Senin, 09 Juli 2012

tugas sosiologi sastra

Mengkaji Gejala Perkembangan Sosiologi Sastra dalam Sirkuit Distribusinya
Oleh Danang Mahmudi

ABSTRAK
Perkembangan sastra semakin pesat di Indonesia ini, bahkan di seluruh dunia.  Perkembangan tersebut dipengaruhi dan didukung oleh pengarang, sastrawan maupun kritikus sastra yang dari tahun ke tahun semakin kreatif dan imajinatif. Hadirnya pengarang-pengarang yang professional membuat penerbit semakin mantap dalam memasarkan setiap karya yang ditulis oleh mereka. Nilai karya yang dihasilkan akan diapresiasi oleh para penyalur maupun penjaja buku yang bersedia mendistribusikan dalam bentuk sirkuit dengan statistik yang tak beraturan. Karena juri utama, penilai sebuah karya adalah masyarakat itu sendiri.  Di sinilah letak utama peran masyarakat sebagai harga mutlak yang hadir dalam sosiologi sastra yang tentunya mengkaji hubungan suatu karya dengan suatu kehidupan masyarakat itu. Pengkajian  hubungan tersebut, dapat dilihat dari siklus berikut : 

Pengarang        Karya Sastra/buku        Penerbit         Penyalur karya/buku             Masyarakat

Kata kunci : Sosiologi Sastra, Sirkuit Distribusi Sastra, Sirkuit Sastra, Sirkuit Populer,  Penyalur Buku, Kritik Sastra, Perkembangan Sosiologi Sastra.





PENDAHULUAN
                             Berbicara mengenai sosiologi, tentu yang terlintas dalam benak kita adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara manusia dengan manusia lain. Dengan kata lain, kajian sosiologi menyudutkan pada aspek permasalahan yang terjadi di masyarakat. Permasalahan tersebut dapat diartikan sebagai sosial kehidupan masyarakat, baik dilihat dari tradisi maupun budaya yang terjadi dari kebiasaan sehari-harinya.
                             Pencerminan sosiologi digambarkan sebagai ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang menunjukan perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sosiologi didasarkan pada kemajuan-kemajuan yang telah dicapai ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Perihal tersebut, sosiologi dibentuk berdasarkan pengamatan bukan dari spekulasi-spekulasi keadaan masyarakat yang hanya disusun secara sistematis dan metodologi saja.
                             Sastra dapat dipandang sebagai  suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu. Pengarang mengubah karyanya selaku seorang warga masyarakat pula. Disini dapat dimengerti bahwa sastra mempunyai ketergantungan pada msyarakat yang hidup saat itu ( saat sastra berkembang).
sosiologi sastra merupakan pengetahuan tentang sifat dan perkembangan masyarakat dari atau mengenai sastra karya para kritikus dan sejarawan yang terutama mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat ia berasal, ideologi politik dan sosialnya, kondisi ekonimi serta khalayak yang ditujunya.
Pendekatan antara masyarakat dengan sastra bisa dinilai dari adanya karya yang dihasilkan oleh para pengarang. Seperti halnya sebuah prestasi, menuntut adanya apresiasi dari masyarakat. Bentuk apresiasi itu berupa penjualan buku mencapai best seller yang melibatkan masyarakat sebagai penentu/pembaca/ pembeli buku/hasil karya tersebut.
Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya sirkuit distribusi yang dihadirkan dalam bentuk penyalur buku/ toko/ penjaja buku keliling maupun perpustakaan online. Sirkuit penyaluran inilah yang menjadi harga sebuah buku apat tersampaikan kepada msyarakat. Tetapi terkadang masyrakat hanya melihat mereka sebagai penjual saja. Padahal mereka lah yang membuat buku maupun pengarang tersebut dapat dikenal oleh masyarakat. Dalam pembahasan selanjutnya akan dikaji lebih luas mengenai alur buku sampai dikenal oleh masyarakat, yaitu dimulai dari kraya itu melalui penyaluran karya/buku tersebut. Sehingga dapat dimasukan dalam “ Gejala Perkembangan Sosiologi Sastra  dalam Sirkuit Distribusinya”.

Ruang Lingkup Pembahasan/Pembatasan Masalah
Ø  Rumusan Pembahasan
1.      Bagaimanakah sirkuit distribusi dalam sosiologi sastra ?
2.      Bagaimanakah berlangsungnya sirkuit sastra, sirkuit populer dan pendobrak blokade dalam sirkuit distrbusi?
3.      Bagaimanakah mengatasi masalah dalam proses sirkuit distribusi?

Ø  Tujuan Pembahasan
1.      Ingin mendiskripsikan  bagaimana sirkuit distribusi dalam sosiologi sastra.
2.      Ingin mendiskripsikan bagaimana sirkuit sastra, sirkuit populer dan pendobrak blokade dalam sirkuit distribusi.
3.      Ingin mendiskripsikan bagaimana mengatasi masalah dalam proses sirkuit distribusi.










ISI

Sirkuit distribusi merupakan penyaluran hasil karya sastra dalam alur yang bervariasi berdasarkan kondisi perkembangan sosiologi sastra itu sendiri. Penyaluran tersebut menjelaskan bagaimana menawarkan sebuah hasil karya kepada masyarakat. Setiap penyaluran akan ada batas-batas yang menjadi patokan dalam perkembangan atau pertumbuhan hasil karya tersebut. Batas-batas itu berjalan sesuai situasi dan kondisi suatu Negara yang dikatakan sebagai pencetus bahasa (sastra) pertama kali.
Negara-negara sebagai penghasil sastra terbanyak atau pencetus awal disebut sebagai negara-negara bahasa yang nantinya dibentuk dalam blok-blok tertentu. Perbatasan yang pertama adalah perbatasan bahasa dan keadaan buta huruf. Perbatasan ini menjelaskan hubungan antara penguasaan bahasa yang harus dipenuhi dengan keadaan masyarakat yang mampu membaca harus ada interaksi. Di mana memahami bahasa sebuah buku dan mampu membacanya adalah persyaratan yang wajib dipenuhi agar buku itu dapat dipakai.
                     Perbatasan kedua, perbatasan nasional, perbatasan ini menawarkan adanya sirkulasi buku yang dapat menyeluruh. Dalam hal ini, sirkulasi tersebut dapat dilihat dari banyaknya buku-buku yang diekspor melalui penerjemahan maupun penjualan karya secara langsung. Menurut struktur ekonomi-sosial dari dua Negara (Inggris dan Amerika Serikat), menurut tempat yang di duduki oleh  fungsi budaya dalam hirarki nasional,  sebuah buku tidak memiliki makna yang sama tetapi memiliki definisini yang sama.
                     Perbatasan ketiga, perbatasan mata uang, perbatasan ini menegaskan pemilahan kesustraan itu dalam suatu negara atau blok bahasa tersebut. Persoalannya, buku hanya dilihat sebagai objek materi, dalam undang-undang dan yang dilihat hanya nilai pembuatannya. Sebenarnya, harus pula dilihat nilai pertukaran budaya dalam lingkungan tertentu.
                     Perbatasan di atas tentunya ditujukan kepada pembaca  dari berbagai kalangan. Pembaca yang mempunyai pendidikan lebih tinggi memiliki selera sastra yang naluriah, tetapi kondisi kerja dan hidup mereka enggan untuk membaca. Sedangkan pembaca dari kalangan rendah, kondisi keuangan lah yang menjadi kendala, yang tidak memungkinkan mereka untuk membeli buku. Tetapi kalangan-kalangan tersebut memiliki tipe, kualitas dan kebutuhan sastra yang sama.
                     Untuk pembahasan selanjutnya akan dibahas tentang sirkuit sastra yaitu sebagai tempat pertukaran buku sastra dan sirkuit populer yang hanya menjadi tempat penyaluran buku, sedangkan toko buku tidak terlibat dalam “permainan” sastra.
                     Pergerakan sosiologi sastra tidak hanya sebatas berjalannya ruang lingkup yang terjadi pada masyarakat yang menjadi produsen maupun objek pemasarannya. Di sini benar-benar dikaji tentang pertukaran buku sastra yang berkembang di dalamnya. Hal tersebut terangkum dalam sirkuit sastra. Sirkuit ini terjalin karena adanya tumpang tindih, metaformosis dari hasil karya dahulu ke sekarang dengan mengalami perubahan baru.
                     Pertukaran itu dicermati dari perkembangan masyarakat pada zaman berbeda. Lengkapnya masyarakat hadir dan menjadi inspirasi para pengarang dalam mencetuskan hasil karya yang baru. Misalanya saja, sebuah cerita novel yang isinya sebuah cerita kerajaan dan ruang lingkupnya, menjadi sesuatu yang menarik untuk diminati pada zaman dulu. Sekarang pada saat zaman mulai modern cerita tersebut dianggap biasa dan tidak untuk diikuti. Para pengarang member warna baru dengan membubuhi atau menawarkan cerita-cerita percintaan dan lain-lainnya, itu membuat masyarakat penasaran dan berhasil menjadi best seller. Jadi, pertukaran itulah yang menjadi nilai dalam sirkuit ini.
                     Hubungannya dengan penerbit dan pengusaha toko juga terjalin erat. Pengusaha toko dan penerbit akan memilih buku yang cocok dengan publiknya, dari diantara sejumlah tulisan yang ditawarkan kepada mereka dari pengarang. Pembeli pengusaha toko merupakan publik yang nyata atau klien sedangkan penerbit hanya publik perkiraan/dalam teori.
                     Perbedaan tersebut dapat dilihat sebagai berikut, bahwa naskah yang ditolak oleh penerbit berarti tidak memiliki eksistensi sastranya,  sedangkan buku yang tidak dijual pengusaha toko sudah dan tetap akan eksis. Dengan kata lain, penerbit menciptakan sastra sedangkan pengusaha toko buku membuat hirarki dalam sastra tersebut.
                     Terdapat spesialisasi dalam pertukaran buku sastra. Pertama, spesialisasi sebagai salah satu cara bagi toko buku (yang sedang besarnya) untuk mengarahkan dan membatasi kegiatannya. Toko buku menciptakan sistem kerjasama dengan suatu lembaga tertentu untuk mengadakan pertukaran yang terjadi dalam siklus tertutup di lingkungan masyarakat yang terbatas. Misalnya, dalam suatu lembaga membutuhkan bacaan fungsional secara teratur dan dapat di evaluasi jumlahnya. Jadi, banyak buku yang diberikan seperti buku klasik, teknik, agama, kedokteran dll.
                     Kedua, berupa spesialisasi lain sebagai toko buku seni yang menyediakan buku bekas, sehingga dianggap sebagai toko buku bekas. Karena diperkirakan toko buku baru lebih mengkhususkan jenis buku daripada menjual buku bekas, karena pasar buku bekas belum diketahui statistiknya. Toko buku tersebut juga tidak terlalu menarik untuk konsumsi sastra karena hanya terbatas pada sekelompok pelanggan saja.
                     Toko buku mempunyai nilai pertukaran tinggi dalam distribusi sastra ini. Sehingga toko buku sering disebut sebagi bacaan sastra yang diminati oleh para pelajar dan kalangan pekerja sebagai penyedia buku pelajaran yang lengkap. Yang paling ditakuti oeh para pengusaha toko, penerbit dan pengarang adalah para kritikus sastra. Para pengarang sering menjelek-jelekan mereka dan penerbit cenderung takut pada mereka. Sebenarnya para kritikus sastra merupakan wakil dari publik. Kritikus mempunyai kedudukan dan pendidikan yang sama dengan pembaca dalam sirkuit sastra. Kritikus hanyalah sebagai “penyambung lidah “ suatu gagasan sastra yang memiliki nilai objektif. Mereka menilai sebuah sastra yang dapat dikatakan cocok atau tidak dan dikeluarkan di surat kabar ataupun kolom-kolom lainnya.
                     Mengenenai kritikus sastra, sebenarnya sosiologi sastra juga sangat dipengaruhi oleh kritikus. Dalam perkembangan sosiologi sastra, banyak tokoh kritikus sastra yang melakukan riset dalam menjabarkan sistem sosiologi sastra itu tumbuh di masyarakat. Bahkan ada kritikus sosiologi modern (Hippolyte Taine (1766-1817) menyebutkan tentang sebuah pendekatan sosiologi sastra. Dia merumuskan bahwa sosiologi sastra  sepenuhnya ilmiah dengan menggunakan metode-metode seperti yang digunakan dalam ilmu alam dan pasti.
                     Pertumbuhan sirkuit distribusi sastra tidak hanya dalam pembahsan sirkuit sastra  saja, tetapi juga dijabarkan dalam sirkuit populernya. Sirkuit populer yaitu sebagai penyaluran buku sastra, yang nantinya akan difungsikan untuk mengatur pemasaran karya-karya tersebut.
                     Penyaluran buku tersebut ditujukan secara merata kepada masyarakat dengan melakukkan distribusi, tidak hanya pada penjualan di toko buku saja tetapi juga melalui pedagang eceran dan toko-toko jenis toko rokok serta penjual surat kabar. Hasil tersebut memang merata tetapi kurang memuaskan, karena sulit menerapkan kriteria minimum yang pasti.
                     Keuntungan penggabungan penjualan buku dengan barang-barang lain menempatkan buku dalam lalu lintas kehidupan sehari-hari. Sehingga orang-orang mempunyai kesempatan untuk membaca lebih baik dan tidak perlu kesulitan dalam mencari buku, karena buku seolah-olah menyodorkan diri pada pembeli dan pembaca. Pembaca dapat membaca di kios-kios koran, di toko rokok dan di kaki lima, sehingga mereka mempunyai kesempatan atau waktu luang bisa digunakan untuk membaca.
                     Macam-macam buku yang dijual tidak hanya jenis sastra saja, tetapi berbagai jenis buku seperti buku astrologi, buku tentang ibu-ibu, buku tentang kata-kata mutiara dan lain-lain. Buku-buku tersebut di bawa oleh penjaja keliling.
                     Berdasarkan perkembangan teknologi, pemasaran atau penyaluran buku sastra mengalami perubahan, yang tadinya melalui penjaja keliling sekarang ini sudah diambil alih oleh majalah-majalah yang memuat berita - berita khusus dengan ilustrasi yang memukau. Memang di sirkuit populer itu, buku  dikaitkan dengan  press sehari-hari atau majalah. Penerbit melakukan penyebaran secara lisan yaitu dengan press  tersebut, karena terbilang sukses dan langsung mengena pada sasaran atau pembaca itu. Penyebaran press tersebut berupa audio-visual melalui film, radio dan Koran.

                     Bahkan sekarang ini pemasaran/penyaluran buku sudah masuk lewat internet, sehingga banyak sekali perpustakaan online yang menyajikan berbagai macam buku. Hal tersebut memudahkan pembaca untuk bisa membeli atau sekedar membaca untuk mencari referensi untuk kerja ilmiahnya. Pemanfaatan teknologi juga digunakan sebagi transaksi jual beli, transfer atau mengirim buku lewat internet.
                     Mekanisme distribusi sirkuit populer berlangsung dengan berbagai perubahan yang mengikuti perkembangan zaman. Sirkuit tersebut berjalan secara efisien karena di satu pihak karya yang diciptakan telah diperiksa kemampuannya beradaptasi sosial yang langsung masuk pada kehidupan sehari-hari pembaca populer. Kekurangan press pada  sirkuit populer ini adalah bahwa semuanya berlangsung secara sepihak, tanpa partisipasi langsung publik yang bersikap pasif.
                     Perkembangan sosiologi sastra dalam konteks sirkuit sastra dan sirkuit populer tentu mengalami suatu kendala yang mengakibatkannya tumpang tindih antara sistem sirkuit distribusi dengan pelakunya ( penerbit, pengarang, pengusaha toko, hasil karya, maupun masyarakat itu sendiri). Sehingga muncullah solusi yang menjadi penerang bagi semua pihak. Solusi itu biasa disebut Pendobrak Blokade (Blocus).
                     Ada empat tipe prosedur dalam pendobrak blockade antara lain : prosedur komersial tradisional, prosedur komersial menyimpang, peminjaman dan dirigisme. Pertama, prosedur komersial tradisional. Solusinya adalah penerbitan edisi murah untuk buku sastra yang dapat dijual oleh penyalur-penyalur  kecil. Sebenarnya blokade ini menerangkan ide sederhana yang ingin memperluas produksi dan penyebaran sirkuit. Solusi itu bukan lagi hal baru, tetapi telah memberikan kesuksesan pada penerbit, contohnya penjualan edisi murah di Inggris dengan koleksi buku “penguin”.
                     Efektifitas buku-buku murah tak perlu diragukan lagi. Buku-buku yang berhasil dijual dan sukses di pasaran, secara tidak langsung telah memberikan kesempatan kepada para penulis muda berbakat untuk mengembangkan potensi dan mengeluarkan hasil karyanya. Berdasarkan segi prosedur komersial tradisional, buku murah hanya menguntungkan jika ditujukan kepada publik yang cukup luas agar dapat diterbitkan dengan jumlah yang sangat besar.
                     Kedua, Prosedur komersial menyimpang. Prosedur ini menerangkan tentang solusi kelanjutan dari yang tersebut di atas.  Yaitu  dengan meninggalkan cara pemasaran buku yang tradisional.  Prosedur tersebut melewati tahapan yang tak dapat dihindari, komersial yang mahal dari penerbit, distributor dan toko buku. Hal tersebut didasarkan adanya hubungan yang jauh antara  penerbit, distributor dan toko buku dengan klien atau pembeli, sehingga komunikasi hanya sebatas tertulis. Oleh karena itu, pengadaan iklan jauh lebih mahal daripada masuk ke sebuah toko buku.
                   Menurut logika usaha tersebut dihentikan dan digantikan dengan penawaran “dari pintu ke pintu”. Itu berarti kembali usaha penjaja buku keliling. Apa pun kebaikan penjualan dari pintu ke pintu, cara itu tidak dapat di pandang serius sebagi alat penyebaran secara umum. Hal tersebut dipastikan penjual-penjual akan membawa kopor-kopor besar yang berisi buku-buku dan mungkin akan mendapat sambutan dengan cepat dan bisa menjadi tidak ramah.
                   Ketiga, Pinjaman Efektifitasnya dibuktikan oleh keberhasilan cara pinjam-jual (pengembalian buku lama diganti dengan pengembalian buku baru hanya dengan membayar sejumlah kecil uang) di kalangan sirkuit kecil. Dalam kegiatan pinjam-meminjam di perpustakaan yang menjadi masalah adalah stok buku, yang keadaannya lebih gawat daripada di toko buku.di perpustakaan menjamin adanya stok buku yang diterbitkan dan membeli buku secara teratur dan mahal.
                   Keempat, Dirigisme (keterpimpinan)Prosedur ini menerangkan adanya campur tangan pemerintah tentang penyebaran buku-buku yang akan disalurkan. Di sini pemerintah memaksakan sastra sebagai tujuan didaktis. Karena itulah para pedagang atau lembaga budaya, keagamaan, politik atau resmi tidak mampu mengatur sastra populer yang hidup dan memberikan bagian dalam kehidupan berlimpah yang dinikmati sirkuit sastra kepada sirkuit populer.

                   Dengan demikian dapat dilihat bahwa ketidakseimbangan distribusi merupakan reaksi dari ketidakseimbangan produksi, tetapi kedua ketidakseimbangan tersebut hanyalah sebagian aspek dari masalah yang sama.
                   Terdapat solusi yang hadir dari masalah tersebut. Solusi institusional jenis, “ bank sastra” untuk produksi atau jenis “organisasi budaya” untuk distribusi hanyalah solusi sementara. Solusinya yang pasti, seandainya bisa ditemukan solusi, hanya dapat di temukan pada tataran perilaku kelompok manusia terhadap sastra, artinya pada tataran konsumsi. 
                   Gejala perkembangan sosiologi sastra dalam sirkuit disribusinya, dapat diatasi atau dikaji berdasarkan beberapa aspek di atas. Inti dari itu semua adalah sosiologi sastra di lingkup sirkuit distribusinya dinyatakan dengan sistem kemasyarakatan, karena dalam sistem ini terjadi interaksi sosial yang cenderung menghasilkan suatu kebudayaan. Dimana di dalamnya mengatur cara manusia hidup berkelompok dan berinteraksi dalam jalinan hidup bermasyarakat. Hal ini berpengaruh terhadap kehidupan manusia yang mengalarni berbagai modernisasi. Manusia dalam menjalani kehidupan manusia harus menyadari akan kefanaan hidup itu sendiri.

















KESIMPULAN

                     Sirkuit distribusi menerangkan bagaimana cara buku itu bisa mendapatkan apresiasi di masyarakat. Proses penyaluran buku yang terkadang kita tidak perhatikan justru membuat peran penting di dalam sumbangan popularitas pengarang. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya siklus yang diterangkan dalam pembahasan sebelumnya.
                     Popularitas pengarang sangat di tentukan oleh berbagai penyalur buku/hasil karya, tanpa mereka buku tersebut tidak akan hadir di tengah-tengah masyarakat. Penyalur buku merupakan pembeli aktif yang atau klien utama yang dapat mendobrak pengarang dan karyanya dari pada penerbit.
                     Buku/hasil karya yang yang ditolak oleh penerbit berarti tidak memiliki eksistensi sastranya,  sedangkan buku yang tidak dijual pengusaha toko sudah dan tetap akan eksis. Dengan kata lain, penerbit menciptakan sastra sedangkan pengusaha toko buku membuat hirarki dalam sastra tersebut.
                     Dilihat dari sisi kritikus sastra, sistem ini mengalami tamparan keras. Karena setiap apa yang dikeluarkan oleh penerbit maupun penyalur buku (toko buku) akan mendapat kritikan yang tidak tanggung-tanggung. Mau tidak mau mereka harus menerima, pada dasarnya kritik tersebut merupakan inspirasi masyarakat pembaca karya tersebut yang diwakilkan pada para kritikus.
                     Dilihat dari sirkuit sastra, penyebaran buku menimbulkan penghamburan dan sterilisasi artinya hal itu terjadi dikarenakan berlimpahnya produsen untuk sejumlah konsumen yang tidak cukup banyak,  permintaan yang terus-menerus diperbaharui dalam lingkup suatu sistem atas dasar seleksi terus-menerus juga.
                     Sedangkan dalam sirkuit popuer, tidak adanya produsen yang beradaptasi secara sosial dengan menyerahkan secara inisiatif kepada distributor dan  besarnya jumlah permintaan yang anonim dan tidak langsung bernegosiasi dengan produsen, tetapi yang mengkonsumsi sastra tersebut di satu pihak menyebabkan kerusakan dan degradasi mekanis  bentuk-bentuk sastra yang menyebabkan hilanngnya kebebasan budaya masa.
                     Masalahnya seimbang, itulah yang menjadi landasan untuk menyehatkan buku-buku sastra atau menciptakan sastra populer yang dilihat telah memisahkan dinding antara sirkuit sastra dan sirkuit populer. Hal tersebut, menimbulkan spekulasi yang harus adanya  pengamatan yang menggunakan prosedur tertentu untuk mendobrak blokade sosial (solusi) sastra.
DAFTAR PUSTAKA

Escarpit, Robert. 2008. Sosiolgi Sastra. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta
Pusat Bahasa Al Azhar















BIOGRAFI

Nama                                       : Danang Mahmudi
Tempat, Tanggal Lahir            : Ngawi, 14 Mei 1990
Jenis kelamin                           : Laki-Laki
Bahasa                                     : Indonesia, Jawa
Alamat                                    : Dsn. Pramesan, Ds Ngale, Kec. Paron, Kab. Ngawi
Nomor Telepon                       : 083845376272
Kata Mutiara                           : Alam memberi kita satu lidah, tetapi memberikan kita dua
telinga, agar kita dua kali lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Pendidikan                              :
Ø  Madrasah Ibtidaiyah Ngale
Ø  SMP Negeri 3 Ngawi
Ø  SMA Negeri 1 Kedunggalar
Ø  STKIP PGRI NGAWI, Prodi Bahasa Dan Sastra Indonesia



Tidak ada komentar:

Posting Komentar