Selasa, 03 Mei 2016

Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak



TATAPAN MU, TATAPAN ANAK MU

Duri yang tertancap dari luar memang sakit, namun bisa diambil dan sembuh Tapi,
duri yang tertanam dalam jiwa akan tumbuh dan mengkoyak raga


Tidak ada yang lebih berarti bagi semua orang selain dari keluarga. Di seluruh dunia terdapat beragam bentuk keluarga yang telah tercipta. Keluarga yang dibentuk dari berbagai latar belakang budaya, adat, maupun masyarakat. Hadirnya sebuah keluarga memberi kehangatan kasih sayang untuk setiap orang. Bahkan, keluarga tidak hanya dari hubungan darah saja, orang yang paling dekat dengan kita bisa juga disebut sebagai keluarga. Ikatan yang dalam dan saling memahami antara satu dengan lainnya menjadikan orang lain sebagai keluarga. 
 
Dalam keluarga yang lengkap terdiri dari ayah, ibu dan anak. Mereka memiliki peranannya masing-masing. Ayah mencari nafkah untuk keluarganya, ibu mengurus segalanya untuk suami dan anaknya, dan anak mendapat kasih sayang dan pendidikan yang baik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Itulah idaman sebuah keluarga. Sebuah keinginan untuk seseorang yang sedang membentuk keluarganya sendiri.  Terutama untuk menjadikan seorang anak yang berkarakter mulia dalam keluarganya.
Untuk mewujudkan hal semacam itu, bukankah yang membuat tidak tercapai keinginan tersebut adalah peranan seorang anak. Karena peranan seorang anak tersebut sangatlah rapuh, yang namanya anak tak akan sanggup berdiri sendiri tanpa ungkapan dan pegangan orang tuanya. Oleh karena itu, bagaimana pun itu latar belangkang orang tuanya, dari orang tua yang miskin maupun orang tua yang kaya tetaplah seorang anak membutuhkan suapan kata-kata dan tindak laku yang mencerminkan karakter yang baik, bahkan dari orang tua tunggal (single mother/ father) sekali pun.
Bimbingan keluarga kepada seorang anak dari balita akan menentukan karakter anak sampai  dewasa nanti. Karena keluarga sebagai sarana awal mendidik seseorang anak yang sangat penting. Ketika anak masih kecil, dia akan meniru semua prilaku semua orang yang dijumpai dan dilihat. Sementara itu, anak kecil hanya beraktivitas hampir 100% di lingkungan keluarganya saja. Melihat ayah yang sedang membaca. Anak akan merespon untuk melakukan hal yang sama. Melihat dan mendengar ibu yang mengucapkan salam ketika masuk rumah. Anak akan bertindak hal yang sama. Anak-anak akan lebih peka terhadap apa yang ada dihadapannya. Begitulah anak-anak yang sedang mengenal hal baru sekaligus langsung mempraktekannya.oleh sebab itu,  anak-anak hanya akan berpikir satu arah berdasarkan kondisi.
Dengan begitu, bukankah keluarga sangat berandil besar dalam penanaman pendidikan yang efektif terhadap anak. Ironisnya sekarang ini banyak keluarga yang mendidik anak-anak keluar dari koridornya. Yang dimaksud koridor di sini adalah seorang ayah dan ibu lebih memikirkan dan menginginkan kesenangan dan sanjungan bagi dirinya sendiri maupun anaknya. Padahal, untuk mendidik anak yang di mulai dari keluarga, keluarga khususnya ayah dan ibu harus lebih sering berucap dan bertindak sesuai dengan cara agama. Agama akan menerapkan pada diri anak akan kebaikan-kebaikan yang ada dalam dunia ini.
Lebih dari itu, keluarga yang mendekatkan prilaku-prilaku sesuai dengan tuntunan pendidikan agama, anak akan memiliki sikap yang mampu membentuk pribadi mulia. Di mana pun berada anak tersebut, meskipun dengan segala pengaruh dari  lingkungan masyarakat yang tak jelas, karena setiap orang yang dijumpai mempunyai daya pikatnya sendiri-sendiri, anak ersebut akan tetap punya pendirian. Anak yang setiap harinya diberi pendidikan yang baik di keluarganya mampu menyikapi dan mengahadapi hal-hal buruk yang mungkin saja akan terjadi.  Coba bandingkan saja dengan anak yang di didik dengan cara gaya barat. Pendidikan barat lebih mengutamakan sikap lebih bebas, lihat saja di televise atau di tempat-tempat umum. Banyak sekali anak-anak yang memakai celana pendek dan baju setengah jadi. Dari mana anak-anak itu bisa memakai pakaian semacam itu. Tentu saja dari orang tuanya, mana mungkin anak-anak dapat membelinya sendiri kecuali orang tuanya membelikannya.
Sebuah dukungan yang luar biasa dari orang tua kepada anaknya. Lalu, hal itu pasti akan tertanam pada anak bahwa memakai pakaian semacam itu memang layak dan pantas. Sampai anak dewasa pendidikan semacam itu akan terbawa dan jika terjadi sesuatu yang tidak dinginkan, bukankah kita yang menyesal dan merasa rugi sebagai orang tua. Ucapan dan perbuatan yang tercermin dimasyarakat masih lah banyak yang terlewat batas dan main-main dengan masa depan karakter anak-anak mereka. Kejadian-kejadian yang mengharuskan dan memaksa anak melakukkan ucapan kotor, prilaku menyimpang dan tindakan kriminal adalah kesalahan keluarga yang tidak memberikan pendidikan awal yang baik.
Secarik contoh di atas hanyalah potret kecil betapa hebatnya sebuah keluarga dalam pendidikan seorang anak untuk meraih masa depannya. Jika para orang tua mampu menyadari dirinya adalah figur dan panutan yang memang pantas ditiru oleh anaknya, pasti mereka akan menjadi roh untuk penghidupan Negara di masa datang. Mereka akan selalu menjaga, mendampingi dan membimbing putra-putrinya dalam setiap langkah yang tepat dan sehat. Lupakan semua tentang latar belakang sebagai orang tua yang miskin, kaya maupun orang tua single, tetap berikan pendidikan yang baik. Karena kalian para orang tualah yang akan menjadi lensa kami para anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar