TEATER BURAM “BUNGA RAMPAI”
SMP MUHAMMADIYAH 5 NGAWI
PRESENT
MARTINAH
(By : Danang Sutowijoyo)
Hidup
hal terindah di dunia ini.
Hidup tak berarti, tanpa ilmu kehidupan. Cadasnya siang, lembutnya malam,
terangnya fajar,
saksi kerinduan kehidupan, di alam fana ini. Itulah
siklus yang harus
kujalani, untuk menantang kehidupanku.
(Suasana Mencekam)
Monolog Martinah:
“Aku Martinah, hanya gadis polos, yang hanya tau soal babu. Cuci, masak, bersih-bersih. Apalagi ! Entahlah! Gadis
remaja bekerja untuk seteguk air. Aku berheti menulis, aku berhenti membaca, aku berhenti bicara, aku telah
terlucuti dari cita-cita.”
“Aku tersiksa. Aku menderita.
Aku tak berdaya. “
Hanya
karena satu benda yang dinamakan uang.
Benda yang hanya diam,
tetapi membugkam
langkahku. Itu semua telah berakhir. Kini takdirku tak akan terulang pada anak
cucuku di negara ini.” (Suasana Mencekam)
Adegan I
Sementara
itu, malam yang tenang di
rumah tua ujung jalan pertokoan kota Ngawi dekat pasar. Dua orang duduk di sebuah “dingklik” saling
berbincang di depan rumah yang hanya berdindingkan
“gedek”.
Ranti :
Mbah Mar, aku harus apa? Jalan apa yang harus aku ambil? Setiap hari aku
harus
pergi ke pasar. Memanggul karung untuk recehan. (bingung)
Martinah :Tak
kesal lah Ranti,
kau harus memanggul, mengangkat, menyeret. Kau
tetaplah
cucuku. Kau tak boleh berpikir macam itu.
(menegarkan)
Kau
lihat bangunan-bangunan besar di tengah kota itu? (telunjuknya menunjuk ke bangunan)
Ranti :
Iya Mbah, aku lihat setiap hari!
Martinah :
Bukankah disitu
ada orang yang sama denganmu? (bertanya tegas)
Ranti :
Tapi, ku hanya anak rendahan!
(merendah)
Martinah :
Aku akan berdirikan kau sejajar dengan mereka. (mengangkat telunjuk ke atas)
Adegan
II
Disela-sela
pembicaraan seorang lelaki paruh baya datang
sambil membawa secangkir kopi keluar dari kamar. Dia lah
Yono pria paruh baya yang tinggal bersama Martinah. Menghampiri Martinah dan
Ranti.
Yono :
Halah, buat apa semangat macam itu? (mengejek, pelan-pelan berjalan
mengitari
Martinah dan Ranti sambil meniup kopinya)
Martinah :
Engkau tak paham dengan ini, Yono. Gadis seperti Ranti punya hak untuk
meraih
masa depan. (penuh
keyakinan)
Yono
: Entar akhirnya hanya di dapur. (sinis dengan duduk santai sambil menyruput
Kopinya)
Martinah : Masih
banyak juga Ranti-ranti yang lain. Itu yang akan ku
perjuangkan. (penuh keyakinan)
Monolog Martinah:
Aku,
Martinah. Kehidupanku telah
berubah. Bukan soal materi, bukan
soal pakaian, bukansoal makanan. Aku menjadi revolusi bagi kaumku. Wanita tak
hanya bersolek, tak hanya menunggu tungku tetap mengebul. Kami punya hak, kami
punya kewajiban, kami punya rasa. Rasa
merubah kehidupan. Dengan meniupkan roh
pada anak cucuku (Semangat)
Adegan
III
Tetesan
terakhir terjatuh di genting
rumah tua itu. Pancaran pelangi tampak bercahaya di gelembung embun tersapu oleh terangnya fajar. Itulah
kediaman Martinah.
Dia bersiap melangkahkan kaki menuju tenda biru di belakang pasar.
Martinah
menuju lokasi dan anak cucunya telah menanti. Di tengah perjalanan dekat
pasar, dekat barang kardus-kardus bekas. Dia
bertemu teman Ranti/ Doni dan Susi. Doni laki-laki berjambang
sedang memarahi adiknya Susi, Gadis kecil yang dipaksa
untuk mengkais botol sampah sambil
menangis.
Martinah :
Apa yang kamu lakukan pada adikmu itu? (berkata keras dan membentak)
Doni :
Diam, jangan ikut campur, dasar orang tua !!
(kembali membentak martinah)
Martinah :
Jangan kurang ajar. Dia tak pantas mengerjakan hal seperti itu. (keras)
Susi :
Mbah, aku ingi belajar, aku tak mau............... (Menangis)
Martinah : (mengangkat tubuh gadis itu)
ayo aku antar kesekolah. Kau harus belajar!!! (tegas
pelan)
Doni :
(menghempaskan badan martinah) arhgg!!!
Martinah : (terlempar) aduhhh....!!!! ahhhh……….
Susi : Mbah!!! (Menangis)
Doni :
(menangkap tangan dan menyeret
susi) ayo!!!
Martinah :
Hentikan!!! Sudah cukup. Dia harus
belajar. Akan aku perjuangkan. (tegas)
Adegan
IV
Keramaian
itu membuat warga pasar terhentak dan berlari ke tempat itu dan mendatangi tempat itu dan cucu mbah Martinah pun datang juga.
Pak Cahyo :
Ada apa ini??? (kaget dan
bertanya-tanya)
Rani :
Enek opo to iki??? Kok yo tangis-tangisan. (Bingung)
Doni :
Pergi semua tidak ada urusan
dengan kalian. (berkata kasar)
Rani :
Mbah Mar!! (berteriak sambil terperangah melihat Mbah Martinah jatuh di
belakang Doni)
Martinah :
Sudah cukup!!! Aku hanya ingin melihat anak cucuku ini jadi orang bukan
hanya
kuli, pemulung di pasar!
(menangis tersedu-sedu)
Rani :
(membantu Martinah
bangun) tenang dulu Mbah!!!
Adegan
V
Suasana
berubah tenang. Ditengah teriknya matahari Rani
membawa martinah pulang dalam keadaan luka di bahunya.
Keesokannya harinya saat matahari mulai menunjukkan muka, rumah tua ujung jalan
pasar Ngawi itu dikerumuni orang. Dari kejauhan Ranti berjalan menuju rumah
itu....lalu bertemu dengan seorang warga di jalan.
Ranti : Bendera
kuning (bingung)
Pak Darmo :
Itu....
itu.... ramai sekali, ada apa ya Nak??
(bertanya-tanya)
Ranti :
Entahlah aku tidak tahu, aku baru datang, tapi.... (bingung)
Pak Darmo :
Sepertinya ada yang meninggal
(jelas)
Ranti :Tidak mungkin, disitukan yang
tinggal hanya....(berpikir Martinah
meninggal, terasa sedih)
Adegan VI
Ranti
berjalan masuk ke rumah berdesakan dengan
warga (Susi, Doni, Rani, Pak Cahyo dan Yono)
dan melihat Martinah
terbaring di atas
tikar dan tertutup “jarik” di ruang tamunya. (Suasana Duka)
Ranti :
(terhentak dan air matanya menetes) ...................tidak mungkin
Yono :
Aku memang tak sepaham, tapi
aku percaya denganmu mbah...(matanya
memerah)
Pak Darmo :
Sudah takdir wanita tua ini...
Ranti :
tapi... tapi....(air matanya menetes) ini aku berikan untuk mbah!!!! (terbata-bata sambil
membawa surat)
Yono :
Apa itu…??? (mengambil surat itu dan
membacanya lalu mengumumkannya Keras-keras isi surat itu)
Inti isi surat:
Ranti
dari ngawi akan mewakili Indonesia
dalam rangka Olimpiade Internasional di Beijing.
Ranti : Inilah mbahku (berkata pelan sambil
tersedu-sedu)
Lihatlah.....lihatlah....inilah….. Mbahku… (tegas sambil menunjukkan sosok Martinah
ke semua orang)
Mbah Martinah,
Mbah yang memperjuangkan masa
depan kami para gadis lingkungan kumuh. Beliau telah membuatku punya hak, punya
kesempatan. (dengan kata yang keras dan
marah)
Lihatlah
inilah ……….. Mbah Martinah ku....(pelan dan penuh kepastian dan meneteskan air mata)
-SELESAI-