambar 2 Konsep disiplin positif
Keyakinan kelas, dibentuk berisi peraturan-peraturan yang bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan pada umumnya, yang lebih rinci dan konkrit. Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas dengan berpendapat dan bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.
Gambar
3 Keyakinan Kelas
Pemenuhan lima kebutuhan dasar manusia, kebutuhan dasar yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Gambar 4 Lima kebutuhan dasar manusia
Lima posisi kontrol, melalui serangkaian riset dan bersandar pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Orang Merasa Bersalah, Teman, Monitor (Pemantau) dan Manajer.
Gambar
5 Lima posisi kontrol
Segitiga
restitusi, tahapan segitiga restitusi yaitu menstabilkan identitas
(kita akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan), validasi tindakan yang salah (semua perilaku
memiliki alasan),dan menanyakan keyakinan (kita semua memiliki motivasi
internal).
Link video penerapan segitiga restitusi
Implementasi konsep-konsep inti budaya positif ini disampaikan kepada rekan sejawat dalam bentuk desiminasi. Hal- hal positif saat budaya positif ini diterapkan antara lain bagaimana mencipatakan displin positif dengan membedakan hukuman, penghargaan, dan konskuensi. Selain itu juga bagaimana membuat keyakinan kelas bersama murid. Pendidik memposisikan diri sebagai apa dalam menghadapi permasalahan murid melalui posisi kontrol dan segitiga restitusi dengan memenuhi kebutuhan dasar murid. Peserta desiminasi dapat memberi tanggapan dan berkolaborasi jika akan menerapkan budaya positif dalam kelas mereka.
Gambar
6 Desiminasi Budaya Positif Moda Daring Gmeet
Dengan menerapkan konsep budaya
positif akan ada proses perubahan perilaku berupa pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang menjadi hasil latihan dan pengalaman murid. Budaya
positif akan menghasilkan pembelajaran yang bermakna apabila setiap komponen
konsep dilaksanakan dan disesuaikan dengan kondisi, maka tumbuhlah nilai-nilai
kebajikan dalam diri murid yang akan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

.jpeg)



.jpeg)