Senin, 09 Juli 2012

tugas skenario

Judul           : Taruhan
Cerita          : Diambil dari Novel Taruhan Karya Arini Suryokusumo
Penulis        : Danang Mahmudi (Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)
SKENARIO
TARUHAN
1.      INT.  Kamar Ramses - Sore
Hatinya kecut melihat pemandangan di depannya. Benar-benar mirip kapal pecah, gerutunya melihat keadaan kamarnya yang beratakan. Sambil menggerutu panjang-pendek, dia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Tak peduli kalau tempat itu sudah penuh sesak dengan kertas-kertas dan majalah-majalah.

Ramses (V.O)
Nonton?! Good bye aja deh kalo bayarannya mesti ngerapiin kamar! Sori aj! Mending juga nggak dikasih nonton, dah!

Beberapa saat dia terdiam. Lalu seperti tanpa sadar dia menoleh kearah meja belajarnya. Seperti mendapat kekuatan yang luar biasa, tiba-tiba saja dia meloncat dari tempat tidurnya dan berlari menuju meja belajarnya. Diobrak-abrik buku dan segala macam yang ada di atas meja tersebut, didapatkannya sebuah celengan si Semar yang dirampas dari temannya yang bernama Gita.

Ramses (V.O)
Tanpa sadar Ramses ngikik sendiri mengingat itu. Hi…hi..hi… derita Gita adalah kebahagiaan Ramses… hi…hi..hi…


Lalu Ramses menggoyang-goyang celengan itu keras-keras. Bunyinya nggak jelas. Statusnya sayup-sayup. Dipecahnya celangan itu, Ramses shock dengan isinya. Uang lima puluhan yang kuning…seratusan tebel dua biji…dua lembar seratusan dekil…dua biji karet pembokat warna merah…kunci gembok yang karatan sehingga sudah tak jelas lagi bentuknya…tiga bungkusan permen…secarik kertas dekil. Ramses membuka gulungan kertas itu dan melihat sebuah tulisan pendek di situ.

Ramses (V.O)
Makan deh tuh celengan! Emang gue pikirin apa ?!
Gita! Brengsek !

Fade To
2.      INT. Kamar Ramses - Sore yang Sama
Dengan perasaan kesal, sebal dan sebagainya, sekali lagi ramses meloncat dan menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidurnya.
Gita (O.S)
Kok malah tidur-tiduran, sih!!

Ramses menoleh kaget. Sebentuk wajah mungil nongol dari balik jendela kamarnya. Sedetik kemudian sepasang kaki sudah melangkah santai masuk kamar.

Ramses
Gile lo ! main nongol aja! Kalo gue lagi bugil gimana?!

Gita
Huh, ngebayanginnya aja gue udah bisa kena diare !

Melayang sebuah majalah ke mukanya. Gita gelagapan. Sebelum melemparnya gita tertegun melihat dan membuka majalah itu.

Ramses
Majalah playboy tu.

Gita histeris dan menjerit-jerit kemudian mukanya memerah padam. Gita melempar kembali majalah itu ke Ramses.

Gita
Brengsek !!!!!! jelek lo. Jadi pergi nggak?
Ramses
Nggak !!
Nggak boleh sama Nyokap.

Gita
Kenapa?

Ramses
Ya, pokoknya nggak boleh. Nggak ada uang.

Gita
Ya udah. Trus gimana? Kabur aja !

Ramses
Banknya kan nyokap, jadi ya nggak ada uang. Yeee……cerewet. kalo nggak boleh ya nggak dikasih uang dong

Gita
Ya udah!
Dua-duanya bungkam. Sama-sama melotot, cemberut dan sama-sama nggak mau kalah.

Jeda

Ibu Ramses (V.O)
Seessssss! Ramseeesss! Kamarnya sudah beres belum!!

Keduanya meloncat kaget. Mereka berebutan lari menuju jendela dan meloncat ke luar.

Gita
Mau ke mana lo?

Gita meloncat keluar dan Ramses yang keluar duluan jongkok santai dengan mendongak ke atas sembari nyengir..

Ramses
Putih niyee…..

Dan sedetik kemudian sebuah tinju melayang ke dagunya!

CUT  TO

3.      EXT. Internusa - Siang
Bogor kota kecil, tak ada pilihan lain untuk jalan-jalan selain pergi ke pusat pertokoan itu. Jelek-jeleknya Bogor Internusa cukup lengkap juga.

4.      INT. Internusa - Siang
Mereka berdua berpapasan dengan anak-anak SMA yang meledek Gita di Internusa, kemudian dibahas lagi oleh Ramses sampai tiba di pinggiran air mancur lantai dasar. Mereka duduk karena kelelahan sendiri.

Gita
Gue malu ni? Seluruh keluarga ngeledekin.

Mbak Geni dan mbak Ayi akan membawa pasangan masing-masing pada pertunangan mbak Egi dengan mas Adji. Mereka mengejek Gita karena tidak bisa membawa cowok ke rumah.

Ramses
Bisa jadi…..!

Gita
Sial lo ! sangking sebelnya, gue bilang aja gue punya dan bakalan bawa cowok gue ke pernikahan Mbak Egi.

Gita dan kakak-kakaknya mengadakan taruhan. Kalo gita berhasil membawa cowok. Mereka akan mentraktir semau Gita selama sebulan.
Tapi kalo nggak bisa, segala koleksi tisu, mobil-mobilan dan celengan, harus diserahin sama mereka.

Ramses
Soalnya nggak mungkin elo dapat cowok. Jangankan enam bulan,  enam tahun aja nggak mungkin.
Mana ada cowok yang mau sama elo?

Gita
Kayak elo laku-laku aja? Siapa juga yang mau sama elo.

Ramses
Berani taruhan?

Gita
Eh…..nantangin nih!!!!!!!!!!!?
Ok, siapa yang dapat pacar duluan yang menang.

Yang kalah harus mau ngikutin apa aja kemauan yang menang !

Cut To
5.      INT. Kamar Tidur Gita - pagi
Gita memandangi wajahnya yang memantul lewat kaca. Dia berdandan dengan segala macam keperluan perempuan. Dimulai dari rambut sampai gaun dan sepatu dia make up untuk datang kekawinan bersama keluarganya.

Gita (V.O)
Aduhhh, bener-bener kayak orang bloon.

6.      INT. Ruang Tamu Gita  - Pagi
Ketiga kakak Gita sudah duduk di kursi menunggu Gita. Mereka menertawakan penampilan Gita dan terheran-heran karena dia mau ikut kekawinan.

Gayatri
Tumben si bungsu mau ikut kekawinan.
Ikut pun pasti malu-maluin aja…..

Gina
Iya, asal tidak malu-maluin kayak waktu kawinan tante Rina dulu. Dia memakai kaos dan jeans belel.

Gayatri
Nggak tau deh! Cowoknya kayak apa?

Geni
Itu kalau punya cowok.  Aku nggak sabar hartanya diserahin ke kita.

Gita
Yang ada adalah mbak-mbak yang akan mentraktir aku sepuasnya.

Sontak ruang tamu sunyi, tak ada perkataan sampai ayah dan ibunya datang.

Jeda

7.      EXT. Tempat Kawinan - siang
Di temapat kawinan ini yang datang hanya bapak-bapak, bapak-bapak, dan bapak-bapak saja. Dia kesal dengan saran temannya yang bernama Santi.

Flash Back

Dia menerima saran Santi saat bercerita tentang taruhan itu. Santi menyarankan untuk mencari cowok di tempat kawinan, karena lebih terjamin dari pada yang di jalan atau tempat umum lainnya.

Gita bertemu dengan seoarang laki-laki jangkung dan menyapanya.
Dia mencari Geni, justru gita mempermainkanya sebelum akhirnya bertemu dengan Geni.

8.      INT. Tempat Kawinan - siang yang sama
Gita menggerutu dengan nada kesal. Nella nyengir-nyengir sambil makan kue - kue yang tersedia di kawinan tersebut.

Nella
Elo juga sih percaya dengan Santi!

Sambil makan blackforest sebesar kepalan tangan orang dewasa. Dia bercerita tentang Santi yang mendapat pacar lewat kawinan seperti cerita Siti Nurbaya.

Gita
Sialan Santi, udah dibela-belain gini. Iya nih, bagaimana bisa milih kalo yang datang bapak-bapak?

Gita membayangkan taruhan yang hanya enam bulan dan barang-barang koleksinya diserahkan ke kakak-kakanya juga Ramses.

Nella
Gimana kalo gue yang carikan?

Sambil membuka bungkusan Cadburry-nya. Nella menawarkan beberapa cowok yang mereka kenal, tetapi Gita sama sekali tidak tertarik dengan berbagai alasannya. Sampai akhirnya nella memperkenalkan pada sosok kakaknya.

Gita
Nggak ah, ngg….nggak baik.

Gita kehabisan akal. Nella pun pasrah dan menyuruh Gita untuk datang ke rumahnya sambil bawa makanan untuk konsultasi lagi.

Cut To

9.      INT. Kelas Ramses - siang
Ramses dan beberapa temannya suntuk mengikuti pelajaran di kelas yang panas dan mendengarkan Pak Warto menerangkan.

Miko
Ses…Ramses tanyain Ben dong, dia bawa buku bacaan tidak.
Miko yang berada diujung kelas sambil antusias. Sedagkan ben duduk di depan.

Ramses
Ben, bawa buku bacaan nggak?

Ben
Bawa !

Buku-buku itu diberikan sambil estafet ke belakang. Bahkan bertha, cewek satu-satunya di kelas ikut angkat bicara. Sampai ditangan Ramses buku itu di seleksi olehnya. “ Kho Ping Ho….Nick Cartner…Playboy...Wiro Sableng…dlll.

Ramses
Gue udah baca semua!!!

Dodi
Iya nih..buku lama semua.

Ramses
Eh…udah buat pee r Fisika. Nanti gue ke rumah lo ya?

Dodi
Belum, nggak ah!

Dodi terdiam

Ramses
Kenapa sih..emang ada apa?

Dodi
Sepupu gue mau datang.nyokap-bokap lagi pergi jadi gue yang jagaian.

Dodi terdiam.

Ramses
sepupu elo cewek ya?
Sepupu lo cantik nggak. Kalo gitu biar kenalan aja ama gue…

Ramses yang teringat dengan taruhan itu, berharap bisa kenal dengan sepupu Dodi.
Dodi
Dia masih es em pe…ya tak kalah sih sama Julia Robert..hihihi

Mereka bersenda gurau membahas sepupu Dodi dari body-nya sampai kemiripannya dengan artis-artis.

Jeda

10.  INT. Kamar Tidur Gina - Sore
Gita menjaili kakak tertuanya, Gina, yang sedang tiduran dengan matanya yang berkaca-kaca. Karena habis bertengkar dengan Mas Adji.

Gita
Kuberi bunga mawar, asalkan anterin ke rumah Nella.

Gita  nyengar nyengir..

Gina
Baik-baik begini Cuma buat dianterin…

Gina melotot dan nyengir. Menyaut bunga dan membaca suratnya,
sorry,
I was angry,
I was jealous, I’m sorry, I ove you….

Gita
Ini kan bunga dari Mas Adji, tuh ada di ruang tamu sama Ibu.

Gita cekikikan sehingga membuat Gina kesal.
Gina
Kenapa nggak bilang dari tadi, dasar  lo…

Gina meloncat dan menerjang Gita menuju ruang tamu.setelah perbincangan yang cukup lama antara Gina, Mas Adji dan Gita, mereka bertiga keluar rumah.

11.  ITN. Kamar Tidur Ramses - Sore
Ramses mengaca sambil berbincang-bincang dengan kakaknya. Mereka berbincang-bincang tetang pertunangan Gina. Akhirnya Ramses dan Mas Seto melongok ke luar jendeladan melihat tiga makhluk itu bersendagurau dan pergi dengan forza merah.

Ramses (V.O)
Brengsek! Apa gita benar-benar sudah dapat cowok. Apa aku batalin aja. Ah…pasti dia besar kepala dan merasa paling hebat.

Ramses mendadak gelisah setelah mengamati Gita dari kejauhan dan teringat oleh taruhan itu. Gita pun sudah tidak pernah muncul dihadapannya selama setengah bulan.

Cut To

12.  EXT. Rumah Nella -  Siang
Gita bertamu ke rumah Nella untuk melanjutkan konsultasinya. Tetapi yang membuka pintu kakanya Yodi, ternyata orang yang sama, waktu dikawinan dijaili oleh Gita. Sekarang Gita dibalas oleh Yodi.

Gita (V.O)
Ya udah, brengsek ni orang.

Gita membalikan badan. Belum sampai pergi di dipanggil oleh suara dari dalam rumah dan itu Nella. Mereka pun masuk ke dalam.

13.  INT. Kamar Tidur Nella - Sore
Mereka bercerita tentang Pe er matemtika dan soal Yodi. Akhirnya mereka memutuskan untuk meminta bantuan pada Yodi untuk mengerjakan pe er -nya.
Jeda

14.  INT. Ruang Tengah Rumah Nella - Sore yang sama
Yodi mengelus-ngelus kelinci putih. Melihat itu Gita langsung tersentuh hatinya dan terpesona.

Nella
Mas, tolong bantuin ngerjakan Pe Er Matematik dong.

Yodi
Emang nggak bisa, lalu nona ini juga nggak bisa

Membawa white board dan menyandarkannya di dinding. Gita hanya terperangah melihat ketenangan dan sikap yang dimiliki oleh Yodi.

Cut To

15.  INT. Ruang Tengah Rumah Ramses - Sore
Dodi dan sepupunya datang ke rumah Ramses. Ramses dikenalkan dengan sepupu Dodi yang bernama Elena. Ramses langsung saja terperangah melihat sosok Elena yang cantik. Ramses membayangkan segala apa yang dilihatnya pada diri Elena sebagai makhluk yang sempurna.

Ramses
Kamu kelas berapa?
Mengeluarkan tampang iblisnya.

Elena
Kelas 3 SMP, Mas…

Elena tersipu malu dan senyum kecil.

Mereka duduk bersebelahan di sofa sambil bercakap - cakap sampai melupakan Dodi yang tidur-tiduran di karpet.

16.  EXT. Ruang Kelas Gita - Siang
Bel bubaran sekolah berbunyi dan mereka keluar semua. Gita, Nella, Santi, Yovita dan Nur. Mereka berbincang-bincang tentang cowok Santi yang memberi hadiah bunga dan cincin kemudian berpaling pada masalah Gita. Tiba-tiba seorang cowok berambut gondrong di lapangan basket datang ke arah mereka.
Nella
Itu kan abang gue….

Mereka semua terkejut kecuali Gita, terheran - heran bahkan tidak menyangka si gendut mempunyai kakak yang keren. Gita teringat oleh perlakuan Yodi terhadap kelinci-kelinci itu.

Yovita - Nur - Santi
Astaga…mana mungkin!!!!!!!!!

Yodi
Halo, Git. Mau ikut pulang nggak?

Gita makin panik dan gelagapan.
Kemudian Nella mengenalkan kakaknya pada temannya. Yodi kagum dengan masing-masing teman Nella tetapi dia tidak tertarik karena dia penasaran dengan Gita.
Santi - Nur
Kalo gitu gue nggak pacaran dulu.
Mereka grundel .

Gita dengan Yodi berjalan duluan mendahului mereka di depan.

Cut To

17.  INT. Ruang Tengah Ramses - Ruang Tengah Elena - Sore
Ramses menelpon Elena. Mereka berbincang gugup dan malu-malu. Dan berbasa-basi.

Ramses
Boleh nggak Ramses main ke rumahu?
Sepi beberapa saat.
Elena
Boleh…boleh..

Elena terdiam, kemudian salah tingkah dan gelagapan.
Cut To

18.  INT. Ruang kelas Gita - Pagi
Nella - Nur - Yovita meributkan soal Gita yang menelpon Yodi tadi malam. Pembicaraan mereka terputus oleh adanya siswa lain yang bernama Lea. Mereka saling bercibir pedas dengan Lea. Pada akhirnya kembali lagi ke persoalan Gita.

Gita
Gue cuma ngobrol-ngobrol biasa aja.

Nella
Gitu aja, lalu pake sayang-sayang. Trus ketawa keras.

Gita
Diakan temen kuliah kakak gue. Di jurusan kedokteran. Kemarin itu, dia ketawa sama kakak gue.

Gita gelapan sambil menutup pembicaraan itu.

Nella
Elo suka nggak sih sama kaka gue?

Gita
Apaan sih lo..

Gita terdiam lagi.

19.  INT. Ruang Kelas Ramses - Pagi
Dodi menyenggol lengan Ramses, setelah melirik ke arah Pak Warto yang tengah asyik menulis di depan kelas.
Dodi
Elo nge-date sama sepupu gue ya?
Kemarin Elena bilang, lo telpon dia ya?
Sebelum Ramses menjawab, semuanya nyerobot ikut dalam pembicaraan itu.  Dari Glen sampai si penggosip  Bertha ikut campur dalam situasi tersebut. Hingga berbagai macam celaan hingga sanggahan yang bikin malu masing - masing.

Ramses
Gue cuek aja !!
Belum juga bertemu.

Kabar tersebut membuatnya gelagapan.

Dodi
Ya nggak pa…pa…cuman ati-ati aja sama nyokapnya.

Jeda

20.  INT. Sartika - Malam
Gita dan Yodi pergi ke Sartika untuk membeli dompet. Sampai disana Yodi mengajak nonton film yang akan diputar.

Yodi
Eh, Git. Ada Dying Young. Nonton, yuk?

Ia memecah lamunan Gita yang masih terpaku atas perlakuan Yodi.

Gita
Nonton? Berdua ? hanya berdua dan berdua saja?

Gita gelapan dan panas-dingin kemudian ia mengganggukan kepalanya.

Cut To

21.  INT. Ruang Tamu Rumah Elena - Malam
Ramses berkunjung ke rumah Elena untuk main sekaligus mengajak nonton. Di ruang tamu dia disambut oleh Ayah dan Ibu Elena yang baru pulang kekawinan.

Ramses
Kita jadi nonton, kan.?

Elena
Iya, tapi tunggu sebentar!

Ramses
Tunggu apa?

Dahi ramses mengerut. Tiba-tiba ayah dan ibu Elena telah berganti baju seperti anak muda. Kemudian mereka pergi berempat.

Ramses
Astaga!!!!!!!!!

Jeda

22.  INT. Sartika - Malam \
Di Sartika Ramses semakin gelagapan apalagi bertemu dengan Gita yang juga nonton. Mereka saling menghindar saat bertemu. Mereka berdua mempunyai bayangannya masing - masing antara Gita dengan pasangannya juga Ramses dengan pasangannya

23.  INT. Kelas Ramses - Pagi
Teman - teman Ramses menertawakan nge-date-nya keamrin. Ketika Bertha menguping pembicaraannya dengan Dodi. Bertha langsung saja mempublikasikan pada teman lain.

Bertha
Elo nonton berempat??? Sama nyokap dan bokapnya!!!! Gila.
Hemmmm…….pasti nggak bisa pa-pa.

Glen
Kasihan…jangankan nyium, nglirik mesra aja eo udah diplototin kali, Ses?

Teman - teman Ramses meledek abis-abisan dirinya. Sampai Dodi pun ikut geram.

Dodi
Mind your own business!

Ramses
Tau nih!!!!!!!!!
Iya sih…Eh, kira-kira Elena suka sama gua nggak ya?

Glen
Kalo gue aja ditolak, apalagi elo.

Dodi
Elo nggak bisa diem ya?

Jeda

24.  EXT. Mobil Yodi - Siang
Gita clingak-clinguk ketika Yodi menghentikan mobilnya beberapa puluh meter dari rumahnya.

Gita (V.O)
Aman…???

25.  INT. Mobil Yodi - Siang yang sama
Yodi bingung kenapa dia tidak boleh mengantarnya sampai rumah. Dia takut diledekin kalau ada apa - apanya. Tapi Yodi meberi kesan yang menyudutkan Gita dalam posisi yang membuatnya tersentuh dan jantungnya berdebar - debar.

Yodi
Apa hanya saya yang punya perasaan apa-apa sama kamu?
Gita
Perasaan ap..apa ?
Astaga!!!!!!

Gita salah tingkah yang membuatnya mengeluarkan keringat dingin.

Yodi
Iya, Git ? Cuma saya saja yang punya perasaan itu?

Gita terhanyut dalam sentuhan yang diberikan oleh Yodi. Kedua tangannya dicium lembut dan kedua mata yang terpejam dikecup mesra penuh perasaaan membuat hatinya semakin berdebar - debar. Dan keringat membasahi tubuhnya. Gita pun mengatakan kalau mau membuat kejutan kepada keluarganya tentang dirinya.

26.  INT. Ruang Tengah Rumah Ramses - Siang
Gita datang dan mengganngu Ramses yang telah tidur-tiduran sambil membaca buku di ruang tengah. Mereka saling meledek satu dengan lainyya sampai curi-curi pandang yang membuat mereka saling salah tingkah.

Ramses
Ayo Git, cerita cowok elo itu, dong.

Gita senyum-senyum. Wajahnya berseri - seri. Seperti membayangkan suatu kejadian yang sangat indah. Dia pun sedikit gelagapan menjawab pertanyaan Ramses yang seolah-olah ters memburunya.

Gita
Cerita apaan?

Ramses
Ah…bodo. Oya, dia gimana nyataian cintanya?
Dengan kata-kata manis. Apa dengan tindakan yang bikin lo ……….?

Ramses yang begitu penasaran dengan Gita, karena dia tidak pernah melihat Gita lembut.
Gita
Dia nggak omong cinta kok. Udah ah !!!

Ramses memandangi Gita. Gita malu-malu lalu Ramses memegangnya dengan lembut cukup lama. Canda tawa yang saling memperhatikan hati, mereka sembunyikan, keadaan Gita telah berubah sekali.

27.  INT. Ruang Tengah Rumah Gita - Malam
Gita duduk termangu. Lalu tangannya menyentuh gagang telepon. Mengangkatnya, kemudian menutupnya kembali.
Kegitan tersebut dilakukannya berulang-ulang

Gita (V.O)
Telepon…jangan….telepon …jangan

Dia bingungsaat ingin mendapat kepastian dari Yodi. Tetapi dia selalu teringat pada Ramses. Telinganya selalu terngingang kata Ramses. Tapi kangen Yodi berbeda dengan Ramses.

Gita (V.O)
Yakin? Pasti yakin? Meskipun tidak seyakin bertemu Ramses. Gue akan pancing Yodi nyatakan.

Dengan gugup gita menelpon dan yang mengangkat adalah Nella.

Nella
Gue sebenarnya mau telepon elo, Git. Tapi….Tapi, gue nggak sanggup.

Nella sambil terisak-isak.

Gita
Ada apa Nell?

Nellla
Ab…Abang, Git ….Abang.
Isakan itu berubah menjadi tangisan panjang.
Gita makin kebingungan dan penasaran.
Lalu dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa yang terjadi dengan Nella atau keluarganya.

Cut To

28.  INT. Kamar Tidur Ramses - Siang
Ramses mondar-mandir di kamarnya. Dia memikirkan Gita yang sudah seminggu tidak kelihatan.

Ramses (V.O)
Kenapa lagi anak itu?
Ramses membanting tubuhnya ke tempat tidur. Dia pun juga merasa kalau juga sibuk dengan Si cantiknya. Mengatar kesana mengantar kesini. Lama-lama dia pun membandingkan sifat Gita dan Elena dengan sendirinya.

Sampai akhirnya Ramses berpikir kalu taruhan ini bisa saja membuat pertemanannya dengan gita membuat renggang bahkan hilang.

Mama Ramses (S.O)
Ses, ada telepon.

29.  INT. Ruang Tengah Rumah Ramses - Siang
Ramses menerima telepon dari Elena, dia minta untuk diantar ke Internusa bersama mamanya untuk membeli hadiah kawinan. Mereka berbincang - bincang sampai akhirnya Ramses menyetujui, meskipun agak - agak males.

Ramses
Iya deh, dua jam lagi ya?

Elena
Nggak bisa satu jaman?

Telepon yang baru di tutup berbunyi lagi.
Telepon tersebut dari Gita. Ramses tercekat menerima teelpon dari Gita , dia kira Gita hanya jail atau kecentilan karena tidak langsung saja ke rumah.

Gita
Gue nggak bisa ngelupain dia, Ses. Susaaaah banget.

Ramses
Dia ? cowok lo itu? Kenapa?

Ramses makin penasaran dengan apa yang dimaksudkan Gita. Dia tidak pernah melihat Gita seperti ini.

Gita
Ses, gue nggak bisa ngelupain dia.

Gita menutup menelepon sedangkan Ramses bengong. Lalu tanpa berpikir dua kali, dia buru-buru angkit dan berlari ke luar.

Jeda
30.  INT. Kamar Tidur Gita - Siang
Ramses meloncat dari jendela yang langsung masuk ke kamar Gita juga lewat jendela. Ramses bertanya-tanya soal teleponnya tadi.

Gita
Taruhan lo menang…

Gita terdiam.
Ramses
Kok bisa? Kan elo…..
Gita
Abang …abang, Ses..sudah nggak ada, mobilnya tabrakan dengan truk. Hancur…

Gita terdiam lagi. Tanpa ekspresi…

Ramses
Cowoknya gita …astaga!

Gue turut berdukacita, Git.

Gita terdiam dan meneteskan air matanya. Dia menceritakan Abang meningal seminggu yang lalu.
Ramses
Kenapa baru bilang sekarang ?

Gita
Kenapa harus bilang-bilang?

Ramses
Git, gue kan temen lo, temen deket lo, apa yang lo rasain gue juga ngrasain. Elo kok ngomongnya begitu.

Gita menatap mata Ramses sesaat, kemudian lurus lagi. Air matanya menetes setetes dan setets lagi. Tanpa disadari tangan Ramses meneglus rambut cepak gita. Ramses memeluk tubuh kecil itu. erat, erat seperti tidak ingin melepaskannya kembali. Gita merasa itu lebih dari cukup dan menumpahkan semuannya di dada Ramses.

31.  INT. Ruang Tengah Ramses - Ruang Tengah Elena - Sore
Telepon Ramses berbunyi lagi. Telepon itu dari Elena, Elena menayakan tentang dirinya yang tidak datang-datang ke rumah.

Ramses
Jangan egois begitu dong, Len. Kalau bukan Gita juga….

Elena
Gita? Gita mana?????

Ramses
Gita itu temen deket saya dari kecil. Tetangga samping rumah…
Gita
Tapi Mas lebih mentingin dia daripada aku..

Ramses
Len, dia sedang berduka cita! Masa saya harus diam saja?!!

Rames mulai kehilangan kesabarannya. Hatinya mulai jengkel. Elena tetap menyalahkan Ramses dengan nada kasar dan kekanakan.  Sampai Ramses menyabarkan dirinya sendiri.

Teleponnya ditutup Elena, Ramses menelepon kembali tetapi tidak diangkat Elena. Dia berpikir bahwa Gita lebih membutuhkan dia daripada Elena. Karena Gita lebih berarti baginya.

Ramses (V.O)
Sebodo amat dengan Elena.

Cut To

32.  EXT. Rumah Gita - Sore
Ramses yang sedang mengelap sepedanya mendapat sapaan dari Geni. Kemudian mereka membicarakan perubahan yang terjadi pada Gita dan ternyata keluarga Gita tidak tahu tentang hubungan Gita dan Yodi. Setelah bercanda dengan Geni yang membuat kesal Ramses, dipanggilkan Gita. Tak lama kemudian Gita keluar rumah.

Gita
Mau kemana?

Menuntun sepedanya.
Penampilan Gita tampak lusu, dia juga tidak terlalu semangat.
Ramses
Nonton ke Sartika, yuk. Nonton Return to the Blue Lagoon..

Gita
Dulu gue suka nonton di situ sama Abang.
Gita terdiam.
Dalam pikirannya dia mengingat masa-masa indah bersama Yodi.

Ramses
Aduh salah gomong nih, ya udah kita ke Galaxy aja.
Kemudian mereka berdebat mau pergi kemana dan malah ngaco satu sama lain.

Ramses
Udah deh Git, gugurin aja….belum dua minggu kan umurnya..

Ramses ngaco dengan tertawa geli.

Gita
Nggak tau sih, rasanya sih baru kemarin ini..kok udah jadi?

Gita semakin ngawur.

Mereka berdua ngikik. Sebentar-bentar Ramses mencuri pandang ke arah Gita. Ada rasa senang melihat Gita dapat tersenyum -atau tepatnya terkekeh - kekeh kembali. Dan tiba-tiba saja Ramses merasa bahagia tanpa sebab yang jelas.

Cut To

33.  INT. Ruang Tamu Rumah Elena - Siang
Ramses dan Elena bercakap-cakap tentang kesalahan paham kemarin.

Ramses
Len….

Bibir mungil itu cemberut. Ramses menghela napas panjang.

Ramses
Mbok ya dewasa sedikit, dong!
Elena mengangkat kepalanya dan matanya berkaca - kaca.
Ramses
Len, jangan menangis, dong….

Elena
Mas, Gita itu apanya Mas, sih?

Ramses menjelaskan dengan sangat jelas tetapi Elena tetap tidak percaya dan terus memburu Ramses.

Elena
Mas sayang sama Gita?

Elena berkata dengan pelan, wajahnya pun mulai memerah.

Ramses
Ya iya, dong ….ehhhhh….

Ramses langsung membenarkan maksudnya, kalau dia sayang hanya sebagai teman saja.

Elena
Mas tau kan kalo Elena sayang sama Mas. Mas sayang kan sama Elena?

Ramses
Iya, Mas juga sayang sama Lena…., Sayang banget..

Sambil menelan ludahnya, Ramses gelagapan. Lena menangis sehingga wajahnya tampak berseri-seri. Ramses memeluk tubuh Elena, kepala Elena pun tersandar di dada Ramses.

34.  INT. Ruang Tengah Rumah Ramses - Siang
Gita yang masih kepikiran soal Yodi mengadu pada Ramses yang sedang makan Kentucky dan kentang goreng.

Gita
Gue masih suka kepikiran sama Abang, Ses…
Ramses
Jangan dipikirin terus, Git.

Gita terdiam. Mengambil sepotong kentang goreng.
Gita
Kayaknya rasa kehilangan gue, rasanya bukan kehilangan seorang pacar, Ses. Tetapi sebagai seorang kakak.

Ramses
Emang belon jadi cowok lo..

Gita diam, gerakannya terhenti. Ramses langsung buru-buru memperbaiki ucapannnya, karena kalo bercandanya sudah kelewatan. Namun Gita tetap diam. Ramses pun makin nggak enak. Justru Gita semakin mengingat Abang dengan segala perlakuannya.

Gita
Ses…

Gita mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia berkata sangat pelan dan hati-hati. Dia menuangkan semua uneg-unegnya pada Ramses.

Ramses
Ap-pa?

Ramses gelagapan.

Gita
Jadi gimana? Loe dengerin gue nggak sih?

Ramses
Iya gue denger..

Ramses sedikit bingung, tetapi dia menjelaskan kalau dia tidak bisa apa - apa kerena dia hanya sebagai teman curhat bukan dirinya.
Ramses
Pada akhirnya sepenuhnya kembali ke lo lagi. Lo yang harus memutuskan apa yang mesti lo perbuat. Apa yang harus lo lakukan buat lo sendiri. Lo yang memutuskan, Git bukan Gue…
Gita terdiam. Matanya memendang Ramses. Ramses pun kembali memandang. Gita memegang tangan Ramses.

Gita
Ma kasih ya, Ses…buat nasehat lo.

Ramses
Ngawur aja! Emang gue nasehatin lo apa? Gue kan cuma membeberkan situasi lo aja.

Gita
Lo ternyata baik juga ya, Ses..

Ramses
Apaan sih lo…

Gita tersenyum manis, ramses tidak pernah melihat gita tersenyum seperti itu.

Gita
Elo kok nggak pernah cerita soal Elena, sih?
Ramses tertegun. Heran kalau dia bersama Gita. Kalau tidak sama Gita, dia selalu mengingat Elena dalam segala kegiatannya.
Gita
Ngelamun aja lo! Cerita dong tentang Elena?

Ramses
Mau tau aja lo model pacaran gue..

Gita terus mendesak Ramses untuk cerita, tetapi ramses malah membuat candaan samapi tertawa khasnya nyengir kuda kalau dia cerita tentang “keiblisannya” saat berdua dengan Elena.
Sementara, meski Gita asik mendengarkan, sebenarnya dadanya tengah bergejolak hebat..
Jeda

35.  INT. Kamar Tidur Ramses - Siang Yang Sama
Gita dan Ramses berbaring di karpet tempat tidur Ramses. Gita berbicara soal kehidupan dan Ramses malah cuek bebek. Ramses yang membaca buku sesekali menoleh dan melirik Gita, Gita pun sebaliknya. Gita merebut buku Ramses dan terlempar ke bawah ranjang.

Gita
Idih!!!!! Ngumpetin playboy kok di bawah kasur…
Kok lo nggak kapok sih baca begituan?

Ramses
Lo mau? Gue punya banyak.

Gita
Sori yeee……pantang deh gue! Entar kepengen lagi.

Ramses
Pengen apaan?

Gita
Pengen baca lagi, emangnya pengen apaan?
Gita melempar bukunya lagi.

Ramses
Lo kenapa sih? Gangguin aja..

Gita
Ses…

Ramses terdiam. Lalu dia sengaja menggulingkan tubuhnya menghadap Gita. Mereka berdua saling berpandangan. Saling memperhatikan sampai akhirnya wajah Gita bersemu merah. Gita pun membalikan badannya dengan terburu-buru. Ramses menelan ludahnya. Dia mendapat rasa yang sedikit resah,  berdebar-debar, tapi menyenangkan…
Ramses (V.O)
Astaga, Ramses! Kok jagi begini! Gita temen kamu, Ses! Cuma temen saja!

Ramses
Mau ngomong apa sih lo, Git?

Gita
Nggak, Cuma mau gannguin lo aja.

Ramses malah mengacak-ngacak rambut Gita dengan lembut, bukan malah menjitaknya seperti biasanya.

Gita terperangah melihat perlakuan Ramses. Sangat kaget, tapi juga suka.

Gita
Apa-apaan sih lo, Ses!

Gita mencoba galak. Ramses langsung meminta maaf. Mereka bercanda dan saling menjitak. Lalu gita bertanya soal Elena.

Ramses
Ya ampuuuun…gue ada janji sama Elena! gue mau ngajarin dia matematika buat ulangan besok.

Ramses melirik jam tangannya. Dia beranjak berdiri dan buru - buru menyambar handuk.

Gita
Kok buru-buru?

Gita mendekat dan menahan pintu kamar mandi. Ramses memandanginya dengan kebingungnan.

Ramses
Apaan, Git?
Belon tau aja deh lo reaksi Elena kalo gue telat janji.

Gita membalas memandang lalu tertunduk. Langsung menyingkir.

Ramses
Lo kalo mo mandi bareng gue bilang aja dari tadi!

Gita melotot, lalu dengan gemasnya dia menarik Ramses dan mengguyur badannya.
Ramses berteriak protes.

Cut To

36.  INT. Kamar Tidur Gita - Sore
Gita mengeluh panjang dan melempar bantal yang menutupi wajahnya ke langit-langit kamar. Dia ingin membuang jauh pikiran yang membebani otaknya.

Gita (V.O)
Ramses lagi! Ramses lagi.
Aahh sudahlah! Percuma ! ikuti Feeling-mu, Nak. Apa sih salahnya mikirin Ramses?
Sebel betul bayangannya terus pada Ramses.


Gita
Ramses lagi ngapain ya sekarang?
Masak sudah sore gini belum juga pulang dari Rumah Elena?

Sebenarnya dia mulai risi kalau datang ke rumah Ramses duluan, ada acara ngamar, risi dipandangi Ramses dan risi diperlakukan begitu lembut oleh Ramses.

Gita
Kok gue jadi gini sih?!!!!!

Dia melempar gulingnya ke arah dinding kamar.

Gita (V.O)
Huuuuuhhh!!!
Ramses kan sobat gue! Sobat dari kecil ! kenapa gue mesti jadi begini sih?????!!!!

Gita menarik napas panjang. Entah sejak kapan perasaan gundah gulana hadir dihatinya. Lalu dia  bertanya - taya pada dirinya sendiri, kenapa dia baru sadar atas perlakuan Ramses dan dia mulai menyukai Ramses. Ramses mampu mengisi kekosongan, kecewa dan sendiri terluka di hatinya. Ramses mampu mendampinginya.

Dia teringat Abang saat diperlakukan begitu lembut oleh Ramses, tetapi dia menganggap Abang hanya sebatas kakak. Ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.

Geni (O.S)
Git, mo ikut ke Rindu Alam Nggak?

Ketiga kakaknya mengajak makan di luar. Gita melempar bantal yang menutupi wajahnya. Ternyata mereka akan ditraktir oleh Egy, kakak tertuanya.

Gita
Dalam rangka apa sih?

Geni
Dalam rangka melepas masa gadisnya?

Gayatri
Emang masih gadis?

Gina
Eh jangan kurang ajar ya!

Gina melotot. Seminggu lagi Mbak Egi kan udah tunangan.

Gita
Minggu depan….. astaga!
Gita menepak dahinya. Geni bingung dan menanyakan kenapa dengan anak itu . Gita langsung saja melangkah keluar kamar dan menuju ruang tengah.

37.  INT. Ruang Tengah Rumah Gita - Sore
Gita menelepon Ramses.

Ramses
Eh lo, kenapa sih lo telepon segala. Datang aja langsung?

Gita
Males.

Ramses
Eehh….gimana sih ? belon apa-apa aja udah males, gimana kalo kita kawin nanti?

Gita tersendak mendengar kata-kata Ramses. Terus keduanya terdiam dan Ramses nyesel pembicaraan itu. Gita gampang tersentuh sekarang.

Ramses
Bercanda Git.

Gita
Iya, gue juga tau? Gue Cuma mo ngengetin, kalo minggu depan tunangannya Mbak Egi.

Ramses
Hah!!! Cepet banget!

Gita
Elo aja yang nggak merhatiin!
Jangan lupa bawa Elena, taruhan kita masih berlaku, lho….

Gita sudah merasa pasrah apa yang telah terjadi. Dia tetap akan menepati janjinya. Siapa yang menang dalam taruhan, maka dia yang mendapatkan keinginannya untuk dikabulkan.

Ramses
Taruhan? Aduh gita kenapa masih mikirin taruhan sih. Lupaiin aja?

Gita tetap bersikukuh untuk meneruskan taruhan itu, meskipun dia tahu kalau dia sudah kalah. Tetapi Ramses yang mencoba untuk menjelaskan bahwa taruhan itu konyol.
Ramses udah tidak peduli. Tetapi Gita semakin ngotot untuk melanjutkan.

Gita
Lo pikirin aja, mo minta apa dari gue…

Ramses
Gue nggak mo minta apa-apa dari lo!

Gita dan Ramses bercanda-canda sampai hadir senyum-senyum diantara mereka. Bercerita soal Kak Seto yang masih patah hati dengan Egi.

Ramses
Eh, berhubung gue nggak semales elo, apa mendingan gue aja yang kesana?

Gita
Boleeeh.

Hati gita berbunga-bunga, meskipun hatinya itu ingin di tepis jauh-jauh.

Ramses
Sip, deh. Tapi sebentar aja ya, Git. Soalnya sejam lahi gue mesti kerumah Elena. biasaaa…urusan cewek! Dia ingin pergi ke salaon.

Bunga dihati Gita langsung menguncup. Mereka berdebat, agar ramses tidak usah datang ke rumah Gita, takut keterusan.
 Tetapi Ramses tetap ingin datang. Akhirnya Ramses datang, dia meletakan gagang telepon sambil tersenyum.


38.  INT. Ruang Tengah Rumah Elena - Malam
Ramses mencoba menjelaskan tentang keterlamabatannya.

Ramses
Udah dong Len. Masa terlambat satu jam aja, udah ngambek?

Elena hanya menatap tanpa berkomentar, matanya berkaca-kaca dan pipinya bersemu merah. Elena mengorek - ngorek tentang keterlambatannya.
Sampai Ramses kebingungan sendiri. Antara marah dan kasihan, dia mencoba menengkan dirinya sendiri.

Elena
Terus !!!
Kenapa telat?

Ramses
Tadi ke rumah Gita dulu. Niatnya Cuma sebentar, tapi malah keterusan ngobrol.
Sori, Len.

Elena
Mas ke rumah Gita dulu? Apa Gita demikian pentingnya sampai Lena Mas lupain?


Ramses
Len, Gita itu Cuma teman saya saja.

Elena
Tapi mas lebih sayang sama Gita.

Ramses
Nggak gitu, Len! Kamu kok pikirannya jadi ngelantur begitu sih?

Elena makin menunduk. Jari-jari lentiknya memainkan ujung roknya.

Ramses
Mas minta maaf, Len. Sori! Kenapa sih harus dibesar besarin begini? Sabar dikit dong?

Elena
Mungkin mas tidak tahu, aku sudah mencoba untuk sabar, Mas. Tapi bagaimana bisa mengerti kalau waktu yang seharusnya milik kita justru menjadi milik dia?

Ramses
Tapi, Len…

Dia tersentak, tidak mennyangka Elena bicara seperti itu.

Elena
Semua ini akhirnya tergantung dari Mas sendiri. Mas tidak bisa memiliki semuanya. Mas harus bisa menentukan siapa yang sebetulnya lebih Mas sayangi. Kalau Mas lebih sayang Lena, Mas harus berjanji menjauhi Gita…

Jantung Ramses seperti berhenti berdetak. Keringat dingin telah membasahi hamper seluruh baju Ramses

Seluruh badannya seolah-olah diguyur oleh air yang dingin.

Elena
Jawablah yang jujur , Mas. Bukan untuk Elena, tapi lebih untuk Mas sendiri.

Ramses diam. Mata Elena kembali berkaca-kaca, sambil membasuh air matanya Elena menundukkan kepala. Kata - kata Elena yang lembut bagai menghujam tepat ke jantungnya.
Dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa!

Cut To
39.  INT. Rumah Gita - Malam
Gita mengutuk para tamu yang datang terus menerus. Tamu yang datang dari sahabat Mbak Egi sangat banyak. Belum lagi keluarga besar dari berbagai daerah. Gita menggerutu terus sampai kelapanya dijitak oleh Geni dan di pelototi oleh Mbak Ayi.
Geni
Git, keluarganya Eyang Tardji datang.

Geni tiba-tiba menyenggol kaki Gita. Gita langsung berdiri dengan susah payah karena kebayanya yang super ketat. Dari kejauhan rombongan Eyang, mereka berdebat dan saling mengolok Gita yang tidak tau Eyangnya sendiri.

Wanita yang di samping kanan Eyang Tardji - Bude
Aduuuuhh, sudah besar-besar ya? Bentar lagi nyusul dong ya?

Gayatri
Ah, masih kuliah kok, budhe.

Budhe
Oya? Di mana, ya?

Gayatri
Saya masih di FISIP UI, di jurusan kriminologi.

Budhe
Kalo yang ini calon dokter hewan, kan?

Geni menggangguk kecil. Lalu Gita ditanya kuliah di mana.

Gita
Masih SMA kok Tante. Di Regina Pacis.

Mereka berbasa-basi sebentar. Lalu Gita buru-buru duduk kembali. Sebentar-bentar matanya melirik ke pintu masuk.

Gita (V.O)
Ramses kok belum datang? Kenapa dia? Apa sibuk jemput Elena?


40.  EXT. Taman Belakang Rumah Gita - Malam

Gita  akhinya menyelinap ke luar lewat pintu belakang. Dengan lesu di duduk di bangku ayunan di taman belakang. Dia menerawang bintang-bintang yang menghiasi langit.

Gita (V.O)
Ramses. Ramses. Ramses.
Duh, kenapa yang ada dibenakku hanya Ramses dan Ramses saja.

Gita merasa benci terhadap dirinya sendiri. Karena tidak bisa menerima realita bahwa Ramses hanya seorang sahabat baginya, Ramses adalah milik Elena. Gita pun berandai-andai kalau saja taruhan itu tidak pernah terjadi mungkin dia tidak bertemu dengan Yodi dan Ramses tidak bersama dengan Elena. Dia pasti sekarang ini masih berdua engan Ramses. Sepasang mata kecilnya berkaca-kaca.  Dia merasa kesepian. Ramses hanya seoarang sahabat, dia sekarang milik orang lain. Dan Gita kehilangan seorang sahabat.

Ramses
Git..

Gita menoleh dan melihat bahwa Ramses sudah ada di dekatnya.

Gita
Eh, elo! Ngagetin gue aja!
Tumben lo rapi…


Ramses
Iya, dong. Kan mo ketemu lo…

Gita
Norak, deh!

Ramses memandangi Gita sehingga dia makin salah tingkah. Lalu dia meledek Ramses. Di duduk disamping Gita.
Ramses
Lo, cantik git kalo pake kebaya…

Gita
Iyalah iya. Gue emang dari dulu juga udah cantik.

Mereka bercanda. Ramses selalu tersenyum dan sebaliknya Gita. Dengan lembut Ramses menggerakan badannya sehingga bangku ayunan yang mereka duduki mengayun pelan. Lama mereka terdiam seperti menikmati ayunan yang bergerak dan angin malam yang berhembus.
Gita
Ses ….Elena mana?

Ramses terdian sesaat. Sambil menikmati suara jangkrik.

Ramses
Dia nggak bisa datang.

Gita
Aduhh…oya! Sayang dong.
Gita seloah-olah menyalahkan Ramses. Kalau dia tidak mau mengajak Elena.
Mereka terdiam sesaat.

Gita
Lo mo inta apa dari gue, Ses?
Ramses
Minta apa?

Gita
Lo kan udah menangtaruhan. Gue harus konskuen sama janji gue.

Ramses
Kan gue nggak bawa lena.

Gita
Nggak pa-pa. yang penting lo menang. Gue sih percaya aja.

Ramses tetap tidak mau minta apa-apa, tetapi Gita memaksa sehingga ramses diam beberapa saat dengan hati yang bergejolak.

Ramses
Gue boleh minta apa saja?

Gita menganggukan kepalanya. Ramses menoleh.  Memandangi Gita beberapa lama. Mencoba menguasai gejolak hatinya sendiri. Dengan perlahan tapi pasti dia memajukan kepalanya dan mendaratkan sebuah kecupan lembut sangat lembut di dahi Gita.

Gita terpana. Sampai tidak bisa berkata apa-apa.

Ramses
Udah…
Itu yang gue minta, dan udah gue lakuin…

Gita
Ses….

Ramses
Gue udah putus sama Elena..
Ramses seolah-olah bisa membaca pikiran Gita. Gita makin bengong,

Ramses
Ternyata gue lebih sayang sama lo..

Gita benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Pipinya bersemu merah.  Melihat itu Ramses jadi salah tingkah. Bahwa dia telah berkata lancing. Dia kira Gita juga memilki perasaan yang sama. Padahal bukannya Gita hanya menganggap Ramses sebagai temannya saja dan tidak lebih.

Ramses
Git, sori…

Gita masih diam.

Ramses
Git, sori kalo gue kelewat lancing… gue pikir  …ah. Mungkin emang gue yang kelewat berharap.

Gita masih juga diam.

Ramses
Kita….masih berteman kan?

Gita menggangkat wajahnya. Dia tersenyum dengan manis sangat manis. Dia menggenggam tangan Ramses dan menariknya berdiri.

Gita
Gue ingin kita lebih dari temen, Ses…

Ramses benar-benar tidak percaya. Gita berjinjit dan mencium pipinya dengan lembut. Sangat lembut. Ramses menelan ludahnya. Hatinya bergejolak kencang yang menguasai dirinya. Dia memajukan wajahnya mendekati wajah Gita dan….
Gita tertawa sambil menutupi bibirnya dengan telunjuk. Mereka tertawa bersama -sama. Meskipun niat Ramses dihalangi dengan sewenang-wenang.

Gita
Yuk masuk, gue kenalin sama sodara - sodara gue…..

Gita masih tertawa geli sambil menarik tangan Ramses. Mereka menuju tempat pesta pertunangan itu……


Fade Out



























Menulis Skenario Bedasarkan Novel
Judul Novel : Taruhan
Pengarang : Arini Suryokusumo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 1992

Sinopsis
TARUHAN
Sore yang menyebalkan bagi Ramses, hari ini dia tidak bisa nonton dikarenakan tidak diperbolehkan oleh Nyokapnya kecuali dia mau merapikan kamarnya yang berantakan. Tiba-tiba Gita datang, dia mengagetkan Ramses. Mereka bercanda tak karuan, dari hal jorok sampai hal yang terbilang rahasia. Mereka berdebat kemana akan pergi sore itu. Namun tak ada satu pun yang dapat diputuskan karena Ramses yang tidak mempunyai uang. Di hari yang lain tepatnya sore hari, mereka pergi ke Internusa, pusat pertokoan yang cukup besar. Dandanan Gita yang tomboy dengan segala asesorisnya mendapat sorotan tajam dari pengunjung lain. Ramses yang disampingnya pun juga ikut-ikutan mengejeknya.
Di Internusa mereka duduk di dekat pancuran lantai dasar. Gita yang semula menjaga omongannya saat bercanda dengan Ramses, justru dia sendiri tidak tahan lagi ingin membicarakannya. Hal tersebut adalah sebuah taruhan dengan kakaknya. Taruhan itu berupa kesepakatan antara Gita dengan keempat kakaknya. taruhan itu dimulai saat Gita diejek oleh kakak-kakaknya bahwa dia tidak memiliki pacar bahkan tidak pernah membawa atau memperkenalkannya pada keluarga. Gita pun geram pada kakaknya, dia mengadakan taruhan itu. Dia akan mendapatkan pacar dalam waktu enam bulan tepatnya  pada saat pesta tunangan Mbak Egi dengan Mas Adji. Kalau Gita kalah, dia akan memberikan semua koleksi celengan beserta isinya, tisu, mobil-mobilan dan sebagainya. Sebaliknya,  jika Gita menang dia akan ditraktir kakak-kakaknya selama sebulan penuh. Apapun itu barang atau makanannya.
Ramses yang mendengar itu pun justru mengejeknya.
“Mana ada cowok yang mau sama elo?”
“Emangnya kenapa?”
“Elo kan tomboy. Dandan aja nggak bisa. Belom lagi tingkah laku lo yag mau menang sendiri. Kekanakan keras kepala. Nggak tau aturan. Belom lagi….”
“ Kata siapa?!”
“Kata gue!”
“Kayak yang laku aja!”
“Emang gue laku!”
“Siapa yang bilang?! Nggak ada deh yang sudi punya cowok macem elo!”
“Kata siapa?”
“Kata gue!”
Dan jadilah Gita dan Ramses bertaruh. Semua cara dihalalkan. Asal dalam waktu enam bulan harus dapat pacar.  Yang menang boleh meminta apapun dari yang kalah.
Satu hari setelah taruhan itu dibuat, Gita langsung melakukan saran teman sekelasnya, Santi. Sebelumnya Gita memang menceritakan pada teman-teman wanitanya untuk mencari solusi. Santi memberikan solusi kalau dia bisa mendapat cowok yang baik dan memiliki bibit, bobot dan bebet yang terjamin karena dikawinan semua akan terlihat asal orang tersebut. Dia akan ikut pergi kekawinan untuk  mencari cowok. Gita mendapat ejekan kakaknya terutama Geni, kakak ketiganya. Sebelumnya Gita memang tidak pernah memakai kebaya atau berdandan. Sampai dikawinan dia ustru bertemu dengan seoarang laki-laki jangkung dan gondrong. Dia menjailinya yang pada saat itu sang laki-laki ingin bertemu Geni , justru Gita mempermainkannya.
Karena kebinguangan ia meminta tolong pada temannya, Nella. Sambil membuka bungkusan Cadburry-nya. Nella menawarkan beberapa cowok yang mereka kenal, tetapi Gita sama sekali tidak tertarik dengan berbagai alasannya. Sampai akhirnya nella mau memperkenalkan pada sosok kakaknya. Di hari yang lain, saat Ramses sedang bercanda dengan teman - temanya, seorang temannya yang bernama Dodi tidak bisa ikut mengerjakan PR di rumah Ramses.  Dia mau menemani adik sepupunya yang sedang berlibur di rumahnya. Akhirnya Ramses menyuruh Dodi untuk mengajak Sepupunya, seorang gadis untuk ikut ke rumah Ramses saja.
Gita bertamu ke rumah Nella untuk melanjutkan konsultasinya. Tetapi yang membuka pintu kakaknya Yodi, ternyata orang yang sama, waktu dikawinan dijaili oleh Gita. Sekarang Gita dibalas oleh Yodi. Gita membalikan badan. Belum sampai pergi di dipanggil oleh suara dari dalam rumah dan itu Nella. Mereka pun masuk ke dalam. ada hal yang membuat pandangan Gita ke Yodi yang berubah drastis. Yodi mengelus-ngelus kelinci putih. Melihat itu Gita langsung tersentuh hatinya dan terpesona.
Dimulai dari itulah Gita tertarik dengan Yodi. Ternyata Yodi pun memang sudah mengincar Gita sudah lama, karena dia lebih tertarik dan penasaran pada Gita dari pada teman-teman Nella yang lainnya.
Di lain pihak Ramses yang sudah dikenalkan dengan Elena, juga mendapatkan kekaguman pada diri Elena. Ramses dan Elena semakin dekat dan banyak yang mereka ceritakan. Mereka lebih sering bertemu sehingga rasa sayang tumbuh di hati masing-masing.
Berbagai masalah pun timbul, Gita yang sudah terang-terangan mendapat perlakuan yang membuat hatinya tersentuh oleh Yodi. Yodi juga sudah menyatakan rasa sayangnya membuat hati Gita semakin tidak karuan. Sampai akhirnya dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Begitu sebaliknya Ramses yang sudah melangkah jauh, dia sudah dekat dengan orang tua Elena. Ramses sering jalan bareng dengan mereka, suruh mengantar dan membantu yang lainnya.
Setelah mereka mendapat pasangan masing-masing tidak diduga Ramses mulai merasakan kesepian. Ramses sudah jarang bertemu Gita, dia rindu saat-saat bersama Gita. Elena yang sifatnya suka ngambek, kekanakan dan suka antar sana-sini membuatnya membandingkan dengan sifat Gita. Sebaliknya Gita merasa senang dengan hadirnya Yodi, karena dia tidak pernah diperlakukan oleh seorang pria semacam itu. Namun .ada yang hadir dI dalam benaknya, dia tidak tahu kenapa dia menyayangi Yodi hanya sebatas Abang saja
Tak lama kemudian saat dia menelpon ke rumah Nella, dia diberitahu Nella bahwa Yodi meninggal karena kecelakaan. Gita yang shock terus saja menangis. Selama Satu minggu secara tidak sadar prilakunya telah berubah, bahkan seluruh anggota keluarganya tidak tahu apa yang terjadi dengan Gita. Ramses yang diberitahu Gita satu minggu setelah meninggalnya Yodi pun juga merasa prihatin dengan Gita. Gita menceritakan apa yang terjadi dengannya kepada Ramses.  Ramses memberikan solusi pada Gita.
Mulai dari itu Gita mulai merasakan bahwa Ramses lah yang  dia rindukan, dia tidak menyangka Ramses begitu lembut saat bersamanya. Pandangan dan sikapnya membuat Gita terus membayangkan Ramses. Karena sebelumnya Gita menganggap Yodi sebagai Abang, sedangkan Ramses seoarng sahabat yang sangat dekat dengannya. Perasaan Gita mulai gelagapan saat bertemu Ramses.
Dilain pihak, hubungan Elena dengan Ramses pun juga mengalami masalah. Ramses yang sekarang-sekarang ini lebih sering bertemu dengan Gita, membuat janjinya dengan Elena sering telat. Elena yang tahu hal itu, langsung menanyakan bahwa Ramses lebih sayang dia atau Gita. Ramses pun bilang kalau dia sayang kedua-duanya. Namun untuk Gita, dia sayang sebagai teman. Elena yang masih bersikukuh membuat pilihan pada Ramses. Dia harus memilih antara Gita atau Elena. Elena mengatakannya dengan persaan sedih dan mengais. Perasaan Ramses yang geram, ditahan dalam hatinya. Dia bingung harus bagaimana. Sifat Elena yang seperti itu membuat hatinya seolah berhenti.
Hari puncaknya pun datang dimana taruhan itu akan berlaku. Yaitu hari tunangan Mbak Egi dengan Mas Adji. Dengan menggunakan Kebaya, Gita bersama ketiga kakaknya sudah berada di tempat penerimaan tamu. Seluruh keluarga dan teman Mbak Egi datang semua. Sehingga membuat Gita mengeluh dengan semua yang dipakainya. Dia melirik ke pintu, yang dipikirkannya adalah Ramses yang belum datang juga.
Gita yang sudah capek dan mengeluh langsung menyelinap keluar rumah. Dia duduk di ayunan taman belakang  sambil memandangi bintang -bintang di langit. Namun yang didalam benaknya adalah Ramses. Dia pun ingin menghilangkan pikirannya itu, karena Ramses sudah mempunyai Elena. Ramses adalah seoarang sahabat. Tidak disangka Ramses datang tiba-tiba dan membuyarkan lamunannya. Akhirnya mereka berbasa-basi sebentar. Lalu Ramses mengatakan kalau dia sudah putus dengan Elena. Gita yang sudah merasa dan mengaku kalah dari taruhan itu, meminta Ramses untuk mengatakan apa yang dia inginkan darinya.
Ramses sebelumnya tidak mau apapun dari Gita. Tetapi Gita begitu bersikukuh. Akhirnya Ramses menggenggam tangan dan menarik tubuh Gita dari kursi ayunan. Ramses mencium kening Gita dengan lembut. Hal itu membuat jantung keduanya berdebar-debar. Ramses mengatakan kalau dia sayang dengan Gita. Gita yang tidak percaya dengan itu, langsung diam dan terheran-heran. Tetapi Gita menjawab bahwa dia juga sayang dengan Ramses. Akhirnya Ramses pun ditarik oleh Gita ke dalam rumah untuk diperkenalkan pada kelurganya…..

***
Deskripsi Pemain/ Tokoh Utama
1.      Ramses
Bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya bernama Seto. Ramses masih SMK, kelas 2.
Fisik                            : Tampangnya lumayan, tinggi badan 167 cm, berat 55 kg,  
                                      rambut acak - acakan dan kulit sawo matang.  
Karakter                      : Bandel, jorok, sopan terhadap orang tua, dewasa, lembut.
Costum                        : Jeans panjang dan kaos, di hari - hari biasa.
Kebiasannya lainnya   : Suka membaca majalah-majalah, sering juga majalah
                                      Playboy,  sering keluar rumah dengan Gita, dan tidak pernah
                                      merapikan kamarnya.
2.      Gita
Bungsu dari lima bersuadara. Semua saudaranya perempuan, dari yang paling tua Egi, Gayatri, Gina, Geni dan yang terakhir Gita. Dia bersekolah di Regina Pacis, kelas 2. Gita berbeda dengan kakak-kakanya, semua kakaknya feminim dan suka bawa pacar ke rumah.
Fisik                            : Cantik , mungil dan  rambut cepak serta kulitnya putih.
Karakter                      : Bandel, tomboy, keras kepala dan sedikit kekanak-kanakan
                                      serta jail.
Costum                        : Jeans belel dan kaos, di hari-hari biasa.
Kebiasaan lainnya       : Suka keluar rumah dengan Ramses, suka mengoleksi celengan
                                      dengan uang dari berbagai Negara, tisu-tisu, mobil-mobilan
                                      dan sebagainya.
3.      Yodi
Anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya bernama Nella. Yodi kuliah di fakultas kedokteran, teman dari Geni. Yodi berbeda dalam hal fisik dengan Nella. Nella mempunyai tubuh gemuk dan suka mengemil atau makan besar.
Fisik                            : Tampangnya lumayan, jangkung, kurus, dan berambut
                                      gondrong  serta kulit putih.
Karakter                      : Romantis, dewasa dan lembut.
Costum                        : Jeans panjang dan kemeja. Kalau acara santai pakai kaos dan
                                      jaket.
Kebiasaan yang lain    : Memelihara kelinci dan hewan - hewan lainnnya, kalau pergi   
                                      naik mobil.
4.      Elena
Anak tunggal. Dia mempunyai sepupu yang bernama Dodi yang tidak lain salah satu teman Ramses di sekolah. Dia masih SMP, kelas 3.
Fisik                            : Cantik, langsing dan rambutnya terurai panjang sampai
                                      pundak serta kulitnya putih.
Karakter                      : Manja, suka ngambek, dan cengeng
Costum                        : Suka memakai rok sampai bawah lutut dan kaos
Kebiasaan lainnya       : Suka pergi ke salon, suka membantu ibu di dapur, dan
                                      mengantar ibu ke mana saja.

























Biografi Penulis


Danang Mahmudi lahir pada 14 Mei 1990. Hidup di Ngawi sebagai mahasiswa di STKIP PGRI Ngawi jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sekarang ini masih di semester 7. Selama perkuliahan telah mengikuti berbagai seminar baik nasional maupun internasional yang diadakan pihak kampus dengan kerjasama dari berbagai pihak.
Karya antalogi puisi maupun cerpen juga sudah dibukukan bersama teman-teman kuliah. Meskipun tak begitu berminat pada sastra tetapi menyenangi ilmu lingustik.
Dulu sekolah di MI PSM Ngale, SMP N 3 Ngawi, SMA N 1 Kedunggalar dan sekarang masih aktif sebagai mahasiswa di STKIP PGRI Ngawi di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dari kecil sampai sekarang tinggal di Dsn. Pramesan, Ds. Ngale, Kec. Paron, Kab. Ngawi.



Skenario
TARUHAN
BERDASARKAN NOVEL TARUHAN
KARYA ARINI SURYOKUSUMO

Disusun Untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Penulisan Skenario
Oleh : Drs. Tito S Budi, M.Pd










Disusun Oleh :
DANANG MAHMUDI
08.422719
SEMESTER 7A


PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI NGAWI
JANUARI 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar