TATAPAN
MU, TATAPAN ANAK MU
Duri yang tertancap
dari luar memang sakit, namun bisa diambil dan sembuh Tapi,
duri yang tertanam
dalam jiwa akan tumbuh dan mengkoyak raga
Tidak ada yang lebih berarti bagi semua
orang selain dari keluarga. Di seluruh dunia terdapat beragam bentuk keluarga
yang telah tercipta. Keluarga yang dibentuk dari berbagai latar belakang
budaya, adat, maupun masyarakat. Hadirnya sebuah keluarga memberi kehangatan
kasih sayang untuk setiap orang. Bahkan, keluarga tidak hanya dari hubungan
darah saja, orang yang paling dekat dengan kita bisa juga disebut sebagai
keluarga. Ikatan yang dalam dan saling memahami antara satu dengan lainnya menjadikan
orang lain sebagai keluarga.
Dalam
keluarga yang lengkap terdiri dari ayah, ibu dan anak. Mereka memiliki
peranannya masing-masing. Ayah mencari nafkah untuk keluarganya, ibu mengurus
segalanya untuk suami dan anaknya, dan anak mendapat kasih sayang dan
pendidikan yang baik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Itulah idaman sebuah
keluarga. Sebuah keinginan untuk seseorang yang sedang membentuk keluarganya
sendiri. Terutama untuk menjadikan
seorang anak yang berkarakter mulia dalam keluarganya.
Untuk
mewujudkan hal semacam itu, bukankah yang membuat tidak tercapai keinginan
tersebut adalah peranan seorang anak. Karena peranan seorang anak tersebut
sangatlah rapuh, yang namanya anak tak akan sanggup berdiri sendiri tanpa
ungkapan dan pegangan orang tuanya. Oleh karena itu, bagaimana pun itu latar
belangkang orang tuanya, dari orang tua yang miskin maupun orang tua yang kaya
tetaplah seorang anak membutuhkan suapan kata-kata dan tindak laku yang
mencerminkan karakter yang baik, bahkan dari orang tua tunggal (single mother/ father) sekali pun.
Bimbingan
keluarga kepada seorang anak dari balita akan menentukan karakter anak
sampai dewasa nanti. Karena keluarga
sebagai sarana awal mendidik seseorang anak yang sangat penting. Ketika anak masih
kecil, dia akan meniru semua prilaku semua orang yang dijumpai dan dilihat.
Sementara itu, anak kecil hanya beraktivitas hampir 100% di lingkungan
keluarganya saja. Melihat ayah yang sedang membaca. Anak akan merespon untuk
melakukan hal yang sama. Melihat dan mendengar ibu yang mengucapkan salam
ketika masuk rumah. Anak akan bertindak hal yang sama. Anak-anak akan lebih
peka terhadap apa yang ada dihadapannya. Begitulah anak-anak yang sedang
mengenal hal baru sekaligus langsung mempraktekannya.oleh sebab itu, anak-anak hanya akan berpikir satu arah
berdasarkan kondisi.
Dengan
begitu, bukankah keluarga sangat berandil besar dalam penanaman pendidikan yang
efektif terhadap anak. Ironisnya sekarang ini banyak keluarga yang mendidik
anak-anak keluar dari koridornya. Yang dimaksud koridor di sini adalah seorang
ayah dan ibu lebih memikirkan dan menginginkan kesenangan dan sanjungan bagi
dirinya sendiri maupun anaknya. Padahal, untuk mendidik anak yang di mulai dari
keluarga, keluarga khususnya ayah dan ibu harus lebih sering berucap dan
bertindak sesuai dengan cara agama. Agama akan menerapkan pada diri anak akan
kebaikan-kebaikan yang ada dalam dunia ini.
Lebih
dari itu, keluarga yang mendekatkan prilaku-prilaku sesuai dengan tuntunan
pendidikan agama, anak akan memiliki sikap yang mampu membentuk pribadi mulia.
Di mana pun berada anak tersebut, meskipun dengan segala pengaruh dari lingkungan masyarakat yang tak jelas, karena
setiap orang yang dijumpai mempunyai daya pikatnya sendiri-sendiri, anak
ersebut akan tetap punya pendirian. Anak yang setiap harinya diberi pendidikan
yang baik di keluarganya mampu menyikapi dan mengahadapi hal-hal buruk yang
mungkin saja akan terjadi. Coba
bandingkan saja dengan anak yang di didik dengan cara gaya barat. Pendidikan
barat lebih mengutamakan sikap lebih bebas, lihat saja di televise atau di
tempat-tempat umum. Banyak sekali anak-anak yang memakai celana pendek dan baju
setengah jadi. Dari mana anak-anak itu bisa memakai pakaian semacam itu. Tentu
saja dari orang tuanya, mana mungkin anak-anak dapat membelinya sendiri kecuali
orang tuanya membelikannya.
Sebuah
dukungan yang luar biasa dari orang tua kepada anaknya. Lalu, hal itu pasti
akan tertanam pada anak bahwa memakai pakaian semacam itu memang layak dan
pantas. Sampai anak dewasa pendidikan semacam itu akan terbawa dan jika terjadi
sesuatu yang tidak dinginkan, bukankah kita yang menyesal dan merasa rugi
sebagai orang tua. Ucapan dan perbuatan yang tercermin dimasyarakat masih lah
banyak yang terlewat batas dan main-main dengan masa depan karakter anak-anak
mereka. Kejadian-kejadian yang mengharuskan dan memaksa anak melakukkan ucapan
kotor, prilaku menyimpang dan tindakan kriminal adalah kesalahan keluarga yang
tidak memberikan pendidikan awal yang baik.
Secarik
contoh di atas hanyalah potret kecil betapa hebatnya sebuah keluarga dalam
pendidikan seorang anak untuk meraih masa depannya. Jika para orang tua mampu
menyadari dirinya adalah figur dan panutan yang memang pantas ditiru oleh
anaknya, pasti mereka akan menjadi roh untuk penghidupan Negara di masa datang.
Mereka akan selalu menjaga, mendampingi dan membimbing putra-putrinya dalam
setiap langkah yang tepat dan sehat. Lupakan semua tentang latar belakang
sebagai orang tua yang miskin, kaya maupun orang tua single, tetap berikan pendidikan yang baik. Karena kalian para
orang tualah yang akan menjadi lensa kami para anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar