Ataupun
Tokoh Karna dalam Mahabharata
Sore menjelang petang, kulukis kaki langit di padang sabana. Dengan cat yang kuperoleh dari air yang mengalir melalui celah – celah kelopak mata. Kugoreskan pada kanvas yang terletak di dalam tubuh, disebelah kiri dadaku. Dan berbunyi duk...duk...duk.
Entah jasad siapa yang kupakai ini ?
Namun kuhidupkan jasad ini dalam sebuah reinkarnasi dengan cahaya-Mu. Aku tak berharap dari kehidupan siapa, karena aku sudah menjalaninya. Aku harus kembali kebelakang, menceritakan dua puluh tahun yang lewat itu, saat badai menerjang kebodohanku. Dia memaksaku untuk selalu dan harus mengingat hal yang tidak akan bisa kuingat. Aku hidup di masa itu, tetapi aku tidak merasakannya. Dia menarik sepotong jiwaku untuk pergi bersama-Nya. Meskipun aku dalam keadaan tidak sadar dan masih berlari – lari, berkejaran dan tertawa – tawa dengan teman – teman sebayaku. Sedikitpun tak ada tetes hujan mengguyur bola mataku. Engkau menjemputnya dari sisi tubuhku yang lain.
Pengecut.....! marahku
Sejak itu, aku marah tetapi takut, menyesal tetapi mengikhlaskan. Yang ingin kupertanyakan pada – Mu.
Kenapa seperti ini ?
Mengapa harus pada saa itu ?
Menunggu dan menunggu jawaban yang tidak bisa dijawab oleh siapapun. Setiap kali kemarahan itu hadir dan mendoktrinku. Aku merasa hina dihadapan-Mu, raga ini, roh ini adalah milik – Mu. Karna kusadari kebaikan dalam diriku masih bertarung dengan kehilafan yang fana ini. Semut – semut yang menyerang makananku, langsung kulempar, ku injak kutiup makhluk kecil itu. Dan tidak mau tahu dia hidup atau mati. Tidak seperti Nabi Muhammad yang menerima hidupnya dengan senyum dan sabar. Selalu berbuat baik terhadap semua jenis makhluk – Mu. Beliau mengikhlaskan ibunya yang telah pergi...
Tidak juga seperti tokoh Karna yang harus membenci ibunya karena merasa dirinya tidak diinginkan. Tidak bisa menahan lautan emosi yang meluap – luap. Sehingga harus bertempur badan dengan darah dagingnya sendiri, saudara – saudara tirinya, untuk menguatkan jati diri. Aku tidak sanggup. Di sini, di alam semesta ini. Berdiri di puncak gunung yang harus melewati batu terjal yang keras sendirian. Meski didampingi beratus – ratus maupun beribu – ribu prajurit, tidak akan memahami hasrat itu. Kau selalu ada di hati ini. Aku tidak akan bisa membenci – Mu. Namun, gonjang – ganjing yang kuhadapi dalam pertikaian batinku, membuat sungsang keyakinan itu pada – Mu. Membuatku tidak peduli dengan dunia ini dan tidak menghiraukan siapapun.
Alur ini tetaplah harus sampai klimaksnya dan mencapai kata The End. Sebagai tokoh utama aku tidak heran lagi tentang ini semua. Layaknya dalam teater, tokoh utama selalu mendapat kebahagiaan yang jauh lebih sebentar daripada pemain lainnya. Itupun didapat diujung cerita itu berakhir dan tidak tampak oleh penonton secara keseluruhan. Peran ini sebuah kebanggaan bagiku. Setidaknya aku mendapat sorotan, tepuk tangan dan perhatian yang lebih dibandingkan dengan pemain – pemain pendukungku itu. Aku akan selau bersujud, berdoa dan beribadah kepada – Mu. Karena dengan nama – Mu lah sepotong jiwaku bergabung kembali. Sepotong yang Engkau bawa.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar