TAUSIAH
Mutiara
Istighfar
Oleh :
Risqi Yuwanawati, S.Pd
Setiap manusia tidak akan pernah lepas
dari "dosa", baik kepada sesama maupun Khaliqnya. Menyadari akan sisi
kemanusiaan itu, Islam menegaskan dalam ajarannya, "Janganlah berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa", dengan
menawarkan ’Istighfar" sebagai alatnya.
Manusia adalah makhluk lemah, dia
adalah tempatnya salah dan lupa. Dia memiliki nafsu dan ada juga setan yang
selalu menggodanya. Nafsu dilukiskan oleh Nabi Yusuf As, sambil mengakui
kelemahannya sendiri, dengan pernyataannya : “Dan aku tidak membebaskan diriku
(dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada kejahatan,
kecuali dirahmati oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”. Begitulah ucapan Nabi mulia Yusuf As, sebagaimana diabadikan dalam
QS. Yusuf [12]: 53.
Di sisi lain, setan pun telah siap
menjerumuskan manusia. Dia pernah bersumpah di hadapan Allah, “Saya benar-benar
akan duduk (menghadapi) mereka di jalan Engkau yang lebar lagi lurus, kemudian
saya pasti akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari
kanan dan dari kiri mereka. Dan, Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka
bersyukur”.
Tidak banyak yang dapat selamat dari
godaan setan atau rayuan nafsu. Banyak yang terjerumus secara sadar atau tidak.
Karena itu, kita harus beristighfar. Nabi Muhammad Saw. pun diperintahkan untuk
beristighfar (QS. Muhammad [47] : 19), kendati beliau adalah manusia teragung
dan dosanya yang telah dan akan dilakukan telah diampuni oleh Allah Swt. (QS.
Al-Fath [48]: 2). Tidak kurang dari seratus kali sehari beliau bertaubat dan
beristighfar. Jika manusia agung saja begitu halnya, maka bagaimana dengan
kita? Kesalahan yang disengaja terhadap Allah dan sesama makhluk tidak sedikit
yang kita lakukan, aib dan kekurangan kita pun sungguh banyak, yang terlihat
atau tidak terlihat. Dari sini, memohon ampunan (istighfar) harusnya menjadi
kebutuhan yang tidak boleh kita tinggalkan. Wallahualam bissawab.
Salam
Redaksi
Alhamdullillah
SMP Mulia (Muhammadiyah 5 Ngawi) pada kesempatan ini telah menerbitkan buletin
edisi pertama setelah beberapa waktu sebelumnya vakum. Misi berdakwah di jalan Allah dengan pedoman
Al Quran dan hadist serta sunah Rosulullah telah menjadi semangat kader-kader SMP
Mulia dalam memahami islam yang sebenar-benarnya. Keterbukaan terhadap kemajuan
disiplin ilmu digunakan juga sebagai ladang berkarya bagi siswa.
Terbitnya
buletin ini semata-mata ingin berbagi dan bertukar wawasan ilmu agama maupun ilmu umum. Karena “Besi kalau diasah terus-menerus akan menjadi
jarum”, yaitu kesungguhan, kerja keras, dan ketekunan menuntut ilmu adalah
kunci sukses. Kesuksesan dan pencapaian tidak akan terlaksana kecuali kita
memfokuskan usaha dan berani mengambil risiko serta memiliki komitmen untuk
menjalankannya.
Usaha
yang gigih dari kader-kader SMP Mulia telah ditunjukkan dengan hadirnya buletin
yang kemudian diberi nama “ Mulia News”
ini. Buletin ini dapat meningkatkan minat dan bakat siswa untuk menuangkan
kemampuannya melalui karya dan naskah, serta dapat memotivasi siswa agar minat
baca selalu menjadi kebiasaan yang positif.
Kemampuan
menulis dan berkarya sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan, kemampuan
berkarya tidak akan tercapai tanpa adanya media yang tepat untuk
menyampaikannya. Buletin ini sebagai salah satu sarana atau media untuk dapat
mengekspresikan karya, sehingga orang lain dapat menikmatinya. Buletin ini
masih sangat sederhana dan banyak kekurangan sehingga perlu penanganan yang
intensif, untuk itu kami tim redaksi mohon saran dan kritik yang bersifat
membangun.
“Ingatlah
bahwa penundaan adalah Silent Killer.
Tidak perlu menunggu segala sesuatunya sempurna untuk memulai sesuatu. Yang
diperlukan hanyalah sebuah tindakan……… Tindakan Untuk Memulai”.
Redaksi
Pelindung
Drs. Hadi Mustofa, M.
Pd. I
(Kepala SMP
Muhammadiyah 5 Ngawi)
Penasehat
Wakhid, S. H. I
(Wakasek Kesiswaan)
Pemimpin
Redaksi
Ruruh Satri
Pangestuti, S. Pd
Dewan
Redaksi:
Layout:
Erphan Prasetyo
M. Naufal
Editor:
Danang mahmudi
Handika kalanover
Reporter:
Risqi Yuniawati
Warda Fajria Faradisa
M. zaky
Publikasi
:
Feri
Nia Sonia
M. Naufal
Kontibutor:
Semua Anggota Ekskul
Buletin
Alamat
Redaksi:
SMP Muhammadiyah 5
Ngawi
Alamat Jl. KH. Ahmad
Dahlan 26 Ngawi
KARYA
SISWA DAN GURU
Bermain
Imajinasi dengan Puisi
|
Tanah Raja
Sekelibatan
sampur merah
Suara
merdu alunan srambang
Menyiratkan
semburat kedamaian
Di
tengah jajaran kayu bambu
Manusia
purba yang meninggalkan tapak
Dalam
ketenangan dan sejarah
Tembok
besar dari para kompeni
Saksi
bisu hidupnya kota Ngawi
Di
ufuk timur matahari menerpa sang Lawu
Kepulan
asap sesembahan Srigati
Menudingku
untuk kembali
Pada
kota kenangan yang penuh arti
Dalam
ingat masih terngiang
Lekuk
si orek dengan sejuta makna
Tanah
Raja milik sang dewa
Ngawi
ramah yang berbudaya
Oleh:
Warda Fajria Faradisa, IX A
(juara
I class meeting 2014/2015 dengan tema Budaya Ngawi)
Lorong-lorong
Cahaya
Relung
kaki bergemih perih
Mengeja
tapak yang tak mau menanti
Helaian
pasir mengusik janji
Membinasakan
goresan yang pecah
Mencabik-cabik
malam sunyi
Saat
ku tersendat di jalan dakwah
Meghunuskan
amanah di gusaran hati
Serasa
pulang dari medan Mu’tah
Yang
berjuang sampai tanpa kaki
Ku
meratapi kaki langit
Menyangga
padang sabana berwarna biru merona
Mencoba
menggoreskan cahaya di lahan yang sempit
Di
atas dunia yang fana
Meninggalkan
tiruan langkah yang harus ku tempuh
Menyusuri
lorong metafora jalan dakwah
Tak
lagi mewariskan keluh kesah
Sampai
ku berpijak di pelataran jannah
Danang
Mahmudi
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar