Naskah
Teater
MARTINAH
Oleh Danang Sutowijoyo
SIPNOSIS:
Cerita ini berlatar belakang
seoarang wanita tua yang dulunya hanya seorang gadis desa miskin. Namanya,
Martinah. Martinah putus sekolah dan harus bekerja menjadi seorang babu. Namun
itu, menjadi masa lalu Martinah. Dalam teater ini Martinah menjadi sosok yang
membela kaumnya, terutama anak-anak perempuan di desanya yang berada di kawasan
sekitar pasar. Martinah berpikir dan bertindak agar gadis-gadis pasar itu bisa
meraih masa depan yang cemerlang bukan hanya bekerja di pasar. Martinah menyerukan
kelak mereka tidak hanya di dapur saja. Martinah yang dulu kalah dengan ekonomi
dan terbungkam oleh uang, kini dia akan berganti menyekap uang agar tidak
membatasi pendidikan mereka. Martinah akan menjadikan mereka orang yang berguna
dan sejajar dengan orang-orang lainnya. …………….
PEMAIN:
1. Martinah (50
tahun, Wanita tua penyayang, tegardan peduli)
2. Ranti (14 tahun, gadis pintar dan
bersemangat belajar)
3. Yono (32 tahun, laki-laki yang sinis dan
pesimis)
4. Doni (25 tahun, laki-laki pengangguran
yang kejam)
5. Susi (13 tahun, gadis polos lemah dan
penurut)
6. Pak Cahyo (30 tahun, pria Cina pedagang di
pasar)
7. Rani (14 tahun, gadis peduli dengan
sesama)
8. Pak Darmo (40 tahun, laki-laki berwibawa)
9. NARATOR
SETTING
(SUASANA
MENCEKAM (backsound hujan disertai petir) DI TENGAH PANGGUNG DENGAN LAMPU SOROT
TERFOKUS PADA NARATOR)
Hidup
hal terindah di dunia ini.
Hidup tak berarti, tanpa ilmu kehidupan. Cadasnya siang, lembutnya malam,
terangnya fajar,
saksi kerinduan kehidupan, di alam fana ini. Itulah
siklus yang harus
kujalani, untuk menantang kehidupanku.
(SUASANA SAKRAL
DENGAN DISERTAI LAGU JAWA MACAPAT DAN LAMPU SOROT TERANG REDUP TERFOKUS PADA
MARTINAH DI TENGAH PANGGUNG.)
Monolog Martinah:
“Aku Martinah, hanya gadis polos, yang hanya tau soal babu. Cuci, masak, bersih-bersih. Apalagi ! Entahlah! Gadis
remaja bekerja untuk seteguk air. Aku berheti menulis, aku berhenti membaca, aku berhenti bicara, aku telah
terlucuti dari cita-cita.”
“Aku tersiksa. Aku menderita.
Aku tak berdaya. “
Hanya
karena satu benda yang dinamakan uang.
Benda yang hanya diam,
tetapi membugkam
langkahku. Itu semua telah berakhir. Kini takdirku tak akan terulang pada anak
cucuku di negara ini.”
(MARTINAH DAN
RANTI DUDUK DI KURSI DINGKLIK DENGAN KONDISI MALAM YANG HUJAN. LAMPU SOROT
DENGAN CAHAYA REDUP MENYINARI RUANG )
Adegan I
Malam yang tenang di
rumah tua ujung jalan pertokoan kota Ngawi dekat pasar. Dua orang duduk di sebuah “dingklik” saling
berbincang di depan rumah yang hanya berdindingkan “gedek”.
Ranti :
Mbah Mar, aku harus apa? Jalan apa yang harus aku ambil? Setiap hari aku
harus
pergi ke pasar. Memanggul karung untuk recehan. (bingung)
Martinah :Tak
kesal lah Ranti,
kau harus memanggul, mengangkat, menyeret. Kau
tetaplah
cucuku. Kau tak boleh berpikir macam itu.
(menegarkan)
Kau
lihat bangunan-bangunan besar di tengah kota itu? (telunjuknya menunjuk
ke bangunan)
Ranti :
Iya Mbah, aku lihat setiap hari!
Martinah :
Bukankah disitu
ada orang yang sama denganmu? (bertanya tegas)
Ranti :
Tapi, ku hanya anak rendahan!
(merendah)
Martinah :
Aku akan berdirikan kau sejajar dengan mereka. (mengangkat telunjuk ke atas)
Adegan
II
Disela-sela
pembicaraan seorang lelaki paruh baya datang
sambil membawa secangkir kopi keluar dari kamar. Dia
lah Yono pria paruh baya yang tinggal bersama Martinah. Menghampiri Martinah
dan Ranti.
Yono :
Halah, buat apa semangat macam itu? (mengejek, pelan-pelan berjalan
mengitari
Martinah dan Ranti sambil meniup kopinya)
Martinah :
Engkau tak paham dengan ini, Yono. Gadis seperti Ranti punya hak untuk
meraih
masa depan. (penuh
keyakinan)
Yono
: Entar akhirnya hanya di dapur. (sinis dengan duduk santai sambil menyruput
Kopinya)
Martinah : Masih
banyak juga Ranti-ranti yang lain. Itu yang akan ku
perjuangkan. (penuh
keyakinan)
(SUASANA SEMANGAT DENGAN LAMPU SOROT TERFOKUS PADA
MARTINAH DI TENGAH PANGGUNG DENGAN BACKGROUND RUMAH MARITNAH)
Monolog Martinah:
Aku,
Martinah. Kehidupanku telah
berubah. Bukan soal materi, bukan
soal pakaian, bukansoal makanan. Aku menjadi revolusi bagi kaumku. Wanita tak
hanya bersolek, tak hanya menunggu tungku tetap mengebul. Kami punya hak, kami
punya kewajiban, kami punya rasa. Rasa merubah kehidupan. Dengan meniupkan roh
pada anak cucuku.
(SUASANA PAGI DI
RUMAH MARTINAH DISERTAI BACKSOUND PAGI)
Adegan
III
Tetesan
terakhir terjatuh di genting
rumah tua itu. Pancaran pelangi tampak bercahaya di gelembung embun tersapu oleh terangnya fajar. Itulah
kediaman Martinah.
Dia bersiap melangkahkan kaki menuju tenda biru di belakang pasar.
Martinah
menuju lokasi dan anak cucunya telah menanti. Di tengah perjalanan dekat
pasar, dekat barang kardus-kardus bekas. Dia
bertemu teman Ranti/ Doni dan Susi. Doni laki-laki berjambang
sedang memarahi adiknya Susi, Gadis kecil yang dipaksa
untuk mengkais botol sampah sambil
menangis.
Martinah :
Apa yang kamu lakukan pada adikmu itu? (berkata keras dan membentak)
Doni :
Diam, jangan ikut campur, dasar orang tua !!
(kembali membentak martinah)
Martinah :
Jangan kurang ajar. Dia tak pantas mengerjakan hal seperti itu. (keras)
Susi :
Mbah, aku ingi belajar, aku tak mau............... (Menangis)
Martinah : (mengangkat tubuh gadis itu)
ayo aku antar kesekolah. Kau harus belajar!!!
(tegas
pelan)
Doni :
(menghempaskan badan martinah) arhgg!!!
Martinah : (terlempar) aduhhh....!!!! ahhhh……….
Susi : Mbah!!! (Menangis)
Doni :
(menangkap tangan dan menyeret
susi) ayo!!!
Martinah :
Hentikan!!! Sudah cukup. Dia harus
belajar. Akan aku perjuangkan. (tegas)
Adegan
IV
Keramaian
itu membuat warga pasar terhentak dan berlari ke tempat itu dan mendatangi tempat itu dan cucu mbah Martinah pun datang juga.
Pak Cahyo :
Ada apa ini??? (kaget dan
bertanya-tanya)
Rani :
Enek opo to iki??? Kok yo tangis-tangisan. (Bingung)
Doni :
Pergi semua tidak ada urusan
dengan kalian. (berkata kasar)
Rani :
Mbah Mar!! (berteriak sambil terperangah melihat Mbah Martinah jatuh di
belakang Doni)
Martinah :
Sudah cukup!!! Aku hanya ingin melihat anak cucuku ini jadi orang bukan
hanya
kuli, pemulung di pasar!
(menangis tersedu-sedu)
Rani :
(membantu Martinah
bangun) tenang dulu Mbah!!!
Adegan
V
Suasana
berubah tenang. Ditengah teriknya matahari Rani
membawa martinah pulang dalam keadaan luka di
bahunya. Keesokannya harinya saat matahari mulai
menunjukkan muka, rumah tua ujung jalan pasar Ngawi itu dikerumuni orang. Dari
kejauhan Ranti berjalan menuju rumah itu....lalu
bertemu dengan seorang warga di jalan.
Ranti : Bendera
kuning (bingung)
Pak Darmo :
Itu....
itu.... ramai sekali, ada apa ya Nak??
(bertanya-tanya)
Ranti :
Entahlah aku tidak tahu, aku baru datang, tapi.... (bingung)
Pak Darmo :
Sepertinya ada yang meninggal
(jelas)
Ranti :Tidak mungkin, disitukan yang
tinggal hanya....(berpikir Martinah
meninggal, terasa sedih)
(SUASANA DUKA
MENGHARUKAN DI RUANG TENGAH RUMAH MARTINAH DENGAN LAMPU SOROT FOKUS PADA RANTI
DAN MARTINAH DISERTAI INSTRUMENTAL BIOLA GUGUR BUNGA)
Adegan VI
Ranti
berjalan masuk ke rumah berdesakan dengan
warga (Susi, Doni, Rani, Pak Cahyo dan Yono)
dan melihat Martinah
terbaring di atas
tikar dan tertutup “jarik” di ruang tamunya.
Ranti :
(terhentak dan air matanya menetes) ...................tidak mungkin
Yono :
Aku memang tak sepaham, tapi
aku percaya denganmu mbah...(matanya
memerah)
Pak Darmo :
Sudah takdir wanita tua ini...
Ranti :
tapi... tapi....(air matanya menetes) ini aku berikan untuk mbah!!!! (terbata-bata
sambil
membawa surat)
Yono :
Apa itu…??? (mengambil surat itu dan
membacanya lalu mengumumkannya
Keras-keras isi surat itu)
Inti isi surat:
Ranti
dari ngawi akan mewakili Indonesia
dalam rangka Olimpiade Internasional di Beijing.
(SUASANA HARU
DENGAN LAMPU SOROT FOKUS PADA RANTI DISERTAI BACKSOUND BIOLA LAGU SEDIH)
Ranti : Inilah mbahku (berkata pelan sambil
tersedu-sedu)
Lihatlah.....lihatlah....inilah….. Mbahku… (tegas sambil menunjukkan sosok Martinah
ke semua orang)
Mbah Martinah,
Mbah yang memperjuangkan masa
depan kami para gadis lingkungan kumuh. Beliau telah membuatku punya hak, punya
kesempatan. (dengan kata yang keras dan
marah)
Lihatlah
inilah ……….. Mbah Martinah ku....(pelan dan penuh kepastian dan meneteskan air mata)
(DI TUTUP DENGAN INSTRUMENTAL GUGUR BUNGA)
-SELESAI-
|
BURAM “BUNGA RAMPAI”
PUTRA SURYA MENYINGSING KALA
MENAPAK TANGGA KESADARAN INSAN
API BERKOBAR MENUSUK RAGA
MELEBUR JIWA DALAM BUNGA RAMPAI
|