Mengkaji Gejala
Perkembangan Sosiologi Sastra dalam Sirkuit Distribusinya
Oleh Danang Mahmudi
ABSTRAK
Perkembangan
sastra semakin pesat di Indonesia ini, bahkan di seluruh dunia. Perkembangan tersebut dipengaruhi dan
didukung oleh pengarang, sastrawan maupun kritikus sastra yang dari tahun ke
tahun semakin kreatif dan imajinatif. Hadirnya pengarang-pengarang yang
professional membuat penerbit semakin mantap dalam memasarkan setiap karya yang
ditulis oleh mereka. Nilai karya yang dihasilkan akan diapresiasi oleh para
penyalur maupun penjaja buku yang bersedia mendistribusikan dalam bentuk
sirkuit dengan statistik yang tak beraturan. Karena juri utama, penilai sebuah
karya adalah masyarakat itu sendiri. Di
sinilah letak utama peran masyarakat sebagai harga mutlak yang hadir dalam
sosiologi sastra yang tentunya mengkaji hubungan suatu karya dengan suatu
kehidupan masyarakat itu. Pengkajian hubungan tersebut, dapat dilihat dari siklus
berikut :
Pengarang Karya Sastra/buku Penerbit Penyalur
karya/buku Masyarakat
Kata kunci : Sosiologi Sastra, Sirkuit
Distribusi Sastra, Sirkuit Sastra, Sirkuit Populer, Penyalur Buku, Kritik Sastra, Perkembangan
Sosiologi Sastra.
PENDAHULUAN
Berbicara mengenai
sosiologi, tentu yang terlintas dalam benak kita adalah interaksi atau hubungan
timbal balik antara manusia dengan manusia lain. Dengan kata lain, kajian
sosiologi menyudutkan pada aspek permasalahan yang terjadi di masyarakat.
Permasalahan tersebut dapat diartikan sebagai sosial kehidupan masyarakat, baik
dilihat dari tradisi maupun budaya yang terjadi dari kebiasaan sehari-harinya.
Pencerminan
sosiologi digambarkan sebagai ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang menunjukan
perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sosiologi didasarkan pada
kemajuan-kemajuan yang telah dicapai ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Perihal
tersebut, sosiologi dibentuk berdasarkan pengamatan bukan dari
spekulasi-spekulasi keadaan masyarakat yang hanya disusun secara sistematis dan
metodologi saja.
Sastra
dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada
suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat
istiadat zaman itu. Pengarang mengubah karyanya selaku seorang warga masyarakat
pula. Disini dapat dimengerti bahwa sastra mempunyai ketergantungan pada msyarakat
yang hidup saat itu ( saat sastra berkembang).
sosiologi sastra merupakan pengetahuan tentang sifat dan
perkembangan masyarakat dari atau mengenai sastra karya para kritikus dan
sejarawan yang terutama mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi oleh status
lapisan masyarakat tempat ia berasal, ideologi politik dan sosialnya, kondisi
ekonimi serta khalayak yang ditujunya.
Pendekatan antara masyarakat dengan sastra bisa dinilai dari
adanya karya yang dihasilkan oleh para pengarang. Seperti halnya sebuah
prestasi, menuntut adanya apresiasi dari masyarakat. Bentuk apresiasi itu
berupa penjualan buku mencapai best
seller yang melibatkan masyarakat sebagai penentu/pembaca/ pembeli
buku/hasil karya tersebut.
Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya sirkuit distribusi
yang dihadirkan dalam bentuk penyalur buku/ toko/ penjaja buku keliling maupun perpustakaan
online. Sirkuit penyaluran inilah
yang menjadi harga sebuah buku apat tersampaikan kepada msyarakat. Tetapi
terkadang masyrakat hanya melihat mereka sebagai penjual saja. Padahal mereka
lah yang membuat buku maupun pengarang tersebut dapat dikenal oleh masyarakat.
Dalam pembahasan selanjutnya akan dikaji lebih luas mengenai alur buku sampai
dikenal oleh masyarakat, yaitu dimulai dari kraya itu melalui penyaluran
karya/buku tersebut. Sehingga dapat dimasukan dalam “ Gejala Perkembangan Sosiologi Sastra
dalam Sirkuit Distribusinya”.
Ruang Lingkup Pembahasan/Pembatasan
Masalah
Ø Rumusan Pembahasan
1. Bagaimanakah
sirkuit distribusi dalam sosiologi sastra ?
2. Bagaimanakah
berlangsungnya sirkuit sastra, sirkuit populer dan pendobrak blokade dalam
sirkuit distrbusi?
3. Bagaimanakah
mengatasi masalah dalam proses sirkuit distribusi?
Ø Tujuan Pembahasan
1. Ingin
mendiskripsikan bagaimana sirkuit
distribusi dalam sosiologi sastra.
2. Ingin
mendiskripsikan bagaimana sirkuit sastra, sirkuit populer dan pendobrak blokade
dalam sirkuit distribusi.
3. Ingin
mendiskripsikan bagaimana mengatasi masalah dalam proses sirkuit distribusi.
ISI
Sirkuit distribusi merupakan penyaluran
hasil karya sastra dalam alur yang bervariasi berdasarkan kondisi perkembangan
sosiologi sastra itu sendiri. Penyaluran tersebut menjelaskan bagaimana
menawarkan sebuah hasil karya kepada masyarakat. Setiap penyaluran akan ada
batas-batas yang menjadi patokan dalam perkembangan atau pertumbuhan hasil
karya tersebut. Batas-batas itu berjalan sesuai situasi dan kondisi suatu
Negara yang dikatakan sebagai pencetus bahasa (sastra) pertama kali.
Negara-negara sebagai
penghasil sastra terbanyak atau pencetus awal disebut sebagai negara-negara
bahasa yang nantinya dibentuk dalam blok-blok tertentu. Perbatasan yang pertama
adalah perbatasan bahasa dan keadaan buta huruf. Perbatasan ini menjelaskan
hubungan antara penguasaan bahasa yang harus dipenuhi dengan keadaan masyarakat
yang mampu membaca harus ada interaksi. Di mana memahami bahasa sebuah buku dan
mampu membacanya adalah persyaratan yang wajib dipenuhi agar buku itu dapat
dipakai.
Perbatasan kedua, perbatasan nasional,
perbatasan ini menawarkan adanya sirkulasi buku yang dapat menyeluruh. Dalam
hal ini, sirkulasi tersebut dapat dilihat dari banyaknya buku-buku yang
diekspor melalui penerjemahan maupun penjualan karya secara langsung. Menurut
struktur ekonomi-sosial dari dua Negara (Inggris dan Amerika Serikat), menurut
tempat yang di duduki oleh fungsi budaya
dalam hirarki nasional, sebuah buku
tidak memiliki makna yang sama tetapi memiliki definisini yang sama.
Perbatasan ketiga, perbatasan mata uang, perbatasan
ini menegaskan pemilahan kesustraan itu dalam suatu negara atau blok bahasa
tersebut. Persoalannya, buku hanya dilihat sebagai objek materi, dalam
undang-undang dan yang dilihat hanya nilai pembuatannya. Sebenarnya, harus pula
dilihat nilai pertukaran budaya dalam lingkungan tertentu.
Perbatasan di atas tentunya
ditujukan kepada pembaca dari berbagai
kalangan. Pembaca yang mempunyai pendidikan lebih tinggi memiliki selera sastra
yang naluriah, tetapi kondisi kerja dan hidup mereka enggan untuk membaca.
Sedangkan pembaca dari kalangan rendah, kondisi keuangan lah yang menjadi
kendala, yang tidak memungkinkan mereka untuk membeli buku. Tetapi kalangan-kalangan
tersebut memiliki tipe, kualitas dan kebutuhan sastra yang sama.
Untuk pembahasan
selanjutnya akan dibahas tentang sirkuit sastra yaitu sebagai tempat pertukaran
buku sastra dan sirkuit populer yang hanya menjadi tempat penyaluran buku,
sedangkan toko buku tidak terlibat dalam “permainan” sastra.
Pergerakan sosiologi sastra
tidak hanya sebatas berjalannya ruang lingkup yang terjadi pada masyarakat yang
menjadi produsen maupun objek pemasarannya. Di sini benar-benar dikaji tentang
pertukaran buku sastra yang berkembang di dalamnya. Hal tersebut terangkum
dalam sirkuit sastra. Sirkuit ini terjalin karena adanya tumpang tindih,
metaformosis dari hasil karya dahulu ke sekarang dengan mengalami perubahan
baru.
Pertukaran itu dicermati
dari perkembangan masyarakat pada zaman berbeda. Lengkapnya masyarakat hadir
dan menjadi inspirasi para pengarang dalam mencetuskan hasil karya yang baru.
Misalanya saja, sebuah cerita novel yang isinya sebuah cerita kerajaan dan
ruang lingkupnya, menjadi sesuatu yang menarik untuk diminati pada zaman dulu.
Sekarang pada saat zaman mulai modern cerita tersebut dianggap biasa dan tidak
untuk diikuti. Para pengarang member warna baru dengan membubuhi atau
menawarkan cerita-cerita percintaan dan lain-lainnya, itu membuat masyarakat
penasaran dan berhasil menjadi best
seller. Jadi, pertukaran itulah yang menjadi nilai dalam sirkuit ini.
Hubungannya dengan penerbit
dan pengusaha toko juga terjalin erat. Pengusaha toko dan penerbit akan memilih
buku yang cocok dengan publiknya, dari diantara sejumlah tulisan yang
ditawarkan kepada mereka dari pengarang. Pembeli pengusaha toko merupakan
publik yang nyata atau klien sedangkan penerbit hanya publik perkiraan/dalam
teori.
Perbedaan tersebut dapat
dilihat sebagai berikut, bahwa naskah yang ditolak oleh penerbit berarti tidak
memiliki eksistensi sastranya, sedangkan
buku yang tidak dijual pengusaha toko sudah dan tetap akan eksis. Dengan kata
lain, penerbit menciptakan sastra sedangkan pengusaha toko buku membuat hirarki
dalam sastra tersebut.
Terdapat spesialisasi dalam
pertukaran buku sastra. Pertama, spesialisasi sebagai salah satu cara bagi toko
buku (yang sedang besarnya) untuk mengarahkan dan membatasi kegiatannya. Toko
buku menciptakan sistem kerjasama dengan suatu lembaga tertentu untuk
mengadakan pertukaran yang terjadi dalam siklus tertutup di lingkungan
masyarakat yang terbatas. Misalnya, dalam suatu lembaga membutuhkan bacaan
fungsional secara teratur dan dapat di evaluasi jumlahnya. Jadi, banyak buku
yang diberikan seperti buku klasik, teknik, agama, kedokteran dll.
Kedua, berupa spesialisasi
lain sebagai toko buku seni yang menyediakan buku bekas, sehingga dianggap sebagai
toko buku bekas. Karena diperkirakan toko buku baru lebih mengkhususkan jenis
buku daripada menjual buku bekas, karena pasar buku bekas belum diketahui
statistiknya. Toko buku tersebut juga tidak terlalu menarik untuk konsumsi
sastra karena hanya terbatas pada sekelompok pelanggan saja.
Toko buku mempunyai nilai
pertukaran tinggi dalam distribusi sastra ini. Sehingga toko buku sering
disebut sebagi bacaan sastra yang diminati oleh para pelajar dan kalangan
pekerja sebagai penyedia buku pelajaran yang lengkap. Yang paling ditakuti oeh
para pengusaha toko, penerbit dan pengarang adalah para kritikus sastra. Para
pengarang sering menjelek-jelekan mereka dan penerbit cenderung takut pada
mereka. Sebenarnya para kritikus sastra merupakan wakil dari publik. Kritikus
mempunyai kedudukan dan pendidikan yang sama dengan pembaca dalam sirkuit
sastra. Kritikus hanyalah sebagai “penyambung lidah “ suatu gagasan sastra yang
memiliki nilai objektif. Mereka menilai sebuah sastra yang dapat dikatakan
cocok atau tidak dan dikeluarkan di surat kabar ataupun kolom-kolom lainnya.
Mengenenai kritikus sastra,
sebenarnya sosiologi sastra juga sangat dipengaruhi oleh kritikus. Dalam
perkembangan sosiologi sastra, banyak tokoh kritikus sastra yang melakukan
riset dalam menjabarkan sistem sosiologi sastra itu tumbuh di masyarakat.
Bahkan ada kritikus sosiologi modern (Hippolyte Taine (1766-1817) menyebutkan
tentang sebuah pendekatan sosiologi sastra.
Dia merumuskan bahwa sosiologi sastra
sepenuhnya ilmiah dengan menggunakan metode-metode seperti yang
digunakan dalam ilmu alam dan pasti.
Pertumbuhan
sirkuit distribusi sastra tidak hanya dalam pembahsan sirkuit sastra saja, tetapi juga dijabarkan dalam sirkuit
populernya. Sirkuit populer yaitu sebagai penyaluran buku sastra, yang nantinya
akan difungsikan untuk mengatur pemasaran karya-karya tersebut.
Penyaluran buku tersebut
ditujukan secara merata kepada masyarakat dengan melakukkan distribusi, tidak
hanya pada penjualan di toko buku saja tetapi juga melalui pedagang eceran dan
toko-toko jenis toko rokok serta penjual surat kabar. Hasil tersebut memang
merata tetapi kurang memuaskan, karena sulit menerapkan kriteria minimum yang
pasti.
Keuntungan penggabungan
penjualan buku dengan barang-barang lain menempatkan buku dalam lalu lintas
kehidupan sehari-hari. Sehingga orang-orang mempunyai kesempatan untuk membaca
lebih baik dan tidak perlu kesulitan dalam mencari buku, karena buku
seolah-olah menyodorkan diri pada pembeli dan pembaca. Pembaca dapat membaca di
kios-kios koran, di toko rokok dan di kaki lima, sehingga mereka mempunyai
kesempatan atau waktu luang bisa digunakan untuk membaca.
Macam-macam buku yang
dijual tidak hanya jenis sastra saja, tetapi berbagai jenis buku seperti buku
astrologi, buku tentang ibu-ibu, buku tentang kata-kata mutiara dan lain-lain.
Buku-buku tersebut di bawa oleh penjaja keliling.
Berdasarkan perkembangan
teknologi, pemasaran atau penyaluran buku sastra mengalami perubahan, yang
tadinya melalui penjaja keliling sekarang ini sudah diambil alih oleh
majalah-majalah yang memuat berita - berita khusus dengan ilustrasi yang
memukau. Memang di sirkuit populer itu, buku
dikaitkan dengan press
sehari-hari atau majalah. Penerbit melakukan penyebaran secara lisan yaitu
dengan press tersebut, karena terbilang
sukses dan langsung mengena pada sasaran atau pembaca itu. Penyebaran press
tersebut berupa audio-visual melalui film, radio dan Koran.
Bahkan sekarang ini pemasaran/penyaluran
buku sudah masuk lewat internet, sehingga banyak sekali perpustakaan online
yang menyajikan berbagai macam buku. Hal tersebut memudahkan pembaca untuk bisa
membeli atau sekedar membaca untuk mencari referensi untuk kerja ilmiahnya.
Pemanfaatan teknologi juga digunakan sebagi transaksi jual beli, transfer atau
mengirim buku lewat internet.
Mekanisme distribusi sirkuit
populer berlangsung dengan berbagai perubahan yang mengikuti perkembangan
zaman. Sirkuit tersebut berjalan secara efisien karena di satu pihak karya yang
diciptakan telah diperiksa kemampuannya beradaptasi sosial yang langsung masuk
pada kehidupan sehari-hari pembaca populer. Kekurangan press pada sirkuit populer ini adalah bahwa semuanya
berlangsung secara sepihak, tanpa partisipasi langsung publik yang bersikap
pasif.
Perkembangan sosiologi
sastra dalam konteks sirkuit sastra dan sirkuit populer tentu mengalami suatu
kendala yang mengakibatkannya tumpang tindih antara sistem sirkuit distribusi
dengan pelakunya ( penerbit, pengarang, pengusaha toko, hasil karya, maupun
masyarakat itu sendiri). Sehingga muncullah solusi yang menjadi penerang bagi
semua pihak. Solusi itu biasa disebut Pendobrak Blokade (Blocus).
Ada
empat tipe prosedur dalam pendobrak blockade antara lain : prosedur komersial
tradisional, prosedur komersial menyimpang, peminjaman dan dirigisme. Pertama, prosedur komersial tradisional. Solusinya
adalah penerbitan edisi murah untuk buku sastra yang dapat dijual oleh penyalur-penyalur kecil. Sebenarnya blokade ini menerangkan ide
sederhana yang ingin memperluas produksi dan penyebaran sirkuit. Solusi itu bukan
lagi hal baru, tetapi telah memberikan kesuksesan pada penerbit, contohnya
penjualan edisi murah di Inggris dengan koleksi buku “penguin”.
Efektifitas buku-buku murah tak perlu diragukan
lagi. Buku-buku yang berhasil dijual dan sukses di pasaran, secara tidak
langsung telah memberikan kesempatan kepada para penulis muda berbakat untuk
mengembangkan potensi dan mengeluarkan hasil karyanya. Berdasarkan segi
prosedur komersial tradisional, buku murah hanya menguntungkan jika ditujukan
kepada publik yang cukup luas agar dapat diterbitkan dengan jumlah yang sangat
besar.
Kedua, Prosedur komersial menyimpang. Prosedur
ini menerangkan tentang solusi kelanjutan dari yang tersebut di atas. Yaitu
dengan meninggalkan cara pemasaran buku yang tradisional. Prosedur tersebut melewati tahapan yang tak dapat
dihindari, komersial yang mahal dari penerbit, distributor dan toko buku. Hal
tersebut didasarkan adanya hubungan yang jauh antara penerbit, distributor dan toko buku dengan
klien atau pembeli, sehingga komunikasi hanya sebatas tertulis. Oleh karena
itu, pengadaan iklan jauh lebih mahal daripada masuk ke sebuah toko buku.
Menurut logika usaha tersebut dihentikan dan
digantikan dengan penawaran “dari pintu ke pintu”. Itu berarti kembali usaha
penjaja buku keliling. Apa pun kebaikan penjualan dari pintu ke pintu, cara itu
tidak dapat di pandang serius sebagi alat penyebaran secara umum. Hal tersebut
dipastikan penjual-penjual akan membawa kopor-kopor besar yang berisi buku-buku
dan mungkin akan mendapat sambutan dengan cepat dan bisa menjadi tidak ramah.
Ketiga,
Pinjaman Efektifitasnya dibuktikan oleh keberhasilan cara pinjam-jual
(pengembalian buku lama diganti dengan pengembalian buku baru hanya dengan
membayar sejumlah kecil uang) di kalangan sirkuit kecil. Dalam kegiatan
pinjam-meminjam di perpustakaan yang menjadi masalah adalah stok buku, yang
keadaannya lebih gawat daripada di toko buku.di perpustakaan menjamin adanya
stok buku yang diterbitkan dan membeli buku secara teratur dan mahal.
Keempat,
Dirigisme (keterpimpinan)Prosedur ini menerangkan adanya campur tangan
pemerintah tentang penyebaran buku-buku yang akan disalurkan. Di sini
pemerintah memaksakan sastra sebagai tujuan didaktis. Karena itulah para
pedagang atau lembaga budaya, keagamaan, politik atau resmi tidak mampu
mengatur sastra populer yang hidup dan memberikan bagian dalam kehidupan
berlimpah yang dinikmati sirkuit sastra kepada sirkuit populer.
Dengan demikian dapat dilihat
bahwa ketidakseimbangan distribusi merupakan reaksi dari ketidakseimbangan
produksi, tetapi kedua ketidakseimbangan tersebut hanyalah sebagian aspek dari
masalah yang sama.
Terdapat solusi yang hadir
dari masalah tersebut. Solusi institusional jenis, “ bank sastra” untuk
produksi atau jenis “organisasi budaya” untuk distribusi hanyalah solusi
sementara. Solusinya yang pasti, seandainya bisa ditemukan solusi, hanya dapat
di temukan pada tataran perilaku kelompok manusia terhadap sastra, artinya pada
tataran konsumsi.
Gejala perkembangan sosiologi
sastra dalam sirkuit disribusinya, dapat diatasi atau dikaji berdasarkan
beberapa aspek di atas. Inti dari itu semua adalah sosiologi sastra di lingkup
sirkuit distribusinya dinyatakan dengan sistem kemasyarakatan, karena dalam sistem ini
terjadi interaksi sosial yang cenderung menghasilkan suatu kebudayaan. Dimana
di dalamnya mengatur cara manusia hidup berkelompok dan berinteraksi dalam
jalinan hidup bermasyarakat. Hal ini berpengaruh terhadap kehidupan manusia
yang mengalarni berbagai modernisasi. Manusia dalam menjalani kehidupan manusia
harus menyadari akan kefanaan hidup itu sendiri.
KESIMPULAN
Sirkuit distribusi
menerangkan bagaimana cara buku itu bisa mendapatkan apresiasi di masyarakat.
Proses penyaluran buku yang terkadang kita tidak perhatikan justru membuat
peran penting di dalam sumbangan popularitas pengarang. Hal tersebut dapat
dibuktikan dengan adanya siklus yang diterangkan dalam pembahasan sebelumnya.
Popularitas pengarang
sangat di tentukan oleh berbagai penyalur buku/hasil karya, tanpa mereka buku
tersebut tidak akan hadir di tengah-tengah masyarakat. Penyalur buku merupakan
pembeli aktif yang atau klien utama yang dapat mendobrak pengarang dan karyanya
dari pada penerbit.
Buku/hasil karya yang yang
ditolak oleh penerbit berarti tidak memiliki eksistensi sastranya, sedangkan buku yang tidak dijual pengusaha
toko sudah dan tetap akan eksis. Dengan kata lain, penerbit menciptakan sastra
sedangkan pengusaha toko buku membuat hirarki dalam sastra tersebut.
Dilihat dari sisi kritikus
sastra, sistem ini mengalami tamparan keras. Karena setiap apa yang dikeluarkan
oleh penerbit maupun penyalur buku (toko buku) akan mendapat kritikan yang
tidak tanggung-tanggung. Mau tidak mau mereka harus menerima, pada dasarnya
kritik tersebut merupakan inspirasi masyarakat pembaca karya tersebut yang
diwakilkan pada para kritikus.
Dilihat dari sirkuit
sastra, penyebaran buku menimbulkan penghamburan dan sterilisasi artinya hal
itu terjadi dikarenakan berlimpahnya produsen untuk sejumlah konsumen yang
tidak cukup banyak, permintaan yang terus-menerus
diperbaharui dalam lingkup suatu sistem atas dasar seleksi terus-menerus juga.
Sedangkan dalam sirkuit
popuer, tidak adanya produsen yang beradaptasi secara sosial dengan menyerahkan
secara inisiatif kepada distributor dan
besarnya jumlah permintaan yang anonim dan tidak langsung bernegosiasi
dengan produsen, tetapi yang mengkonsumsi sastra tersebut di satu pihak
menyebabkan kerusakan dan degradasi mekanis
bentuk-bentuk sastra yang menyebabkan hilanngnya kebebasan budaya masa.
Masalahnya seimbang, itulah
yang menjadi landasan untuk menyehatkan buku-buku sastra atau menciptakan
sastra populer yang dilihat telah memisahkan dinding antara sirkuit sastra dan
sirkuit populer. Hal tersebut, menimbulkan spekulasi yang harus adanya pengamatan yang menggunakan prosedur tertentu
untuk mendobrak blokade sosial (solusi) sastra.
DAFTAR PUSTAKA
Escarpit,
Robert. 2008. Sosiolgi Sastra.
Yayasan Obor Indonesia: Jakarta
Pusat
Bahasa Al Azhar
BIOGRAFI
Nama
: Danang Mahmudi
Tempat,
Tanggal Lahir : Ngawi, 14 Mei
1990
Jenis
kelamin : Laki-Laki
Bahasa
:
Indonesia, Jawa
Alamat
: Dsn.
Pramesan, Ds Ngale, Kec. Paron, Kab. Ngawi
Nomor
Telepon :
083845376272
Kata Mutiara : Alam memberi kita satu lidah, tetapi memberikan kita
dua
telinga, agar kita dua
kali lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Pendidikan :
Ø Madrasah Ibtidaiyah Ngale
Ø SMP Negeri 3 Ngawi
Ø SMA Negeri 1 Kedunggalar
Ø STKIP PGRI NGAWI, Prodi Bahasa Dan
Sastra Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar