Judul
: Taruhan
Cerita
: Diambil dari Novel Taruhan
Karya Arini Suryokusumo
Penulis
: Danang Mahmudi (Jurusan Bahasa
dan Sastra Indonesia)
SKENARIO
TARUHAN
1.
INT.
Kamar Ramses - Sore
Hatinya kecut
melihat pemandangan di depannya. Benar-benar mirip kapal pecah, gerutunya
melihat keadaan kamarnya yang beratakan. Sambil menggerutu panjang-pendek, dia
menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Tak peduli kalau tempat itu sudah penuh
sesak dengan kertas-kertas dan majalah-majalah.
Ramses (V.O)
Nonton?! Good bye aja deh kalo bayarannya mesti
ngerapiin kamar! Sori aj! Mending juga nggak dikasih nonton, dah!
Beberapa saat
dia terdiam. Lalu seperti tanpa sadar dia menoleh kearah meja belajarnya.
Seperti mendapat kekuatan yang luar biasa, tiba-tiba saja dia meloncat dari
tempat tidurnya dan berlari menuju meja belajarnya. Diobrak-abrik buku dan
segala macam yang ada di atas meja tersebut, didapatkannya sebuah celengan si
Semar yang dirampas dari temannya yang bernama Gita.
Ramses (V.O)
Tanpa sadar
Ramses ngikik sendiri mengingat itu. Hi…hi..hi… derita Gita adalah kebahagiaan
Ramses… hi…hi..hi…
Lalu Ramses
menggoyang-goyang celengan itu keras-keras. Bunyinya nggak jelas. Statusnya
sayup-sayup. Dipecahnya celangan itu, Ramses shock dengan isinya. Uang lima
puluhan yang kuning…seratusan tebel dua biji…dua lembar seratusan dekil…dua
biji karet pembokat warna merah…kunci gembok yang karatan sehingga sudah tak
jelas lagi bentuknya…tiga bungkusan permen…secarik kertas dekil. Ramses membuka
gulungan kertas itu dan melihat sebuah tulisan pendek di situ.
Ramses (V.O)
Makan deh tuh
celengan! Emang gue pikirin apa ?!
Gita! Brengsek !
Fade To
2.
INT. Kamar Ramses - Sore yang Sama
Dengan perasaan
kesal, sebal dan sebagainya, sekali lagi ramses meloncat dan menjatuhkan
dirinya ke atas tempat tidurnya.
Gita (O.S)
Kok malah
tidur-tiduran, sih!!
Ramses menoleh
kaget. Sebentuk wajah mungil nongol dari balik jendela kamarnya. Sedetik
kemudian sepasang kaki sudah melangkah santai masuk kamar.
Ramses
Gile lo ! main
nongol aja! Kalo gue lagi bugil gimana?!
Gita
Huh,
ngebayanginnya aja gue udah bisa kena diare !
Melayang sebuah
majalah ke mukanya. Gita gelagapan. Sebelum melemparnya gita tertegun melihat
dan membuka majalah itu.
Ramses
Majalah playboy tu.
Gita histeris
dan menjerit-jerit kemudian mukanya memerah padam. Gita melempar kembali
majalah itu ke Ramses.
Gita
Brengsek !!!!!!
jelek lo. Jadi pergi nggak?
Ramses
Nggak !!
Nggak boleh sama
Nyokap.
Gita
Kenapa?
Ramses
Ya, pokoknya
nggak boleh. Nggak ada uang.
Gita
Ya udah. Trus gimana?
Kabur aja !
Ramses
Banknya kan
nyokap, jadi ya nggak ada uang. Yeee……cerewet. kalo nggak boleh ya nggak
dikasih uang dong
Gita
Ya udah!
Dua-duanya
bungkam. Sama-sama melotot, cemberut dan sama-sama nggak mau kalah.
Jeda
Ibu Ramses (V.O)
Seessssss!
Ramseeesss! Kamarnya sudah beres belum!!
Keduanya
meloncat kaget. Mereka berebutan lari menuju jendela dan meloncat ke luar.
Gita
Mau ke mana lo?
Gita meloncat
keluar dan Ramses yang keluar duluan jongkok santai dengan mendongak ke atas
sembari nyengir..
Ramses
Putih niyee…..
Dan sedetik
kemudian sebuah tinju melayang ke dagunya!
CUT TO
3.
EXT. Internusa - Siang
Bogor kota
kecil, tak ada pilihan lain untuk jalan-jalan selain pergi ke pusat pertokoan
itu. Jelek-jeleknya Bogor Internusa cukup lengkap juga.
4.
INT. Internusa - Siang
Mereka berdua
berpapasan dengan anak-anak SMA yang meledek Gita di Internusa, kemudian
dibahas lagi oleh Ramses sampai tiba di pinggiran air mancur lantai dasar.
Mereka duduk karena kelelahan sendiri.
Gita
Gue malu ni?
Seluruh keluarga ngeledekin.
Mbak Geni dan
mbak Ayi akan membawa pasangan masing-masing pada pertunangan mbak Egi dengan
mas Adji. Mereka mengejek Gita karena tidak bisa membawa cowok ke rumah.
Ramses
Bisa jadi…..!
Gita
Sial lo !
sangking sebelnya, gue bilang aja gue punya dan bakalan bawa cowok gue ke
pernikahan Mbak Egi.
Gita dan
kakak-kakaknya mengadakan taruhan. Kalo gita berhasil membawa cowok. Mereka
akan mentraktir semau Gita selama sebulan.
Tapi kalo nggak
bisa, segala koleksi tisu, mobil-mobilan dan celengan, harus diserahin sama
mereka.
Ramses
Soalnya nggak
mungkin elo dapat cowok. Jangankan enam bulan,
enam tahun aja nggak mungkin.
Mana ada cowok
yang mau sama elo?
Gita
Kayak elo
laku-laku aja? Siapa juga yang mau sama elo.
Ramses
Berani taruhan?
Gita
Eh…..nantangin
nih!!!!!!!!!!!?
Ok, siapa yang
dapat pacar duluan yang menang.
Yang kalah harus
mau ngikutin apa aja kemauan yang menang !
Cut To
5.
INT. Kamar Tidur Gita - pagi
Gita memandangi
wajahnya yang memantul lewat kaca. Dia berdandan dengan segala macam keperluan
perempuan. Dimulai dari rambut sampai gaun dan sepatu dia make up untuk datang kekawinan bersama keluarganya.
Gita (V.O)
Aduhhh,
bener-bener kayak orang bloon.
6.
INT. Ruang Tamu Gita - Pagi
Ketiga kakak
Gita sudah duduk di kursi menunggu Gita. Mereka menertawakan penampilan Gita
dan terheran-heran karena dia mau ikut kekawinan.
Gayatri
Tumben si bungsu
mau ikut kekawinan.
Ikut pun pasti
malu-maluin aja…..
Gina
Iya, asal tidak
malu-maluin kayak waktu kawinan tante Rina dulu. Dia memakai kaos dan jeans
belel.
Gayatri
Nggak tau deh!
Cowoknya kayak apa?
Geni
Itu kalau punya
cowok. Aku nggak sabar hartanya
diserahin ke kita.
Gita
Yang ada adalah
mbak-mbak yang akan mentraktir aku sepuasnya.
Sontak ruang
tamu sunyi, tak ada perkataan sampai ayah dan ibunya datang.
Jeda
7.
EXT. Tempat Kawinan - siang
Di temapat
kawinan ini yang datang hanya bapak-bapak, bapak-bapak, dan bapak-bapak saja.
Dia kesal dengan saran temannya yang bernama Santi.
Flash Back
Dia menerima
saran Santi saat bercerita tentang taruhan itu. Santi menyarankan untuk mencari
cowok di tempat kawinan, karena lebih terjamin dari pada yang di jalan atau
tempat umum lainnya.
Gita bertemu
dengan seoarang laki-laki jangkung dan menyapanya.
Dia mencari
Geni, justru gita mempermainkanya sebelum akhirnya bertemu dengan Geni.
8.
INT. Tempat Kawinan - siang yang sama
Gita menggerutu
dengan nada kesal. Nella nyengir-nyengir sambil makan kue - kue yang tersedia
di kawinan tersebut.
Nella
Elo juga sih
percaya dengan Santi!
Sambil makan
blackforest sebesar kepalan tangan orang dewasa. Dia bercerita tentang Santi
yang mendapat pacar lewat kawinan seperti cerita Siti Nurbaya.
Gita
Sialan Santi,
udah dibela-belain gini. Iya nih, bagaimana bisa milih kalo yang datang
bapak-bapak?
Gita
membayangkan taruhan yang hanya enam bulan dan barang-barang koleksinya
diserahkan ke kakak-kakanya juga Ramses.
Nella
Gimana kalo gue
yang carikan?
Sambil membuka
bungkusan Cadburry-nya. Nella menawarkan beberapa cowok yang mereka kenal,
tetapi Gita sama sekali tidak tertarik dengan berbagai alasannya. Sampai
akhirnya nella memperkenalkan pada sosok kakaknya.
Gita
Nggak ah,
ngg….nggak baik.
Gita kehabisan
akal. Nella pun pasrah dan menyuruh Gita untuk datang ke rumahnya sambil bawa
makanan untuk konsultasi lagi.
Cut To
9.
INT. Kelas Ramses - siang
Ramses dan
beberapa temannya suntuk mengikuti pelajaran di kelas yang panas dan
mendengarkan Pak Warto menerangkan.
Miko
Ses…Ramses
tanyain Ben dong, dia bawa buku bacaan tidak.
Miko yang berada
diujung kelas sambil antusias. Sedagkan ben duduk di depan.
Ramses
Ben, bawa buku
bacaan nggak?
Ben
Bawa !
Buku-buku itu
diberikan sambil estafet ke belakang. Bahkan bertha, cewek satu-satunya di
kelas ikut angkat bicara. Sampai ditangan Ramses buku itu di seleksi olehnya. “
Kho Ping Ho….Nick Cartner…Playboy...Wiro Sableng…dlll.
Ramses
Gue udah baca
semua!!!
Dodi
Iya nih..buku
lama semua.
Ramses
Eh…udah buat pee
r Fisika. Nanti gue ke rumah lo ya?
Dodi
Belum, nggak ah!
Dodi terdiam
Ramses
Kenapa
sih..emang ada apa?
Dodi
Sepupu gue mau
datang.nyokap-bokap lagi pergi jadi gue yang jagaian.
Dodi terdiam.
Ramses
sepupu elo cewek
ya?
Sepupu lo cantik
nggak. Kalo gitu biar kenalan aja ama gue…
Ramses yang
teringat dengan taruhan itu, berharap bisa kenal dengan sepupu Dodi.
Dodi
Dia masih es em
pe…ya tak kalah sih sama Julia Robert..hihihi
Mereka bersenda
gurau membahas sepupu Dodi dari body-nya sampai kemiripannya dengan
artis-artis.
Jeda
10.
INT. Kamar Tidur Gina - Sore
Gita menjaili
kakak tertuanya, Gina, yang sedang tiduran dengan matanya yang berkaca-kaca.
Karena habis bertengkar dengan Mas Adji.
Gita
Kuberi bunga
mawar, asalkan anterin ke rumah Nella.
Gita nyengar nyengir..
Gina
Baik-baik begini
Cuma buat dianterin…
Gina melotot dan
nyengir. Menyaut bunga dan membaca suratnya,
sorry,
I was angry,
I was jealous,
I’m sorry, I ove you….
Gita
Ini kan bunga
dari Mas Adji, tuh ada di ruang tamu sama Ibu.
Gita cekikikan
sehingga membuat Gina kesal.
Gina
Kenapa nggak
bilang dari tadi, dasar lo…
Gina meloncat
dan menerjang Gita menuju ruang tamu.setelah perbincangan yang cukup lama
antara Gina, Mas Adji dan Gita, mereka bertiga keluar rumah.
11.
ITN. Kamar Tidur Ramses - Sore
Ramses mengaca
sambil berbincang-bincang dengan kakaknya. Mereka berbincang-bincang tetang
pertunangan Gina. Akhirnya Ramses dan Mas Seto melongok ke luar jendeladan
melihat tiga makhluk itu bersendagurau dan pergi dengan forza merah.
Ramses (V.O)
Brengsek! Apa gita
benar-benar sudah dapat cowok. Apa aku batalin aja. Ah…pasti dia besar kepala
dan merasa paling hebat.
Ramses mendadak
gelisah setelah mengamati Gita dari kejauhan dan teringat oleh taruhan itu.
Gita pun sudah tidak pernah muncul dihadapannya selama setengah bulan.
Cut To
12.
EXT. Rumah Nella - Siang
Gita bertamu ke
rumah Nella untuk melanjutkan konsultasinya. Tetapi yang membuka pintu kakanya
Yodi, ternyata orang yang sama, waktu dikawinan dijaili oleh Gita. Sekarang
Gita dibalas oleh Yodi.
Gita (V.O)
Ya udah,
brengsek ni orang.
Gita membalikan
badan. Belum sampai pergi di dipanggil oleh suara dari dalam rumah dan itu
Nella. Mereka pun masuk ke dalam.
13.
INT. Kamar Tidur Nella - Sore
Mereka bercerita
tentang Pe er matemtika dan soal Yodi. Akhirnya mereka memutuskan untuk meminta
bantuan pada Yodi untuk mengerjakan pe er -nya.
Jeda
14.
INT. Ruang Tengah Rumah Nella - Sore
yang sama
Yodi
mengelus-ngelus kelinci putih. Melihat itu Gita langsung tersentuh hatinya dan
terpesona.
Nella
Mas, tolong
bantuin ngerjakan Pe Er Matematik dong.
Yodi
Emang nggak
bisa, lalu nona ini juga nggak bisa
Membawa white
board dan menyandarkannya di dinding. Gita hanya terperangah melihat ketenangan
dan sikap yang dimiliki oleh Yodi.
Cut To
15.
INT. Ruang Tengah Rumah Ramses - Sore
Dodi dan
sepupunya datang ke rumah Ramses. Ramses dikenalkan dengan sepupu Dodi yang
bernama Elena. Ramses langsung saja terperangah melihat sosok Elena yang
cantik. Ramses membayangkan segala apa yang dilihatnya pada diri Elena sebagai
makhluk yang sempurna.
Ramses
Kamu kelas
berapa?
Mengeluarkan
tampang iblisnya.
Elena
Kelas 3 SMP,
Mas…
Elena tersipu
malu dan senyum kecil.
Mereka duduk
bersebelahan di sofa sambil bercakap - cakap sampai melupakan Dodi yang
tidur-tiduran di karpet.
16.
EXT. Ruang Kelas Gita - Siang
Bel bubaran
sekolah berbunyi dan mereka keluar semua. Gita, Nella, Santi, Yovita dan Nur.
Mereka berbincang-bincang tentang cowok Santi yang memberi hadiah bunga dan
cincin kemudian berpaling pada masalah Gita. Tiba-tiba seorang cowok berambut
gondrong di lapangan basket datang ke arah mereka.
Nella
Itu kan abang
gue….
Mereka semua
terkejut kecuali Gita, terheran - heran bahkan tidak menyangka si gendut
mempunyai kakak yang keren. Gita teringat oleh perlakuan Yodi terhadap
kelinci-kelinci itu.
Yovita - Nur -
Santi
Astaga…mana
mungkin!!!!!!!!!
Yodi
Halo, Git. Mau
ikut pulang nggak?
Gita makin panik
dan gelagapan.
Kemudian Nella
mengenalkan kakaknya pada temannya. Yodi kagum dengan masing-masing teman Nella
tetapi dia tidak tertarik karena dia penasaran dengan Gita.
Santi - Nur
Kalo gitu gue
nggak pacaran dulu.
Mereka grundel .
Gita dengan Yodi
berjalan duluan mendahului mereka di depan.
Cut To
17.
INT. Ruang Tengah Ramses - Ruang Tengah
Elena - Sore
Ramses menelpon
Elena. Mereka berbincang gugup dan malu-malu. Dan berbasa-basi.
Ramses
Boleh nggak
Ramses main ke rumahu?
Sepi beberapa
saat.
Elena
Boleh…boleh..
Elena terdiam,
kemudian salah tingkah dan gelagapan.
Cut To
18.
INT. Ruang kelas Gita - Pagi
Nella - Nur -
Yovita meributkan soal Gita yang menelpon Yodi tadi malam. Pembicaraan mereka
terputus oleh adanya siswa lain yang bernama Lea. Mereka saling bercibir pedas
dengan Lea. Pada akhirnya kembali lagi ke persoalan Gita.
Gita
Gue cuma
ngobrol-ngobrol biasa aja.
Nella
Gitu aja, lalu
pake sayang-sayang. Trus ketawa keras.
Gita
Diakan temen
kuliah kakak gue. Di jurusan kedokteran. Kemarin itu, dia ketawa sama kakak
gue.
Gita gelapan
sambil menutup pembicaraan itu.
Nella
Elo suka nggak
sih sama kaka gue?
Gita
Apaan sih lo..
Gita terdiam
lagi.
19.
INT. Ruang Kelas Ramses - Pagi
Dodi menyenggol
lengan Ramses, setelah melirik ke arah Pak Warto yang tengah asyik menulis di
depan kelas.
Dodi
Elo nge-date sama sepupu gue ya?
Kemarin Elena
bilang, lo telpon dia ya?
Sebelum Ramses
menjawab, semuanya nyerobot ikut dalam pembicaraan itu. Dari Glen sampai si penggosip Bertha ikut campur dalam situasi tersebut.
Hingga berbagai macam celaan hingga sanggahan yang bikin malu masing - masing.
Ramses
Gue cuek aja !!
Belum juga
bertemu.
Kabar tersebut
membuatnya gelagapan.
Dodi
Ya nggak
pa…pa…cuman ati-ati aja sama nyokapnya.
Jeda
20.
INT. Sartika - Malam
Gita dan Yodi
pergi ke Sartika untuk membeli dompet. Sampai disana Yodi mengajak nonton film
yang akan diputar.
Yodi
Eh, Git. Ada
Dying Young. Nonton, yuk?
Ia memecah
lamunan Gita yang masih terpaku atas perlakuan Yodi.
Gita
Nonton? Berdua ?
hanya berdua dan berdua saja?
Gita gelapan dan
panas-dingin kemudian ia mengganggukan kepalanya.
Cut To
21.
INT. Ruang Tamu Rumah Elena - Malam
Ramses
berkunjung ke rumah Elena untuk main sekaligus mengajak nonton. Di ruang tamu
dia disambut oleh Ayah dan Ibu Elena yang baru pulang kekawinan.
Ramses
Kita jadi
nonton, kan.?
Elena
Iya, tapi tunggu
sebentar!
Ramses
Tunggu apa?
Dahi ramses
mengerut. Tiba-tiba ayah dan ibu Elena telah berganti baju seperti anak muda.
Kemudian mereka pergi berempat.
Ramses
Astaga!!!!!!!!!
Jeda
22.
INT. Sartika - Malam \
Di Sartika
Ramses semakin gelagapan apalagi bertemu dengan Gita yang juga nonton. Mereka
saling menghindar saat bertemu. Mereka berdua mempunyai bayangannya masing -
masing antara Gita dengan pasangannya juga Ramses dengan pasangannya
23.
INT. Kelas Ramses - Pagi
Teman - teman
Ramses menertawakan nge-date-nya keamrin. Ketika Bertha menguping
pembicaraannya dengan Dodi. Bertha langsung saja mempublikasikan pada teman
lain.
Bertha
Elo nonton
berempat??? Sama nyokap dan bokapnya!!!! Gila.
Hemmmm…….pasti
nggak bisa pa-pa.
Glen
Kasihan…jangankan
nyium, nglirik mesra aja eo udah diplototin kali, Ses?
Teman - teman
Ramses meledek abis-abisan dirinya. Sampai Dodi pun ikut geram.
Dodi
Mind
your own business!
Ramses
Tau nih!!!!!!!!!
Iya sih…Eh,
kira-kira Elena suka sama gua nggak ya?
Glen
Kalo gue aja
ditolak, apalagi elo.
Dodi
Elo nggak bisa
diem ya?
Jeda
24.
EXT. Mobil Yodi - Siang
Gita
clingak-clinguk ketika Yodi menghentikan mobilnya beberapa puluh meter dari
rumahnya.
Gita (V.O)
Aman…???
25.
INT. Mobil Yodi - Siang yang sama
Yodi bingung
kenapa dia tidak boleh mengantarnya sampai rumah. Dia takut diledekin kalau ada
apa - apanya. Tapi Yodi meberi kesan yang menyudutkan Gita dalam posisi yang
membuatnya tersentuh dan jantungnya berdebar - debar.
Yodi
Apa hanya saya
yang punya perasaan apa-apa sama kamu?
Gita
Perasaan ap..apa
?
Astaga!!!!!!
Gita salah
tingkah yang membuatnya mengeluarkan keringat dingin.
Yodi
Iya, Git ? Cuma
saya saja yang punya perasaan itu?
Gita terhanyut
dalam sentuhan yang diberikan oleh Yodi. Kedua tangannya dicium lembut dan
kedua mata yang terpejam dikecup mesra penuh perasaaan membuat hatinya semakin
berdebar - debar. Dan keringat membasahi tubuhnya. Gita pun mengatakan kalau
mau membuat kejutan kepada keluarganya tentang dirinya.
26.
INT. Ruang Tengah Rumah Ramses - Siang
Gita datang dan
mengganngu Ramses yang telah tidur-tiduran sambil membaca buku di ruang tengah.
Mereka saling meledek satu dengan lainyya sampai curi-curi pandang yang membuat
mereka saling salah tingkah.
Ramses
Ayo Git, cerita
cowok elo itu, dong.
Gita
senyum-senyum. Wajahnya berseri - seri. Seperti membayangkan suatu kejadian
yang sangat indah. Dia pun sedikit gelagapan menjawab pertanyaan Ramses yang
seolah-olah ters memburunya.
Gita
Cerita apaan?
Ramses
Ah…bodo. Oya,
dia gimana nyataian cintanya?
Dengan
kata-kata manis. Apa dengan tindakan yang bikin lo ……….?
Ramses yang
begitu penasaran dengan Gita, karena dia tidak pernah melihat Gita lembut.
Gita
Dia nggak omong
cinta kok. Udah ah !!!
Ramses
memandangi Gita. Gita malu-malu lalu Ramses memegangnya dengan lembut cukup
lama. Canda tawa yang saling memperhatikan hati, mereka sembunyikan, keadaan
Gita telah berubah sekali.
27.
INT. Ruang Tengah Rumah Gita - Malam
Gita duduk
termangu. Lalu tangannya menyentuh gagang telepon. Mengangkatnya, kemudian
menutupnya kembali.
Kegitan tersebut
dilakukannya berulang-ulang
Gita (V.O)
Telepon…jangan….telepon
…jangan
Dia bingungsaat
ingin mendapat kepastian dari Yodi. Tetapi dia selalu teringat pada Ramses.
Telinganya selalu terngingang kata Ramses. Tapi kangen Yodi berbeda dengan
Ramses.
Gita (V.O)
Yakin? Pasti
yakin? Meskipun tidak seyakin bertemu Ramses. Gue akan pancing Yodi nyatakan.
Dengan gugup
gita menelpon dan yang mengangkat adalah Nella.
Nella
Gue sebenarnya
mau telepon elo, Git. Tapi….Tapi, gue nggak sanggup.
Nella sambil
terisak-isak.
Gita
Ada apa Nell?
Nellla
Ab…Abang, Git
….Abang.
Isakan itu
berubah menjadi tangisan panjang.
Gita makin
kebingungan dan penasaran.
Lalu dia
bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa yang terjadi dengan Nella atau
keluarganya.
Cut To
28.
INT. Kamar Tidur Ramses - Siang
Ramses mondar-mandir
di kamarnya. Dia memikirkan Gita yang sudah seminggu tidak kelihatan.
Ramses (V.O)
Kenapa lagi anak
itu?
Ramses
membanting tubuhnya ke tempat tidur. Dia pun juga merasa kalau juga sibuk
dengan Si cantiknya. Mengatar kesana mengantar kesini. Lama-lama dia pun
membandingkan sifat Gita dan Elena dengan sendirinya.
Sampai akhirnya
Ramses berpikir kalu taruhan ini bisa saja membuat pertemanannya dengan gita
membuat renggang bahkan hilang.
Mama Ramses
(S.O)
Ses, ada
telepon.
29.
INT. Ruang Tengah Rumah Ramses - Siang
Ramses menerima
telepon dari Elena, dia minta untuk diantar ke Internusa bersama mamanya untuk
membeli hadiah kawinan. Mereka berbincang - bincang sampai akhirnya Ramses
menyetujui, meskipun agak - agak males.
Ramses
Iya deh, dua jam
lagi ya?
Elena
Nggak bisa satu
jaman?
Telepon yang
baru di tutup berbunyi lagi.
Telepon tersebut
dari Gita. Ramses tercekat menerima teelpon dari Gita , dia kira Gita hanya
jail atau kecentilan karena tidak langsung saja ke rumah.
Gita
Gue nggak bisa
ngelupain dia, Ses. Susaaaah banget.
Ramses
Dia ? cowok lo
itu? Kenapa?
Ramses makin
penasaran dengan apa yang dimaksudkan Gita. Dia tidak pernah melihat Gita
seperti ini.
Gita
Ses, gue nggak
bisa ngelupain dia.
Gita menutup
menelepon sedangkan Ramses bengong. Lalu tanpa berpikir dua kali, dia buru-buru
angkit dan berlari ke luar.
Jeda
30.
INT. Kamar Tidur Gita - Siang
Ramses meloncat
dari jendela yang langsung masuk ke kamar Gita juga lewat jendela. Ramses
bertanya-tanya soal teleponnya tadi.
Gita
Taruhan lo menang…
Gita terdiam.
Ramses
Kok bisa? Kan
elo…..
Gita
Abang …abang,
Ses..sudah nggak ada, mobilnya tabrakan dengan truk. Hancur…
Gita terdiam
lagi. Tanpa ekspresi…
Ramses
Cowoknya gita
…astaga!
Gue turut
berdukacita, Git.
Gita terdiam dan
meneteskan air matanya. Dia menceritakan Abang meningal seminggu yang lalu.
Ramses
Kenapa baru
bilang sekarang ?
Gita
Kenapa harus
bilang-bilang?
Ramses
Git, gue kan
temen lo, temen deket lo, apa yang lo rasain gue juga ngrasain. Elo kok
ngomongnya begitu.
Gita menatap
mata Ramses sesaat, kemudian lurus lagi. Air matanya menetes setetes dan setets
lagi. Tanpa disadari tangan Ramses meneglus rambut cepak gita. Ramses memeluk
tubuh kecil itu. erat, erat seperti tidak ingin melepaskannya kembali. Gita
merasa itu lebih dari cukup dan menumpahkan semuannya di dada Ramses.
31.
INT. Ruang Tengah Ramses - Ruang Tengah
Elena - Sore
Telepon Ramses
berbunyi lagi. Telepon itu dari Elena, Elena menayakan tentang dirinya yang
tidak datang-datang ke rumah.
Ramses
Jangan egois
begitu dong, Len. Kalau bukan Gita juga….
Elena
Gita? Gita
mana?????
Ramses
Gita itu temen
deket saya dari kecil. Tetangga samping rumah…
Gita
Tapi Mas lebih
mentingin dia daripada aku..
Ramses
Len, dia sedang
berduka cita! Masa saya harus diam saja?!!
Rames mulai
kehilangan kesabarannya. Hatinya mulai jengkel. Elena tetap menyalahkan Ramses
dengan nada kasar dan kekanakan. Sampai
Ramses menyabarkan dirinya sendiri.
Teleponnya
ditutup Elena, Ramses menelepon kembali tetapi tidak diangkat Elena. Dia berpikir
bahwa Gita lebih membutuhkan dia daripada Elena. Karena Gita lebih berarti
baginya.
Ramses (V.O)
Sebodo amat
dengan Elena.
Cut To
32.
EXT. Rumah Gita - Sore
Ramses yang
sedang mengelap sepedanya mendapat sapaan dari Geni. Kemudian mereka membicarakan
perubahan yang terjadi pada Gita dan ternyata keluarga Gita tidak tahu tentang
hubungan Gita dan Yodi. Setelah bercanda dengan Geni yang membuat kesal Ramses,
dipanggilkan Gita. Tak lama kemudian Gita keluar rumah.
Gita
Mau kemana?
Menuntun
sepedanya.
Penampilan Gita
tampak lusu, dia juga tidak terlalu semangat.
Ramses
Nonton ke
Sartika, yuk. Nonton Return to the Blue
Lagoon..
Gita
Dulu gue suka
nonton di situ sama Abang.
Gita terdiam.
Dalam pikirannya
dia mengingat masa-masa indah bersama Yodi.
Ramses
Aduh salah
gomong nih, ya udah kita ke Galaxy aja.
Kemudian mereka
berdebat mau pergi kemana dan malah ngaco satu sama lain.
Ramses
Udah deh Git,
gugurin aja….belum dua minggu kan umurnya..
Ramses ngaco
dengan tertawa geli.
Gita
Nggak tau sih, rasanya
sih baru kemarin ini..kok udah jadi?
Gita semakin
ngawur.
Mereka berdua
ngikik. Sebentar-bentar Ramses mencuri pandang ke arah Gita. Ada rasa senang
melihat Gita dapat tersenyum -atau tepatnya terkekeh - kekeh kembali. Dan
tiba-tiba saja Ramses merasa bahagia tanpa sebab yang jelas.
Cut To
33.
INT. Ruang Tamu Rumah Elena - Siang
Ramses dan Elena
bercakap-cakap tentang kesalahan paham kemarin.
Ramses
Len….
Bibir mungil itu
cemberut. Ramses menghela napas panjang.
Ramses
Mbok ya dewasa
sedikit, dong!
Elena mengangkat
kepalanya dan matanya berkaca - kaca.
Ramses
Len, jangan
menangis, dong….
Elena
Mas, Gita itu
apanya Mas, sih?
Ramses
menjelaskan dengan sangat jelas tetapi Elena tetap tidak percaya dan terus
memburu Ramses.
Elena
Mas sayang sama Gita?
Elena berkata
dengan pelan, wajahnya pun mulai memerah.
Ramses
Ya iya, dong
….ehhhhh….
Ramses langsung
membenarkan maksudnya, kalau dia sayang hanya sebagai teman saja.
Elena
Mas tau kan kalo
Elena sayang sama Mas. Mas sayang kan sama Elena?
Ramses
Iya, Mas juga
sayang sama Lena…., Sayang banget..
Sambil menelan
ludahnya, Ramses gelagapan. Lena menangis sehingga wajahnya tampak
berseri-seri. Ramses memeluk tubuh Elena, kepala Elena pun tersandar di dada
Ramses.
34.
INT. Ruang Tengah Rumah Ramses - Siang
Gita yang masih
kepikiran soal Yodi mengadu pada Ramses yang sedang makan Kentucky dan kentang
goreng.
Gita
Gue masih suka
kepikiran sama Abang, Ses…
Ramses
Jangan dipikirin
terus, Git.
Gita terdiam.
Mengambil sepotong kentang goreng.
Gita
Kayaknya rasa
kehilangan gue, rasanya bukan kehilangan seorang pacar, Ses. Tetapi sebagai
seorang kakak.
Ramses
Emang belon jadi
cowok lo..
Gita diam,
gerakannya terhenti. Ramses langsung buru-buru memperbaiki ucapannnya, karena
kalo bercandanya sudah kelewatan. Namun Gita tetap diam. Ramses pun makin nggak
enak. Justru Gita semakin mengingat Abang dengan segala perlakuannya.
Gita
Ses…
Gita mencoba
untuk menenangkan dirinya. Dia berkata sangat pelan dan hati-hati. Dia
menuangkan semua uneg-unegnya pada Ramses.
Ramses
Ap-pa?
Ramses
gelagapan.
Gita
Jadi gimana? Loe
dengerin gue nggak sih?
Ramses
Iya gue denger..
Ramses sedikit
bingung, tetapi dia menjelaskan kalau dia tidak bisa apa - apa kerena dia hanya
sebagai teman curhat bukan dirinya.
Ramses
Pada akhirnya
sepenuhnya kembali ke lo lagi. Lo yang harus memutuskan apa yang mesti lo
perbuat. Apa yang harus lo lakukan buat lo sendiri. Lo yang memutuskan, Git
bukan Gue…
Gita terdiam.
Matanya memendang Ramses. Ramses pun kembali memandang. Gita memegang tangan
Ramses.
Gita
Ma kasih ya,
Ses…buat nasehat lo.
Ramses
Ngawur aja!
Emang gue nasehatin lo apa? Gue kan cuma membeberkan situasi lo aja.
Gita
Lo ternyata baik
juga ya, Ses..
Ramses
Apaan sih lo…
Gita tersenyum
manis, ramses tidak pernah melihat gita tersenyum seperti itu.
Gita
Elo kok nggak
pernah cerita soal Elena, sih?
Ramses tertegun.
Heran kalau dia bersama Gita. Kalau tidak sama Gita, dia selalu mengingat Elena
dalam segala kegiatannya.
Gita
Ngelamun aja lo!
Cerita dong tentang Elena?
Ramses
Mau tau aja lo
model pacaran gue..
Gita terus
mendesak Ramses untuk cerita, tetapi ramses malah membuat candaan samapi
tertawa khasnya nyengir kuda kalau dia cerita tentang “keiblisannya” saat
berdua dengan Elena.
Sementara, meski Gita asik mendengarkan, sebenarnya
dadanya tengah bergejolak hebat..
Jeda
35.
INT. Kamar Tidur Ramses - Siang Yang
Sama
Gita dan Ramses
berbaring di karpet tempat tidur Ramses. Gita berbicara soal kehidupan dan
Ramses malah cuek bebek. Ramses yang membaca buku sesekali menoleh dan melirik
Gita, Gita pun sebaliknya. Gita merebut buku Ramses dan terlempar ke bawah
ranjang.
Gita
Idih!!!!!
Ngumpetin playboy kok di bawah kasur…
Kok lo nggak
kapok sih baca begituan?
Ramses
Lo mau? Gue
punya banyak.
Gita
Sori
yeee……pantang deh gue! Entar kepengen lagi.
Ramses
Pengen apaan?
Gita
Pengen baca
lagi, emangnya pengen apaan?
Gita melempar
bukunya lagi.
Ramses
Lo kenapa sih?
Gangguin aja..
Gita
Ses…
Ramses terdiam.
Lalu dia sengaja menggulingkan tubuhnya menghadap Gita. Mereka berdua saling berpandangan.
Saling memperhatikan sampai akhirnya wajah Gita bersemu merah. Gita pun
membalikan badannya dengan terburu-buru. Ramses menelan ludahnya. Dia mendapat
rasa yang sedikit resah, berdebar-debar,
tapi menyenangkan…
Ramses (V.O)
Astaga, Ramses!
Kok jagi begini! Gita temen kamu, Ses! Cuma temen saja!
Ramses
Mau ngomong apa
sih lo, Git?
Gita
Nggak, Cuma mau
gannguin lo aja.
Ramses malah
mengacak-ngacak rambut Gita dengan lembut, bukan malah menjitaknya seperti
biasanya.
Gita terperangah
melihat perlakuan Ramses. Sangat kaget, tapi juga suka.
Gita
Apa-apaan sih
lo, Ses!
Gita mencoba
galak. Ramses langsung meminta maaf. Mereka bercanda dan saling menjitak. Lalu
gita bertanya soal Elena.
Ramses
Ya ampuuuun…gue
ada janji sama Elena! gue mau ngajarin dia matematika buat ulangan besok.
Ramses melirik
jam tangannya. Dia beranjak berdiri dan buru - buru menyambar handuk.
Gita
Kok buru-buru?
Gita mendekat
dan menahan pintu kamar mandi. Ramses memandanginya dengan kebingungnan.
Ramses
Apaan, Git?
Belon tau aja
deh lo reaksi Elena kalo gue telat janji.
Gita membalas
memandang lalu tertunduk. Langsung menyingkir.
Ramses
Lo kalo mo mandi
bareng gue bilang aja dari tadi!
Gita melotot,
lalu dengan gemasnya dia menarik Ramses dan mengguyur badannya.
Ramses berteriak
protes.
Cut To
36.
INT. Kamar Tidur Gita - Sore
Gita mengeluh
panjang dan melempar bantal yang menutupi wajahnya ke langit-langit kamar. Dia
ingin membuang jauh pikiran yang membebani otaknya.
Gita (V.O)
Ramses lagi!
Ramses lagi.
Aahh sudahlah!
Percuma ! ikuti Feeling-mu, Nak. Apa sih salahnya mikirin Ramses?
Sebel betul
bayangannya terus pada Ramses.
Gita
Ramses lagi
ngapain ya sekarang?
Masak sudah sore
gini belum juga pulang dari Rumah Elena?
Sebenarnya dia
mulai risi kalau datang ke rumah Ramses duluan, ada acara ngamar, risi
dipandangi Ramses dan risi diperlakukan begitu lembut oleh Ramses.
Gita
Kok gue jadi
gini sih?!!!!!
Dia melempar
gulingnya ke arah dinding kamar.
Gita (V.O)
Huuuuuhhh!!!
Ramses kan sobat
gue! Sobat dari kecil ! kenapa gue mesti jadi begini sih?????!!!!
Gita menarik
napas panjang. Entah sejak kapan perasaan gundah gulana hadir dihatinya. Lalu
dia bertanya - taya pada dirinya
sendiri, kenapa dia baru sadar atas perlakuan Ramses dan dia mulai menyukai Ramses.
Ramses mampu mengisi kekosongan, kecewa dan sendiri terluka di hatinya. Ramses
mampu mendampinginya.
Dia teringat
Abang saat diperlakukan begitu lembut oleh Ramses, tetapi dia menganggap Abang
hanya sebatas kakak. Ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.
Geni (O.S)
Git, mo ikut ke
Rindu Alam Nggak?
Ketiga kakaknya
mengajak makan di luar. Gita melempar bantal yang menutupi wajahnya. Ternyata
mereka akan ditraktir oleh Egy, kakak tertuanya.
Gita
Dalam rangka apa
sih?
Geni
Dalam rangka melepas
masa gadisnya?
Gayatri
Emang masih
gadis?
Gina
Eh jangan kurang
ajar ya!
Gina melotot.
Seminggu lagi Mbak Egi kan udah tunangan.
Gita
Minggu depan…..
astaga!
Gita menepak
dahinya. Geni bingung dan menanyakan kenapa dengan anak itu . Gita langsung
saja melangkah keluar kamar dan menuju ruang tengah.
37.
INT. Ruang Tengah Rumah Gita - Sore
Gita menelepon
Ramses.
Ramses
Eh lo, kenapa
sih lo telepon segala. Datang aja langsung?
Gita
Males.
Ramses
Eehh….gimana sih
? belon apa-apa aja udah males, gimana kalo kita kawin nanti?
Gita tersendak
mendengar kata-kata Ramses. Terus keduanya terdiam dan Ramses nyesel
pembicaraan itu. Gita gampang tersentuh sekarang.
Ramses
Bercanda Git.
Gita
Iya, gue juga
tau? Gue Cuma mo ngengetin, kalo minggu depan tunangannya Mbak Egi.
Ramses
Hah!!! Cepet
banget!
Gita
Elo aja yang
nggak merhatiin!
Jangan lupa bawa
Elena, taruhan kita masih berlaku, lho….
Gita sudah
merasa pasrah apa yang telah terjadi. Dia tetap akan menepati janjinya. Siapa
yang menang dalam taruhan, maka dia yang mendapatkan keinginannya untuk
dikabulkan.
Ramses
Taruhan? Aduh
gita kenapa masih mikirin taruhan sih. Lupaiin aja?
Gita tetap
bersikukuh untuk meneruskan taruhan itu, meskipun dia tahu kalau dia sudah
kalah. Tetapi Ramses yang mencoba untuk menjelaskan bahwa taruhan itu konyol.
Ramses udah
tidak peduli. Tetapi Gita semakin ngotot untuk melanjutkan.
Gita
Lo pikirin aja,
mo minta apa dari gue…
Ramses
Gue nggak mo
minta apa-apa dari lo!
Gita dan Ramses
bercanda-canda sampai hadir senyum-senyum diantara mereka. Bercerita soal Kak
Seto yang masih patah hati dengan Egi.
Ramses
Eh, berhubung
gue nggak semales elo, apa mendingan gue aja yang kesana?
Gita
Boleeeh.
Hati gita
berbunga-bunga, meskipun hatinya itu ingin di tepis jauh-jauh.
Ramses
Sip, deh. Tapi
sebentar aja ya, Git. Soalnya sejam lahi gue mesti kerumah Elena.
biasaaa…urusan cewek! Dia ingin pergi ke salaon.
Bunga dihati
Gita langsung menguncup. Mereka berdebat, agar ramses tidak usah datang ke
rumah Gita, takut keterusan.
Tetapi Ramses tetap ingin datang. Akhirnya
Ramses datang, dia meletakan gagang telepon sambil tersenyum.
38.
INT. Ruang Tengah Rumah Elena - Malam
Ramses mencoba
menjelaskan tentang keterlamabatannya.
Ramses
Udah dong Len.
Masa terlambat satu jam aja, udah ngambek?
Elena hanya
menatap tanpa berkomentar, matanya berkaca-kaca dan pipinya bersemu merah.
Elena mengorek - ngorek tentang keterlambatannya.
Sampai Ramses
kebingungan sendiri. Antara marah dan kasihan, dia mencoba menengkan dirinya
sendiri.
Elena
Terus !!!
Kenapa telat?
Ramses
Tadi ke rumah
Gita dulu. Niatnya Cuma sebentar, tapi malah keterusan ngobrol.
Sori, Len.
Elena
Mas ke rumah
Gita dulu? Apa Gita demikian pentingnya sampai Lena Mas lupain?
Ramses
Len, Gita itu
Cuma teman saya saja.
Elena
Tapi mas lebih
sayang sama Gita.
Ramses
Nggak gitu, Len!
Kamu kok pikirannya jadi ngelantur begitu sih?
Elena makin
menunduk. Jari-jari lentiknya memainkan ujung roknya.
Ramses
Mas minta maaf,
Len. Sori! Kenapa sih harus dibesar besarin begini? Sabar dikit dong?
Elena
Mungkin mas
tidak tahu, aku sudah mencoba untuk sabar, Mas. Tapi bagaimana bisa mengerti
kalau waktu yang seharusnya milik kita justru menjadi milik dia?
Ramses
Tapi, Len…
Dia tersentak,
tidak mennyangka Elena bicara seperti itu.
Elena
Semua ini
akhirnya tergantung dari Mas sendiri. Mas tidak bisa memiliki semuanya. Mas
harus bisa menentukan siapa yang sebetulnya lebih Mas sayangi. Kalau Mas lebih
sayang Lena, Mas harus berjanji menjauhi Gita…
Jantung Ramses
seperti berhenti berdetak. Keringat dingin telah membasahi hamper seluruh baju
Ramses
Seluruh badannya
seolah-olah diguyur oleh air yang dingin.
Elena
Jawablah yang
jujur , Mas. Bukan untuk Elena, tapi lebih untuk Mas sendiri.
Ramses diam.
Mata Elena kembali berkaca-kaca, sambil membasuh air matanya Elena menundukkan
kepala. Kata - kata Elena yang lembut bagai menghujam tepat ke jantungnya.
Dia benar-benar
tidak tahu harus mengatakan apa!
Cut To
39.
INT. Rumah Gita - Malam
Gita mengutuk
para tamu yang datang terus menerus. Tamu yang datang dari sahabat Mbak Egi
sangat banyak. Belum lagi keluarga besar dari berbagai daerah. Gita menggerutu
terus sampai kelapanya dijitak oleh Geni dan di pelototi oleh Mbak Ayi.
Geni
Git, keluarganya
Eyang Tardji datang.
Geni tiba-tiba
menyenggol kaki Gita. Gita langsung berdiri dengan susah payah karena kebayanya
yang super ketat. Dari kejauhan rombongan Eyang, mereka berdebat dan saling
mengolok Gita yang tidak tau Eyangnya sendiri.
Wanita yang di
samping kanan Eyang Tardji - Bude
Aduuuuhh, sudah
besar-besar ya? Bentar lagi nyusul dong ya?
Gayatri
Ah, masih kuliah
kok, budhe.
Budhe
Oya? Di mana,
ya?
Gayatri
Saya masih di
FISIP UI, di jurusan kriminologi.
Budhe
Kalo yang ini
calon dokter hewan, kan?
Geni menggangguk
kecil. Lalu Gita ditanya kuliah di mana.
Gita
Masih SMA kok
Tante. Di Regina Pacis.
Mereka
berbasa-basi sebentar. Lalu Gita buru-buru duduk kembali. Sebentar-bentar
matanya melirik ke pintu masuk.
Gita (V.O)
Ramses kok belum
datang? Kenapa dia? Apa sibuk jemput Elena?
40.
EXT. Taman Belakang Rumah Gita - Malam
Gita akhinya menyelinap ke luar lewat pintu
belakang. Dengan lesu di duduk di bangku ayunan di taman belakang. Dia
menerawang bintang-bintang yang menghiasi langit.
Gita (V.O)
Ramses. Ramses.
Ramses.
Duh, kenapa yang
ada dibenakku hanya Ramses dan Ramses saja.
Gita merasa
benci terhadap dirinya sendiri. Karena tidak bisa menerima realita bahwa Ramses
hanya seorang sahabat baginya, Ramses adalah milik Elena. Gita pun
berandai-andai kalau saja taruhan itu tidak pernah terjadi mungkin dia tidak
bertemu dengan Yodi dan Ramses tidak bersama dengan Elena. Dia pasti sekarang
ini masih berdua engan Ramses. Sepasang mata kecilnya berkaca-kaca. Dia merasa kesepian. Ramses hanya seoarang
sahabat, dia sekarang milik orang lain. Dan Gita kehilangan seorang sahabat.
Ramses
Git..
Gita menoleh dan
melihat bahwa Ramses sudah ada di dekatnya.
Gita
Eh, elo!
Ngagetin gue aja!
Tumben lo rapi…
Ramses
Iya, dong. Kan
mo ketemu lo…
Gita
Norak, deh!
Ramses
memandangi Gita sehingga dia makin salah tingkah. Lalu dia meledek Ramses. Di
duduk disamping Gita.
Ramses
Lo, cantik git
kalo pake kebaya…
Gita
Iyalah iya. Gue
emang dari dulu juga udah cantik.
Mereka bercanda.
Ramses selalu tersenyum dan sebaliknya Gita. Dengan lembut Ramses menggerakan
badannya sehingga bangku ayunan yang mereka duduki mengayun pelan. Lama mereka
terdiam seperti menikmati ayunan yang bergerak dan angin malam yang berhembus.
Gita
Ses ….Elena
mana?
Ramses terdian
sesaat. Sambil menikmati suara jangkrik.
Ramses
Dia nggak bisa
datang.
Gita
Aduhh…oya!
Sayang dong.
Gita seloah-olah
menyalahkan Ramses. Kalau dia tidak mau mengajak Elena.
Mereka terdiam
sesaat.
Gita
Lo mo inta apa
dari gue, Ses?
Ramses
Minta apa?
Gita
Lo kan udah
menangtaruhan. Gue harus konskuen sama janji gue.
Ramses
Kan gue nggak
bawa lena.
Gita
Nggak pa-pa.
yang penting lo menang. Gue sih percaya aja.
Ramses tetap
tidak mau minta apa-apa, tetapi Gita memaksa sehingga ramses diam beberapa saat
dengan hati yang bergejolak.
Ramses
Gue boleh minta
apa saja?
Gita
menganggukan kepalanya. Ramses menoleh.
Memandangi Gita beberapa lama. Mencoba menguasai gejolak hatinya
sendiri. Dengan perlahan tapi pasti dia memajukan kepalanya dan mendaratkan
sebuah kecupan lembut sangat lembut di dahi Gita.
Gita terpana.
Sampai tidak bisa berkata apa-apa.
Ramses
Udah…
Itu yang gue
minta, dan udah gue lakuin…
Gita
Ses….
Ramses
Gue udah putus
sama Elena..
Ramses
seolah-olah bisa membaca pikiran Gita. Gita makin bengong,
Ramses
Ternyata gue
lebih sayang sama lo..
Gita benar-benar
tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Pipinya bersemu merah. Melihat itu Ramses jadi salah tingkah. Bahwa
dia telah berkata lancing. Dia kira Gita juga memilki perasaan yang sama.
Padahal bukannya Gita hanya menganggap Ramses sebagai temannya saja dan tidak
lebih.
Ramses
Git, sori…
Gita masih diam.
Ramses
Git, sori kalo
gue kelewat lancing… gue pikir …ah.
Mungkin emang gue yang kelewat berharap.
Gita masih juga
diam.
Ramses
Kita….masih
berteman kan?
Gita menggangkat
wajahnya. Dia tersenyum dengan manis sangat manis. Dia menggenggam tangan
Ramses dan menariknya berdiri.
Gita
Gue ingin kita
lebih dari temen, Ses…
Ramses
benar-benar tidak percaya. Gita berjinjit dan mencium pipinya dengan lembut.
Sangat lembut. Ramses menelan ludahnya. Hatinya bergejolak kencang yang
menguasai dirinya. Dia memajukan wajahnya mendekati wajah Gita dan….
Gita tertawa
sambil menutupi bibirnya dengan telunjuk. Mereka tertawa bersama -sama.
Meskipun niat Ramses dihalangi dengan sewenang-wenang.
Gita
Yuk masuk, gue
kenalin sama sodara - sodara gue…..
Gita masih
tertawa geli sambil menarik tangan Ramses. Mereka menuju tempat pesta
pertunangan itu……
Fade Out
Menulis
Skenario Bedasarkan Novel
Judul
Novel : Taruhan
Pengarang
: Arini Suryokusumo
Penerbit
: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun
Terbit : 1992
Sinopsis
TARUHAN
Sore
yang menyebalkan bagi Ramses, hari ini dia tidak bisa nonton dikarenakan tidak
diperbolehkan oleh Nyokapnya kecuali dia mau merapikan kamarnya yang
berantakan. Tiba-tiba Gita datang, dia mengagetkan Ramses. Mereka bercanda tak
karuan, dari hal jorok sampai hal yang terbilang rahasia. Mereka berdebat
kemana akan pergi sore itu. Namun tak ada satu pun yang dapat diputuskan karena
Ramses yang tidak mempunyai uang. Di hari yang lain tepatnya sore hari, mereka
pergi ke Internusa, pusat pertokoan yang cukup besar. Dandanan Gita yang tomboy
dengan segala asesorisnya mendapat sorotan tajam dari pengunjung lain. Ramses
yang disampingnya pun juga ikut-ikutan mengejeknya.
Di
Internusa mereka duduk di dekat pancuran lantai dasar. Gita yang semula menjaga
omongannya saat bercanda dengan Ramses, justru dia sendiri tidak tahan lagi
ingin membicarakannya. Hal tersebut adalah sebuah taruhan dengan kakaknya.
Taruhan itu berupa kesepakatan antara Gita dengan keempat kakaknya. taruhan itu
dimulai saat Gita diejek oleh kakak-kakaknya bahwa dia tidak memiliki pacar
bahkan tidak pernah membawa atau memperkenalkannya pada keluarga. Gita pun
geram pada kakaknya, dia mengadakan taruhan itu. Dia akan mendapatkan pacar
dalam waktu enam bulan tepatnya pada
saat pesta tunangan Mbak Egi dengan Mas Adji. Kalau Gita kalah, dia akan
memberikan semua koleksi celengan beserta isinya, tisu, mobil-mobilan dan
sebagainya. Sebaliknya, jika Gita menang
dia akan ditraktir kakak-kakaknya selama sebulan penuh. Apapun itu barang atau
makanannya.
Ramses
yang mendengar itu pun justru mengejeknya.
“Mana
ada cowok yang mau sama elo?”
“Emangnya
kenapa?”
“Elo
kan tomboy. Dandan aja nggak bisa. Belom lagi tingkah laku lo yag mau menang
sendiri. Kekanakan keras kepala. Nggak tau aturan. Belom lagi….”
“
Kata siapa?!”
“Kata
gue!”
“Kayak
yang laku aja!”
“Emang
gue laku!”
“Siapa
yang bilang?! Nggak ada deh yang sudi punya cowok macem elo!”
“Kata
siapa?”
“Kata
gue!”
Dan
jadilah Gita dan Ramses bertaruh. Semua cara dihalalkan. Asal dalam waktu enam
bulan harus dapat pacar. Yang menang
boleh meminta apapun dari yang kalah.
Satu
hari setelah taruhan itu dibuat, Gita langsung melakukan saran teman
sekelasnya, Santi. Sebelumnya Gita memang menceritakan pada teman-teman
wanitanya untuk mencari solusi. Santi memberikan solusi kalau dia bisa mendapat
cowok yang baik dan memiliki bibit, bobot dan bebet yang terjamin karena
dikawinan semua akan terlihat asal orang tersebut. Dia akan ikut pergi
kekawinan untuk mencari cowok. Gita
mendapat ejekan kakaknya terutama Geni, kakak ketiganya. Sebelumnya Gita memang
tidak pernah memakai kebaya atau berdandan. Sampai dikawinan dia ustru bertemu
dengan seoarang laki-laki jangkung dan gondrong. Dia menjailinya yang pada saat
itu sang laki-laki ingin bertemu Geni , justru Gita mempermainkannya.
Karena
kebinguangan ia meminta tolong pada temannya, Nella. Sambil membuka bungkusan
Cadburry-nya. Nella menawarkan beberapa cowok yang mereka kenal, tetapi Gita
sama sekali tidak tertarik dengan berbagai alasannya. Sampai akhirnya nella mau
memperkenalkan pada sosok kakaknya. Di hari yang lain, saat Ramses sedang
bercanda dengan teman - temanya, seorang temannya yang bernama Dodi tidak bisa
ikut mengerjakan PR di rumah Ramses. Dia
mau menemani adik sepupunya yang sedang berlibur di rumahnya. Akhirnya Ramses
menyuruh Dodi untuk mengajak Sepupunya, seorang gadis untuk ikut ke rumah
Ramses saja.
Gita bertamu ke
rumah Nella untuk melanjutkan konsultasinya. Tetapi yang membuka pintu kakaknya
Yodi, ternyata orang yang sama, waktu dikawinan dijaili oleh Gita. Sekarang
Gita dibalas oleh Yodi. Gita membalikan badan. Belum sampai pergi di dipanggil
oleh suara dari dalam rumah dan itu Nella. Mereka pun masuk ke dalam. ada hal
yang membuat pandangan Gita ke Yodi yang berubah drastis. Yodi mengelus-ngelus
kelinci putih. Melihat itu Gita langsung tersentuh hatinya dan terpesona.
Dimulai dari
itulah Gita tertarik dengan Yodi. Ternyata Yodi pun memang sudah mengincar Gita
sudah lama, karena dia lebih tertarik dan penasaran pada Gita dari pada
teman-teman Nella yang lainnya.
Di lain pihak
Ramses yang sudah dikenalkan dengan Elena, juga mendapatkan kekaguman pada diri
Elena. Ramses dan Elena semakin dekat dan banyak yang mereka ceritakan. Mereka
lebih sering bertemu sehingga rasa sayang tumbuh di hati masing-masing.
Berbagai masalah pun timbul, Gita
yang sudah terang-terangan mendapat perlakuan yang membuat hatinya tersentuh
oleh Yodi. Yodi juga sudah menyatakan rasa sayangnya membuat hati Gita semakin
tidak karuan. Sampai akhirnya dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Begitu
sebaliknya Ramses yang sudah melangkah jauh, dia sudah dekat dengan orang tua
Elena. Ramses sering jalan bareng dengan mereka, suruh mengantar dan membantu
yang lainnya.
Setelah mereka
mendapat pasangan masing-masing tidak diduga Ramses mulai merasakan kesepian.
Ramses sudah jarang bertemu Gita, dia rindu saat-saat bersama Gita. Elena yang
sifatnya suka ngambek, kekanakan dan suka antar sana-sini membuatnya
membandingkan dengan sifat Gita. Sebaliknya Gita merasa senang dengan hadirnya
Yodi, karena dia tidak pernah diperlakukan oleh seorang pria semacam itu. Namun
.ada yang hadir dI dalam benaknya, dia tidak tahu kenapa dia menyayangi Yodi
hanya sebatas Abang saja
Tak lama
kemudian saat dia menelpon ke rumah Nella, dia diberitahu Nella bahwa Yodi
meninggal karena kecelakaan. Gita yang shock terus saja menangis. Selama Satu
minggu secara tidak sadar prilakunya telah berubah, bahkan seluruh anggota
keluarganya tidak tahu apa yang terjadi dengan Gita. Ramses yang diberitahu
Gita satu minggu setelah meninggalnya Yodi pun juga merasa prihatin dengan
Gita. Gita menceritakan apa yang terjadi dengannya kepada Ramses. Ramses memberikan solusi pada Gita.
Mulai dari itu
Gita mulai merasakan bahwa Ramses lah yang
dia rindukan, dia tidak menyangka Ramses begitu lembut saat bersamanya.
Pandangan dan sikapnya membuat Gita terus membayangkan Ramses. Karena
sebelumnya Gita menganggap Yodi sebagai Abang, sedangkan Ramses seoarng sahabat
yang sangat dekat dengannya. Perasaan Gita mulai gelagapan saat bertemu Ramses.
Dilain pihak,
hubungan Elena dengan Ramses pun juga mengalami masalah. Ramses yang
sekarang-sekarang ini lebih sering bertemu dengan Gita, membuat janjinya dengan
Elena sering telat. Elena yang tahu hal itu, langsung menanyakan bahwa Ramses
lebih sayang dia atau Gita. Ramses pun bilang kalau dia sayang kedua-duanya. Namun
untuk Gita, dia sayang sebagai teman. Elena yang masih bersikukuh membuat
pilihan pada Ramses. Dia harus memilih antara Gita atau Elena. Elena
mengatakannya dengan persaan sedih dan mengais. Perasaan Ramses yang geram,
ditahan dalam hatinya. Dia bingung harus bagaimana. Sifat Elena yang seperti
itu membuat hatinya seolah berhenti.
Hari puncaknya
pun datang dimana taruhan itu akan berlaku. Yaitu hari tunangan Mbak Egi dengan
Mas Adji. Dengan menggunakan Kebaya, Gita bersama ketiga kakaknya sudah berada
di tempat penerimaan tamu. Seluruh keluarga dan teman Mbak Egi datang semua.
Sehingga membuat Gita mengeluh dengan semua yang dipakainya. Dia melirik ke
pintu, yang dipikirkannya adalah Ramses yang belum datang juga.
Gita yang sudah
capek dan mengeluh langsung menyelinap keluar rumah. Dia duduk di ayunan taman
belakang sambil memandangi bintang
-bintang di langit. Namun yang didalam benaknya adalah Ramses. Dia pun ingin
menghilangkan pikirannya itu, karena Ramses sudah mempunyai Elena. Ramses
adalah seoarang sahabat. Tidak disangka Ramses datang tiba-tiba dan membuyarkan
lamunannya. Akhirnya mereka berbasa-basi sebentar. Lalu Ramses mengatakan kalau
dia sudah putus dengan Elena. Gita yang sudah merasa dan mengaku kalah dari
taruhan itu, meminta Ramses untuk mengatakan apa yang dia inginkan darinya.
Ramses sebelumnya
tidak mau apapun dari Gita. Tetapi Gita begitu bersikukuh. Akhirnya Ramses
menggenggam tangan dan menarik tubuh Gita dari kursi ayunan. Ramses mencium
kening Gita dengan lembut. Hal itu membuat jantung keduanya berdebar-debar.
Ramses mengatakan kalau dia sayang dengan Gita. Gita yang tidak percaya dengan
itu, langsung diam dan terheran-heran. Tetapi Gita menjawab bahwa dia juga
sayang dengan Ramses. Akhirnya Ramses pun ditarik oleh Gita ke dalam rumah
untuk diperkenalkan pada kelurganya…..
***
Deskripsi Pemain/ Tokoh Utama
1. Ramses
Bungsu
dari dua bersaudara. Kakaknya bernama Seto. Ramses masih SMK, kelas 2.
Fisik
: Tampangnya lumayan,
tinggi badan 167 cm, berat 55 kg,
rambut
acak - acakan dan kulit sawo matang.
Karakter
: Bandel, jorok,
sopan terhadap orang tua, dewasa, lembut.
Costum
: Jeans panjang dan
kaos, di hari - hari biasa.
Kebiasannya
lainnya : Suka membaca majalah-majalah,
sering juga majalah
Playboy, sering keluar rumah dengan Gita, dan tidak
pernah
merapikan kamarnya.
2. Gita
Bungsu
dari lima bersuadara. Semua saudaranya perempuan, dari yang paling tua Egi,
Gayatri, Gina, Geni dan yang terakhir Gita. Dia bersekolah di Regina Pacis,
kelas 2. Gita berbeda dengan kakak-kakanya, semua kakaknya feminim dan suka
bawa pacar ke rumah.
Fisik
: Cantik ,
mungil dan rambut cepak serta kulitnya
putih.
Karakter
: Bandel, tomboy,
keras kepala dan sedikit kekanak-kanakan
serta jail.
Costum
: Jeans belel dan
kaos, di hari-hari biasa.
Kebiasaan
lainnya : Suka keluar rumah dengan
Ramses, suka mengoleksi celengan
dengan
uang dari berbagai Negara, tisu-tisu, mobil-mobilan
dan
sebagainya.
3. Yodi
Anak
sulung dari dua bersaudara. Adiknya bernama Nella. Yodi kuliah di fakultas kedokteran,
teman dari Geni. Yodi berbeda dalam hal fisik dengan Nella. Nella mempunyai
tubuh gemuk dan suka mengemil atau makan besar.
Fisik
: Tampangnya lumayan,
jangkung, kurus, dan berambut
gondrong serta kulit putih.
Karakter
: Romantis, dewasa
dan lembut.
Costum
: Jeans panjang dan
kemeja. Kalau acara santai pakai kaos dan
jaket.
Kebiasaan
yang lain : Memelihara kelinci dan
hewan - hewan lainnnya, kalau pergi
naik
mobil.
4. Elena
Anak
tunggal. Dia mempunyai sepupu yang bernama Dodi yang tidak lain salah satu
teman Ramses di sekolah. Dia masih SMP, kelas 3.
Fisik
: Cantik,
langsing dan rambutnya terurai panjang sampai
pundak serta
kulitnya putih.
Karakter
: Manja, suka
ngambek, dan cengeng
Costum
: Suka memakai rok
sampai bawah lutut dan kaos
Kebiasaan
lainnya : Suka pergi ke salon, suka
membantu ibu di dapur, dan
mengantar
ibu ke mana saja.
Biografi
Penulis
Danang Mahmudi
lahir pada 14 Mei 1990. Hidup di Ngawi sebagai mahasiswa di STKIP PGRI Ngawi
jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sekarang ini masih di semester 7. Selama
perkuliahan telah mengikuti berbagai seminar baik nasional maupun internasional
yang diadakan pihak kampus dengan kerjasama dari berbagai pihak.
Karya antalogi
puisi maupun cerpen juga sudah dibukukan bersama teman-teman kuliah. Meskipun
tak begitu berminat pada sastra tetapi menyenangi ilmu lingustik.
Dulu sekolah di
MI PSM Ngale, SMP N 3 Ngawi, SMA N 1 Kedunggalar dan sekarang masih aktif
sebagai mahasiswa di STKIP PGRI Ngawi di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dari kecil sampai
sekarang tinggal di Dsn. Pramesan, Ds. Ngale, Kec. Paron, Kab. Ngawi.
Skenario
TARUHAN
BERDASARKAN
NOVEL TARUHAN
KARYA ARINI
SURYOKUSUMO
Disusun Untuk
Memenuhi Salah
Satu Tugas Mata Kuliah Penulisan Skenario
Oleh : Drs. Tito
S Budi, M.Pd
Disusun Oleh :
DANANG MAHMUDI
08.422719
SEMESTER 7A
PROGRAM STUDI
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI NGAWI
JANUARI 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar